Kolokium Sains Komunikasi dan Pengembangan Masyarakat, Institut Pertanian Bogor

Pengaruh Perubahan Struktur Agraria Akibat Konversi Lahan terhadap Kesejahteraan Masyarakat (Studi Kasus: Desa Tambak, Kecamatan Kibin, Kabupaten Serang, Propinsi Banten)

Posted by kolokium kpm ipb pada 11 April 2009

MAKALAH KOLOKIUM

Nama Pemrasaran/NRP

:

Egi Massardy/I34052453

Mayor

:

Sains Komunikasi dan Pengembangan Masyarakat

Pembahas

:

Edu Darmantio

Dosen Pembimbing/NIP

:

Prof. Dr. Endriatmo Soetarto,MA/131610288

Judul Rencana Penelitian

:

Pengaruh Perubahan Struktur Agraria Akibat Konversi Lahan terhadap Kesejahteraan Masyarakat (Studi Kasus: Desa Tambak, Kecamatan Kibin, Kabupaten Serang, Propinsi Banten)

Ruangan/Tanggal/Waktu

:

KPM 414/ 14 April 2009/ 13.30 WIB

BAB I

PENDAHULUAN

1.1 Latar Belakang

Kebijakan pemerintah menyangkut pertanian ternyata sebagian besarnya tidak berpihak pada sektor itu sendiri. Hal ini dicerminkan dengan makin maraknya konversi lahan pertanian menjadi lahan non pertanian. Selain itu, jumlah penduduk yang semakin meningkat juga mengakibatkan kebutuhan akan lahan semakin meningkat padahal jumlah lahan tidak pernah berubah. Lahan pertanian menjadi korban untuk memenuhi kebutuhan lahan penduduk Indonesia.

Pembangunan daerah, dalam kaitannya dengan pelaksanaan otonomi daerah yang dicanangkan pada tahun 2001 sebagaimana diatur dalam UU No. 3/2004, dihadapkan pada paradigma baru. Paradigma lama yang sentralistik telah menempatkan daerah daerah hanya sebagai objek dalam pembangunan, maka setelah otonomi menjadi paradigma era daerah membangun dengan kenyataan ini bisa berdampak pada peningkatan intensitas investasi. Propinsi Banten yang ditetapkan menjadi propinsi pada tanggal 4 Oktober 2000 memberikan peluang baru pada peningkatan fungsi dan peran Kabupaten Serang dalam lingkup regional propinsi.

Menurut Kustiawan (1997), konversi lahan berarti alih fungsi atau mutasi lahan secara umum menyangkut transformasi dalam pengalokasian sumberdaya lahan dari satu penggunaan ke penggunaan lainnya. Secara umum kasus yang tercantum pada bagian sebelumnya menjelaskan hal yang serupa seperti pengubahan fungsi sawah menjadi kawasan pemukiman.

Konversi lahan sawah banyak terjadi di Pulau Jawa yaitu di bagian Pantura yang merupakan lumbung padi Indonesia, khususnya di Pantura Jawa Barat (Tangerang, Bekasi, Serang, dan karawang). Lahan pertanian yang subur tersebut dikonversi menjadi perumahan, industri, dan prasarana yang luasnya lebih besar bila dibandingkan dengan perluasan sawah baru. Hal ini menyebabkan luas sawah mengalami penyusutan yang cukup besar.

Konversi lahan pertanian pada dasarnya terjadi akibat adanya persaingan dalam pemanfaatan lahan antara sektor pertanian dan sektor nonpertanian yang muncul akibat adanya tiga fenomena ekonomi dan sosial, yaitu keterbatasan sumber daya alam, pertumbuhan penduduk, dan pertumbuhan ekonomi. Luas lahan tidak akan pernah bertambah luas akan tetapi permintaan terhadap tanah terus meningkat untuk sektor nonpertanian. Proses konversi yang terjadi di Indonesia dari tahun ke tahun menunjukan jumlah yang semakin meningkat. Hal ini akan berdampak pada berkurangnya jumlah lahan untuk pertanian dan berubahnya mata pencaharian penduduk yang biasanya bertani.

1.2 Perumusan Masalah

Berdasarkan latar belakang yang dikemukakan, maka permasalahan penelitian sebagai berikut :

1. Faktor apa sajakah yang mempengaruhi terjadinya konversi lahan?

2. Bagaimanakah pengaruh perubahan penguasaan lahan pertanian menjadi kawasan industri terhadap kondisi sosial ekonomi dan kesejahteraan masyarakat?

1.3 Tujuan Penelitian

Adapun tujuan dari penelitian ini adalah :

1. Untuk mengetahui faktor-faktor yang menyebabkan terjadinya konversi lahan.

2. Untuk mendeskripsikan pengaruh perubahan penguasaan pertanian menjadi kawasan industri terhadap kondisi sosial ekonomi dan kesejahteraan masyarakat.

1.4 Kegunaan Penelitian

Penelitian ini diharapkan berguna bagi sebagai literatur untuk kegiatan-kegiatan penelitian selanjutnya dan dapat menambah atau mengakumulasi pengetahuan tentang permasalahan perubahan penguasaan lahan pertanian menjadi kawasan industri terhadap kondisi sosial ekonomi dan kesejahteraan masyarakat.

BAB II

TINJAUAN TEORITIS

2.1 Tinjauan Pustaka

2.1.1 Konsep Agraria

Pengertian agraria seperti yang tercantum dalam UUPA 1960 (UU no 5/1960) (Sitorus 2002) adalah Seluruh bumi, air dan ruang angkasa, termasuk kekayaan alam yang terkandung di dalamnya dalam wilayah Republik Indonesia sebagai Karunia Tuhan Yang Maha Esa adalah bumi, air dan ruang angkasa Bangsa Indonesia dan merupakan kekayaan nasional.

Selanjutnya dari pengertian di atas Sitorus (2002) menyimpulkan bahwa jenis-jenis sumber agraria meliputi :

1. Tanah atau permukaan bumi, yang merupakan modal alami utama dari pertanian dan peternakan.

2. Perairan, yang merupakan modal alami dalam kegiatan perikanan.

3. Hutan, merupakan modal alami utama dalam kegiatan ekonomi komunitas perhutanan.

4. Bahan tambang, yang terkandung di “tubuh bumi”.

5. Udara, yang termasuk juga materi “udara” sendiri.

Dalam memanfaatkan sumber-sumber agraria tersebut antara pengguna/subjek agraria yaitu komunitas, pemerintah dan swasta menimbulkan bentuk hubungan antara ketiganya melalui institusi penguasaan/pemilikan. Dalam hubungan-hubungan itu akan menimbulkan kepentingan-kepentingan sosial ekonomi masing-masing subjek berkenaan dengan penguasaan/ pemilikan dan pemanfaatan sumber-sumber agraria tersebut. Bentuk dari hubungan ini adalah hubungan sosial atau hubungan sosial agraria yang berpangkal pada akses (penguasaan, pemilikan, penggunaan) terhadap sumber agraria. (Sitorus 2002)

i34052087-a1

Struktur agraria dapat mempengaruhi munculnya hubungan sosial agraris yang berbeda antara satu tipe struktur agraria dengan tipe struktur agraria lain. Ada tiga macam struktur agraria yaitu:

1. Tipe Kapitalis: sumber-sumber agraria dikuasai oleh non-penggarap (perusahaan)

2. Tipe Sosialis : sumber-sumber agraria dikuasai oleh negara/kelompok pekerja

3. Tipe Populis/Neo-Populis: sumber-sumber agraria dikuasai oleh keluarga/ rumah tangga penguna. (Wiradi 1998, dalam Sitorus 2002).

Struktur agraria yaitu[1] Suatu fakta yang menunjuk kepada fakta kehadiran minoritas golongan atau lapisan sosial yang menguasai lahan yang luas di satu pihak dan mayoritas golongan yang menguasai hanya sedikit atau bahkan tanpa tanah sama sekali di lain pihak.

2.1.2 Konversi Lahan

Menurut Utomo, dkk (1992), konversi lahan dapat diartikan sebagai berubahnya fungsi sebagian atau seluruh kawasan dari fungsinya semula seperti direncanakan menjadi fungsi lain yang berdampak negatif terhadap lingkungan dan potensi lahan itu sendiri. Sebagai contoh yaitu berubahnya peruntukan fungsi lahan persawahan beririgasi menjadi lahan industri, dan fungsi lindung menjadi lahan pemukiman. Hal ini sejalan dengan penelitian di Desa Sintuwu dan Desa Berdikari dimana lahan yang dikonversi merupakan kawasan hutan lindung yang kemudian dijadikan kawasan pemukiman oleh mereka.

Menurut Kustiawan (1997), konversi lahan berarti alih fungsi atau mutasi lahan secara umum menyangkut transformasi dalam pengalokasian sumberdaya lahan dari satu penggunaan ke penggunaan lainnya. Secara umum kasus yang tercantum pada bagian sebelumnya menjelaskan hal yang serupa seperti pengubahan fungsi sawah menjadi kawasan pemukiman.

Berdasarkan fakta empirik di lapangan, ada dua jenis proses konversi lahan sawah, yaitu konversi sawah yang langsung dilakukan oleh petani pemilik lahan dan yang dilakukan oleh bukan petani lewat proses penjualan. Sebagian besar konversi lahan sawah tidak dilakukan secara langsung oleh petani tetapi oleh pihak lain yaitu pembeli. Konversi yang dilakukan langsung oleh petani luasannya sangat kecil. Hampir 70 persen proses jual beli lahan sawah melibatkan pemerintah, yaitu ijin lokasi dan ijin pembebasan lahan.

Proses konversi yang melalui proses penjualan lahan sawah berlangsung melalui dua pola, yaitu pola dimana kedudukan petani sebagai penjual bersifat monopoli sedang pembeli bersifat monopsoni, hal ini terjadi karena pasar lahan adalah sangat tersegmentasi bahkan cenderung terjadi asimetrik informasi diantara keduanya. Sehingga struktur pasar yang terbentuk lebih menekankan pada kekuatan bargaining. Sedangkan tipe yang kedua adalah konversi lahan dengan bentuk monopsoni. Keterlibatan pemerintah dimungkinkan karena kedudukan pemerintah sebagai planner yang bertugas mengalokasikan lahan, dimana secara teoritis harus disesuaikan dengan data kesesuaian lahan suatu daerah lewat rencana tata ruang wilayahnya.

Berdasarkan faktor-faktor penggerak utama konversi lahan, pelaku, pemanfaatan dan proses konversi, maka tipologi konversi terbagi menjadi tujuh tipologi, yaitu (Sihaloho, 2004):

1) Konversi gradual-berpola sporadik, pola konversi yang diakibatkan oleh dua faktor penggerak utama yaitu lahan yang tidak/kurang produktif/bermanfaat secara ekonomi dan keterdesakan pelaku konversi.

2) Konversi sisitematik berpola enclave, pola konversi yang mencakup wilayah dalam bentuk sehamparan tanah secara serentak dalam waktu yang relatif sama.

3) Konversi adaptif demografi, pola konversi yang terjadi karena kebutuhan tempat tinggal/pemukiman akibat adanya pertumbuhan pendudukan.

4) Konversi yang disebabkan oleh masalah sosial, pola konversi yang terjadi karena motivasi untuk berubah dari kondisi lama untuk keluar dari sektor pertanian utama.

5) Konversi tanpa beban, pola konversi yang dilakukan oleh pelaku untuk melakukan aktivitas menjual tanah kepada pihak pemanfaat yang selanjutnya dimanfaatkan untuk peruntukan lain.

6) Konversi adaptasi agraris, pola konversi yang terjadi karena keinginan untuk meningkatkan hasil pertanian dan membeli tanah baru ditempat tertentu.

7) Konversi multi bentuk atau tanpa pola, konversi yang diakibatkan berbagai faktor peruntukan seperti pembangunan perkantoran, sekolah, koperasi, perdagangan, dan sebagainya.

2.1.3 Faktor-Faktor yang Mempengaruhi Terjadinya Konversi Lahan

(Pasandaran, 2006) menjelaskan paling tidak ada tiga faktor, baik sendiri-sendiri maupun bersama-sama yang merupakan determinan konversi lahan sawah, yaitu

1. Kelangkaan sumberdaya lahan dan air,

2. dinamika pembangunan,

3. peningkatan jumlah penduduk.

Sihaloho (2004) menjelaskan mengenai faktor-faktor penyebab konversi lahan di Kelurahan Mulyaharja, Bogor, Jawa Barat sebagai berikut:

1. Faktor pertambahan penduduk yang begitu cepat berimplikasi kepada permintaan terhadap lahan pemukiman yang semakin meningkat dari tahun ke tahun;

2. Faktor ekonomi yang identik dengan masalah kemiskinan. Masyarakat pedesaan yang tidak mampu memenuhi kebutuhan hidupnya melalui hasil penjualan kegiatan pertanian yang umumnya rendah, berusaha mencari bentuk usaha lain yang dapat meningkatkan kesejahteraan mereka. Untuk mendapatkan modal dalam memulai usahanya, petani pada umumnya menjual tanah yang dimilikinya. Masyarakat pedesaan beranggapan akan mendapatkan keuntungan yang lebih tinggi dari penjualan lahan pertanian untuk kegiatan industri dibandingkan harga jual untuk kepentingan persawahan. Di sisi lain pengerjaan lahan pertanian memerlukan biaya tinggi. Sehingga petani lebih memilih sebagian tanah pertaniannya untuk dijual untuk kegiatan non-pertanian;

3. Faktor luar, yaitu pengaruh warga dari desa-kelurahan perbatasan yang telah lebih dahulu menjual tanah mereka kepada pihak Perseroan Terbatas (PT);

4. Adanya penanaman modal pihak swasta dengan membeli lahan-lahan produktif milik warga;

5. Proses pengalihan pemillik lahan dari warga ke beberapa PT dan ke beberapa orang yang menguasai lahan dalam luasan yang lebih dari 10 hektar; dan

6. Intervensi pemerintah melalui Rencana Tata Ruang Wilayah (RTRW). Berdasarkan RTRW tahun 2005, seluas 269,42 hektar lahan Kelurahan Mulyaharja akan dialokasikan untuk pemukiman/perumahan real estate;

2.1.4 Dampak Konversi Lahan

Sihaloho, (2004) menjelaskan bahwa konversi lahan berimplikasi pada perubahan struktur agraria. Adapun perubahan yang terjadi, yaitu:

1) Perubahan pola penguasaan lahan. Pola penguasaan tanah dapat diketahui dari pemilikan tanah dan bagaimana tanah tersebut diakses oleh orang lain. Perubahan yang terjadi akibat adanya konversi yaitu terjadinya perubahan jumlah penguasaan tanah. Dalam penelitian ini dijelaskan bahwa petani pemilik berubah menjadi penggarap dan petani penggarap berubah menjadi buruh tani. Implikasi dari perubaha ini yaitu buruh tani sulit mendapatkan lahan dan terjadinya prose marginalisasi.

2) Perubahan pola penggunaan tanah. Pola penggunaan tanah dapat dari bagaimana masyarakat dan pihak-pihak lain memanfaatkan sumber daya agraria tersebut. Konversi lahan menyebabkan pergeseran tenaga kerja dalam pemanfaatan sumber agraria, khususnya tenaga kerja wanita. Konversi lahan mempengaruhi berkurangnya kesempatan kerja di sektor pertanian. Selain itu, konversi lahan menyebabkan perubahan pada pemanfaatan tanah dengan intensitas pertanian yang makin tinggi. Implikasi dari berlangsungnya perubahan ini adalah dimanfaatkannya lahan tanpa mengenal sistem “bera”, khususnya untuk tanah sawah.

3) Perubahan pola hubungan agraria. Tanah yang makin terbatas menyebabkan memudarnya sistem bagi hasil tanah “maro” menjadi “mertelu”. Demikian juga dengan munculnya sistem tanah baru yaitu sistem sewa dan sistem jual gadai. Perubahan terjadi karena meningkatnya nilai tanah dan makin terbatasnya tanah.

4) Perubahan pola nafkah agraria. Pola nafkah dikaji berdasarkan sistem mata pencaharian masyarakat dari hasil-hasil produksi pertanian dibandingkan dengan hasil non pertanian. Keterbatasan lahan dan keterdesakan ekonomi rumah tangga menyebabkan pergeseran sumber mata pencaharian dari sektor pertanian ke sektor non pertanian.

5) Perubahan sosial dan komunitas. Konversi lahan menyebabkan kemunduran kemampuan ekonomi (pendapatan yang makin menurun). Dalam tulisan ini juga dijelaskan terjadinya polarisasi.

2.1.5 Kesejahteraan masyarakat

Menurut Sadiwak (1985), kesejahteraan merupakan sejumlah kepuasan yang diperoleh seseorang dari hasil mengkonsumsi pendapatan yang diterima, namun tingkatan kesejahteraan itu sendiri merupakan sesuatu yang bersifat relatif karena tergantung dari besarnya kepuasan yang diperoleh dari hasil mengkonsumsi pendapatan tersebut. Konsumsi itu sendiri pada hakekatnya bukan hanya sesuatu yang mengeluarkan biaya, karena dalam beberapa hal konsumsipun dapat dilakukan tanap menimbulkan biaya konsumennya.

Tingkat kesejahteraan suatu rumah tangga dapat diukur dengan jelas melalui besarnya pendapatan yang diterima oleh rumahtangga tersebut. Mengingat data yang akurat sulit diperoleh, maka pendekatan yang sering digunakan adalah melalui pendekatan pengeluaran rumahtangga. Pengeluaran rata-rata per kapita per tahun adalah rata-rata biaya yang dikeluarkan rumahtangga selama setahun untuk konsumsi semua anggota rumahtangga dibagi dengan banyaknya anggota rumahtangga. Determinan utama dari kesejahteraan penduduk adalah daya beli. Apabila daya beli menurun maka kemampuan untuk memenuhi berbagai kebutuhan hidup menrun sehingga tingkat kesejahteran juga akan menurun (BPS, 1995).

Indikator kesejahteraan rakyat menyajikan gambaran mengenai taraf kesejahteraan rakyat Indonesia antar waktu, perkembangannya antar waktu serta perbandingannya antar populasi dan daerah tempat tinggal (perkotaan dan pedesaan). Dimensi kesejahteraan rakyat disadari sangat luas dan kompleks, sehingga suatu taraf kesejahteraan rakyat hanya dapat terlihat jika dilihat dari suatu aspek tertentu. Berbagai aspek mengenai indikator kesejahteraan dibahas oleh BPS (1995), antara lain :

1. Kependudukan

2. Kesehatan dan gizi

3. Pendidikan

4. Ketenagakerjaan

5. Taraf dan pola konsumsi

6. Perumahan dan lingkungan

7. Sosial dan budaya

Berdasarkan hasil penelitian lembaga penelitian Smeru (2005) dengan menggunakan Sistem Pemantauan Kesejahteraan oleh Masyarakat dihasilkan indicator kesejahteraan sebagai berikut :

1. Konsumsi makanan dan indikator kesehatan

2. Akses terhadap lembaga keuangan

3. Sektor pekerjaan

4. Anggota keluarga yang bekerja

5. Tingkat pendidikan kepala keluarga dan pasangan

6. Jenis kelamin kepala keluarga

7. Status perkawinan

8. Kepemilikan binatang ternak

9. Kepemilikan aset

2.2 Kerangka Pemikiran Konseptual

i34052453

2.2.1 Hipotesis Penelitian

2.2.1.1 Hipotesis Umum

1. Diduga terdapat hubungan yang nyata antara faktor eksternal dengan konversi lahan.

2. Diduga terdapat hubungan yang nyata antara faktor internal dengan konversi lahan.

3. Diduga konversi lahan berpengaruh terhadap perubahan struktur agraria.

4. Diduga penguasaan lahan berpengaruh terhadap kesejahteraan petani.

2.2.1.2 Hipotesis Khusus

1. Diduga terdapat hubungan yang nyata antara jumlah penduduk yang meningkat dengan keputusan mengkonversi lahan.

2. Diduga terdapat hubungan yang nyata antara kebijakan pemerintah dengan keputusan mengkonversi lahan.

3. Diduga terdapat hubungan yang nyata antara investasi swasta dengan keputusan mengkonversi lahan.

4. Diduga terdapat hubungan yang nyata antara pembangunan jalan tol dengan keputusan mengkonversi lahan.

5. Diduga terdapat hubungan yang nyata antara pengaruh tetangga dengan keputusan mengkonversi lahan.

6. Diduga terdapat hubungan yang nyata antara pekerjaan dengan keputusan mengkonversi lahan.

7. Diduga terdapat hubungan yang nyata antara tingkat pendapatan dengan keputusan mengkonversi lahan.

8. Diduga terdapat hubungan yang nyata antara tingkat pendidikan dengan keputusan mengkonversi lahan.

9. Diduga terdapat hubungan yang nyata antara luas lahan yang dimiliki dengan keputusan mengkonversi lahan.

10. Diduga terdapat hubungan yang nyata antara perubahan struktur agraria dengan kondisi tempat tinggal.

11. Diduga terdapat hubungan yang nyata antara perubahan struktur agraria dengan pendapatan rumahtangga.

12. Diduga terdapat hubungan yang nyata antara perubahan struktur agraria dengan kemampuan menyekolahkan anak.

13. Diduga terdapat hubungan yang nyata antara perubahan struktur agraria dengan pola konsumsi rumahtangga.

14. Diduga terdapat hubungan yang nyata antara perubahan struktur agraria dengan kepemilikan aset.

2.11 Definisi Operasional

Pengukuran variabel-variabel yang akan digunakan dalam penelitian ini akan dibatasi pada perumusan penjabaran masing-masing variabel tersebut secara operasional. Variabel-variabel tersebut adalah

1. Peningkatan jumlah penduduk adalah bertambahnya jumlah proporsi orang yang tinggal di daerah tertentu.

2. Kebijakan pemerintah daerah adalah ada atau tidaknya pengaruh dari pemerintah untuk merubah penggunaan lahan pertanian menjadi kawasan industri.

Pengukuran :

1. ada

2. tidak ada

3. Investasi swasta adalah ada atau tidaknya pihak luar yang berkepentingan untuk membangun usaha di sektor industri

Pengukuran :

1. Ada : Ada investor menemui responden untuk negoisasai

2. Tidak ada : tidak ada investor yang menemui responden

4. Pembangunan jalan tol adalah dirubahnya suatu lahan pertanian menjadi kawasan yang diperuntukan untuk jalan bebas hambatan

5. Pekerjaan adalah mata pencaharian/ profesi yang dimiliki oleh seseorang.

6. Tingkat pendapatan adalah umlah uang yang dihasilkan kepala rumah tangga selama satu bulan bekerja setelah dikurangi biaya- biaya rumah tangga.

Pengukuran :

1. Tinggi : > Rp 2.000.000

2. Sedang : Rp 1000.000 – Rp 2.000.000

3. Rendah : < Rp 1000.000

7. Konversi lahan adalah perubahan penggunaan lahan di luar kegiatan pertanian baik sebagian maupun seluruhnya.

8. Perubahan struktur agraria adalah berubahnya pola hubungan berbagai pihak yang terkait terhadap sumber- sumber agraria yang mencakup pola hubungan kepemilikan lahan, penguasaan lahan, dan pengusahaan lahan.

Pengukuran :

1. sempit : < 0,25 hektar

2. sedang : 0,25-0,49 hektar

3. luas : ≥ 0,5 hektar

9. Tingkat pendidikan adalah jenjang formal terakhir yang pernah ditempuh oleh responden.

Pengukuran :

1. tidak sekolah

2. tamat SD/sederajat

3. tamat SMP/sederajat

4. tamat SMA/sederajat

12. Pengaruh tetangga adalah ada tidaknya tetangga yang mengkonversi lahan yang diukur dari banyaknya petani yang lahannya berada di sekitar responden yang telah mengalih fungsi lahannya.

Pengukuran :

1.rendah : < 5

2. tinggi : > 5

13. Tingkat kesejahteraan adalah kemampuan sebuah keluarga untuk mencukupi kebutuhan sehari- hari rumah tangganya.

14. Kondisi tempat tinggal : adalah keadaan fisik rumah yang dihuni oleh sebuah keluarga.

Pengukuran :

1. Layak : Luas bangunan memadai untuk seluruh anggota keluarga, dan fisik bangunan permanen serta berlantai semen.

2. Tidak layak : Luas bangunan tidak memadai untuk seluruh anggota keluarga dan fisik bangunan tidak permanen serta berlantai tanah.

15. Kemampuan menyekolahkan anak : terpenuhinya kebutuhan pendidikan anak.

Pengukuran :

1. Tinggi : > SMA

2. Sedang: SMP

3. Rendah : tidak bersekolah/tidak tamat SD/SD

16. Pola konsumsi adalah pengeluaran suatu rumah tangga untuk kebutuhan makan sehari-hari.

Pengukuran :

1. Tinggi : biaya untuk makan lebih banyak dari biaya untuk kebutuhan lainnya

2. Rendah : Biaya untuk makan lebih kecil dari biaya untuk kebutuhan lainnya.

17. Kepemilikan Aset : banyaknya jumlah barang berharga yang dimiliki sebuah keluarga berupa barang elektronik, rumah, kendaraan bermotor, dan tanah.

Pengukuran :

1. Tinggi : memiliki rumah, tanah, kendaraan bermotor, dan lebih dari lima barang elektronik (televisi, radio tape, setrika, telepon seluler, DVD/VCD player).

2. Sedang : memiliki rumah, kendaran bermotor, dan barang elektronik sejumlah lima jenis.

3. Rendah : memiliki rumah/tungal di rumah kontrakan/rumah sewaan dan memiliki kurang dari lima jenis barang elektronik.

BAB III

METODE PENELITIAN

3.1 Pendekatan Penelitian

Penelitian ini menggunakan pendekatan kualitatif dan kuantitatif. Pendekatan kualitatif dipilih oleh peneliti karena pendekatan ini mampu memberikan pemahaman yang mendalam dan rinci tentang suatu peristiwa atau gejala sosial, serta mampu menggali berbagi realitas dan proses sosial maupun makna yang didasarkan pada pemahaman yang berkembang dari orang-orang yang menjadi subjek penelitian.

Strategi penelitian kualitatif yang digunakan pada penelitian ini adalah studi kasus. Studi kasus berarti memilih suatu kejadian atau gejala untuk diteliti dengan menerapkan berbagai metode (Stake, 1994 : 236 dalam Sitorus, 1998 ). Pemilihan strategi tersebut terkait dengan tujuan penelitian ini yaitu eksplanatif, penelitian ini bertujuan menjelaskan penyebab-penyebab gejala sosial serta keterkaitan sebab akibat dengan gejala sosial lainnya (Sitorus, 1998). Penelitian ini dilakukan guna menerangkan berbagai gejala sosial yang terjadi di masyarakat, dalam hal ini mengenai proses konversi lahan pertanian menjadi kawasan industri ysng meliputi faktor penyebab dan dampaknya pada pemilikan lahan terhadap tingkat kesejahteraan masyarakat.

Tipe studi kasus yang digunakan adalah tipe intrinsik studi kasus intrinsik adalah studi yang dilakukan karena peneliti ingin mendapatkan pemahaman yang lebih baik tentang suatu kasus (Stake, 1994 : 236 dalam Sitorus, 1998 ).

Sementara pendekatan kuantitatif digunakan untuk mencari informasi faktual secara mendetail yang sedang menggejala dan mengidentifikasi masalah-masalah atau untuk mendapatkan justifikasi keadaan dan kegiatan-kegiatan yang sedang berjalan (Wahyuni dan Mulyono, 2006). Pendekatan tersebut digunakan untuk mengetahui dampak dari konversi lahan di bidang sosial ekonomi dan lingkungan.

3.2 Lokasi dan Waktu Penelitian

Penelitian ini dilakukan di daerah pedesaan, tepatnya di Desa Tambak, Kecamatan Cikande, Kabupaten Serang, Propinsi Banten. Lokasi ini dipilih karena desa ini merupakan salah satu pusat industri di Propinsi Banten. Lahan yang dijadikan kawasan industri pada awalnya merupakan lahan pertanian yang cukup luas. Namun, masih terdapat lahan yang belum terkonversi menjadi tempat industri. Selain itu, kawasan ini dekat dengan jalan tol yang mempermudah akses pengangkutan barang hasil produksi dari Desa Tambak ke wilayah lain.

Penelitian ini dilakukan selama dua bulan, dimulai dari bulan April-Mei 2009. Kurun waktu penelitian yang dimaksud mencakup waktu semenjak penelitian intensif berada di lokasi penelitian sehingga penjajakan tidak termasuk dalam kurun waktu tersebut. Penjajakan awal telah dilakukan pada bulan Maret 2009.

3.3 Teknik Pengumpulan Data

Teknik pengumpulan data yang diterapkan oleh peneliti adalah metode triangulasi guna memperoleh kombinasi data yang akurat. Data kualitatif yang diperoleh berasal dari data primer, data sekunder, dan pengamatan langsung dilokasi penelitian. Data primer diperoleh dengan melakukan wawancara mendalam terhadap responden atau informan. Data deskriptif juga akan digunakan berupa kata-kata langsung atau tulisan dari responden dan informan. Pada awalnya pilihan terhadap informan dilakukan secara sengaja (purposif) yaitu dengan mendatangi aparatur pemerintah desa dan instansi terkait maupun tokoh masyarakat di lokasi penelitian dilakukan yang selanjutnya akan menggiring pada informan lain dan juga responden.

Data sekunder merupakan dokumen atau data yang diperoleh dari laporan studi, kantor desa, instansi pemerintahan yang terkait, serta dokumen lain yang relevan seperti data dari BPS, buku, jurnal, atau data dari internet yang memuat teori atau hasil penelitian yang terkait dengan proses perubahan penguasaan lahan pertanian menjadi industri.

Unit analisis data adalah rumahtangga petani pemilik, penggarap, dan penyewa yang lahannya telah terkonversi dan tidak terkonversi yang masih tinggal di Desa Tambak sebanyak 30 responden. Pemilihan responden dilakukan dengan simple random sampling. Sedangkan yang akan menjadi informan adalah aparatur desa, tokoh masyarakat, dan perwakilan instansi terkait.

3.4 Teknik Analisis Data

Data kuantitatif yang dikumpulkan akan diolah dengan mengunakan program komputer SPSS untuk menguji hubungan antar variabel yang kemudian dianalisis dan diinterpretasikan untuk melihat fakta yang terjadi dengan menggunakan analisis regresi. Data kualitatif digunakan untuk menggali lebih dalam mengenai data yang telah diperoleh secara kuantitatif.

DAFTAR PUSTAKA

Hidayat, Hamid. 1991. Masalah Struktur Agraria dan Kedudukan Sosial Ekonomi Masyarakat di Desa Pujon Kidul (Wilayah Daerah Aliran Sungai Konto, Kabupaten Malang). Tesis. Program Pasca Sarjana IPB.

Hidayat , Kliwon. 1984. Struktur Penguasaan Tanah dan Hubungan Kerja Agraris di Desa Jatisari, Lumjang, Jawa Timur. Tesis. Program Pasca Sarjana IPB.

Irawan, Bambang. 2005. Konversi Lahan Sawah : Potensi Dampak, Pola Pemanfaatannya, dan Faktor Determinan. Forum Penelitian Agro Ekonomi. Volume 23 No. 1, Juli 2005: 1-18.

Kustiawan, Iwan. 1997. Permasalahan Konversi Lahan pertanian dan Implikasinya terhadap Penataan Ruang Wilayah Studi Kasus : Wilayah Pantai Utara Jawa. Jurnal PWK Vol.8. No 1/Januari 1997.

Mahodo, Riptono Sri. 1991. Struktur Pemilikan Penguasaan Lahan Dalam Pengelolaan Sumberdaya Lahan di Kabupaten Tangerang. Tesis. Program Pasca Sajana. IPB.

Martua Sihaloho. 2004. Konversi Lahan pertanian dan Perubahan Struktur Agraria (Kasus di Kelurahan Mulyaharja, Kecamatan Bogor Selatan, Kota Bogor, Jawa Barat). Tesis. .Sekolah Pasca Sarjana IPB.

Nasoetion, Lutfi Ibrahim. 2006. Konversi Lahan Pertanian: Aspek Hukum dan Implementasinya. Jakarta: Badan Pertanahan Nasional Disampaikan pada Prosiding Seminar Nasional Multifungsi dan Konversi Lahan Pertanian.

Pasandaran, Effendi. 2006. Alternatif Kebijakan Pengendalian Konversi Lahan Sawah Beririgasi di Indonesia dalam Jurnal Litbang pertanian 25(4) 2006.

Purtomo Somaji, Rafael. 1994. Perubahan Tata Guna Lahan dan Dampaknya terhadap Masyarakat petani di Jawa Timur. Tesis. Program Pasca Sarjana IPB.

Sajogjo, Pudjiwati. 1985. Sosiologi Pembangunan. Jakarta : PT Esata Dinamika.

Sitorus, MT. F. 2002: Lingkup Agraria dalam Menuju keadilan Agraria : 70 Tahun Gunawan Wiradi, Penyunting Endang, Suhendar et al. Yayasan AKATIGA, Bandung.

Sitorus, MT. F. dan Gunawan Wiradi. 1999. Sosiologi Agraria : Kumpulan Tulisan Terpilih. Bogor : Labolatorium Sosio, antropologi, dan Kependudukan Faperta IPB.

Sitorus, M. T. Felix. 1998. Penelitian Kualitatif suatu Perkenalan. Kelompok Dokumentasi Ilmu Sosial. Institut Pertanian Bogor

Syahyuti..Pembentukan Struktur Agraria pada Masyarakat Pinggir Hutan : Studi Kasus di Desa Sintuwu dan Desa Berdikari, Kecamatan palolo, Kabupaten Donggala, Sulawesi Tengah. Tesis. Program Pasca Sarjana IPB.

Utomo, Muhajir, Eddy Rifai, Abdumuthalib Thahar. 1992. Pembangunan dan Pengendalian Alih Fungsi Lahan. Universitas Lampung. Badar Lampung.

Wahyuni, Ekawati sri dan Pudji Mulyono. 2006. Modul Mata Kuliah Metode Penelitian Sosial. Diterbitkan di Departemen Ilmu-Ilmu Sosial Ekonomi Pertanian, Fakultas Pertanian, IPB.

Wiradi, G 1984: Pola Penguasaan tanah dan reforma agraria dalam Dua Abad Penguasaan Tanah, Pola Penguasaan Tanah Pertanian di Jawa dari Masa ke Masa, penyunting Sediono M.P Tjondronegoro dan Gunawan Wiradi , PT Gramedia, Jakarta.

Lampiran 1. Kuesioner

Pengaruh Perubahan Struktur Agraria Akibat Konversi Lahan terhadap Kesejahteraan Masyarakat

(Studi Kasus Desa Tambak, Kecamatan Kibin, Kabupaten Serang, Propinsi Banten)

Responden yang Terhormat,

Saya adalah mahasiswa Institut Pertanian Bogor, Fakultas Ekologi Manusia, Departemen Sains Komunikasi dan Pengembangan Masyarakat. Saya sedang melakukan penelitian mengenai Pengaruh Perubahan Struktur Agraria Akibat Konversi Lahan terhadap Kesejahteraan Masyarakat

( . Penelitian ini dilakukan dalam rangka menyusun skripsi sebagai salah satu syarat untuk memperoleh gelar sarjana (S1).

Saya ucapkan banyak terima kasih atas kesediaan dan waktu Bapak/Ibu mengisi kuesioner ini.

Hormat saya

Egi Massardy

I 34054251

Text Box: Responden yang Terhormat, Saya adalah mahasiswa Institut Pertanian Bogor, Fakultas Ekologi Manusia, Departemen Sains Komunikasi dan Pengembangan Masyarakat. Saya sedang melakukan penelitian mengenai Pengaruh Perubahan Struktur Agraria Akibat Konversi Lahan terhadap Kesejahteraan Masyarakat ( . Penelitian ini dilakukan dalam rangka menyusun skripsi sebagai salah satu syarat untuk memperoleh gelar sarjana (S1).  Saya ucapkan banyak terima kasih atas kesediaan dan waktu Bapak/Ibu mengisi kuesioner ini.  											Hormat saya	                                                            Egi Massardy	 					    I 34054251

Kuesioner

Petunjuk :

Isilah jawaban pada titik-titik (….) serta berilah tanda (√) pada setiap () yang sesuai di bawah ini

IDENTITAS RESPONDEN

Nama : ………………………………

Umur :……………………………….

Jenis kelamin :……………………………….

Tempat tinggal :………………………………..

Faktor- faktor yang mendorong pengambilan keputusan individu untuk mengkonversi lahan

A. KARAKTERISTIK RESPONDEN

1. Pendidikan terakhir :

( ) tidak sekolah

( ) tidak tamat SD

( ) tamat SD/sederajat

( ) tamat SMP/sederajat

( ) tamat SMA/Sederajat

2. Pekerjaan

( ) Petani

( ) PNS

( ) Buruh pabrik

( ) Wiraswasta

( ) Jasa tansportasi

( ) TNI/ Polri

( ) lainnya………

B EKONOMI RESPONDEN

Jumlah tanggungan

3 Berapa jumlah anggota keluarga anda (termasuk anda)?

…….. orang

4 Berapa jumlah anggota keluarga yang masih menjadi tanggungan anda (termasuk anda)?

……. orang

5 Apakah ada anak (usia sekolah) anda yang masih bersekolah?

( ) ya ( ) tidak Jika tidak, apa alasannya : ……………

6 Berapa jumlah anak anda yang masih bersekolah?

………….orang

Tingkat pendapatan rumah tangga

7.Apakah ada dari anggota keluarga anda (tidak termasuk anda) yang sudah bekerja?

( ) ya ( ) Tidak (Jika tidak langsung ke nomor 11)

8. Berapa jumlah anggota keluarga anda yang sudah bekerja?

……… orang

9.Apakah anggota keluarga anda yang sudah bekerja tersebut membantu anda dalam emmenuhi kebuthan keluarga?

( ) ya ( ) tidak (langsung ke nomor 11)

10. Berapa proporsi bantuan yang dilakukan oleh anggota keluarga anda yang sudah bekerja tersebut?

………….% kebutuhan keluarga

11. Berapa total pendapatan rumah tangga anda?

Rp………………../bulan

12. Apakah dari pendapatan tersebut dapat mencukupi kebutuhan keluarga anda (terutama dalam hal konsumsi)?

( ) ya ( ) tidak

Jelaskan………………………………………………………………….….

Kepemilikan Lahan

13. Apakah status lahan yang anda miliki?

( ) sewa ( ) sakap ( ) milik ( ) gadai

14. Berapa luas lahan yang anda miliki?

……….ha

15. Apakah anda hanya bergantung pada lahan tersebut untuk sumber penghasilan?

( ) ya (langsung ke no. 18) ( ) tidak

16. Berapa persentase pendapatan pertanian yang berasal dari lahan tersebut terhadap total pendapatan rumah tangga?

………..% pendapatan rumah tangga

17. Apakah ada bagian dari lahan anda yang anda konversi?

( ) ya ( ) tidak (langsung ke nomor 20)

18. Berapa persentase laha yang anda konversi dari lahan yang anda miliki?

………..% lahan

19. Berapa total pendapatan rumah tangga anda sebelum mengkonversi lahan?

Rp.,……………./ bulan

C. FAKTOR EKSTERNAL

20. Apakah ada dari tetangga yang memiliki lahan pertanian di sekitar lahan anda yang mengkonversi lahan pertaniannya menjadi pabrik?

( ) ya ( ) tidak

21. Berapa banyak?

……….orang

22. Apakah ada pengusaha di bidang non pertanian yang mempengaruhi anda agar mengkonversi lahan?

( ) ya ( ) tidak ( langsung ke nomor 24)

23. Berapa kali pengusaha tersebut datang menemui anda untuk kepentingan tersebut?

…..kali

24. Apakah kebijakan pemerintah daerah mempengaruhi terjadinya konversi lahan pertanian di sini?

( ) ya ( ) tidak ( langsung ke nomor 26)

25. Apakah bentuk kebijakan pemerintah daerah tersebut?

………………………………………………………………….

26. Apakah Anda mengetahui pembangunan jalan tol Jakarta/ merak?

( ) ya () tidak

27. Apakah lahan anda dibebaskan untuk pembangunan jalan tol?

( ) ya ( ) tidak

28. Jika ya, apakah anda mendapatkan anti rugi dari pembebasan tanah tersebut ?

( ) ya ( ) tidak

29. Jika ya, berapa jumlah uang yang anda terima sebagai ganti rugi?

Rp,………

D. KESEJAHTERAAN KELUARGA RESPONDEN

No.

Indikator Kesejahteraan

Keterangan

26

Pengeluaran konsumsi per hari

a. < Rp 10.000 b. Rp 10.000-20.000 c. > Rp 20.000

27

Dinding rumah

a. tembok b. bambu/triplek

28

Lantai rumah

a. tanah b. semen/keramik

29

Perabotan (elektronik)

a.televisi

b. radio tape

c.kulkas

d. DVD/VCD player

e.Kipas angin

f. AC

g. Computer

h. Telepon

i. Telepon seluler

j. Parabola

k. Rice cooker

l. Setrika

30

Kendaraan

a.tidak punya b. motor c. mobil

31

Pendidikan anak

Anak pertamaà a. SD b. SMP c. SMA d. S1

Anak keduaà a. SD b. SMP c. SMA d. S1

Lampiran 2. Panduan Pertanyaan

a) Panduan Pertanyaan (responden/petani yang mengkonversi lahan)

1. Sejak kapan anda menjadi petani?

2. Mengapa anda menjadi petani?

3. Tanaman apa yang paling menjanjikan?

4. Apa orientasi anda bertani? Jelaskan?

5. Apakah dengan bertani, anda bisa memenuhi kebutuhan keluarga anda terutama dalam hal konsumsi?

6. Bagaimana peran pemerintah daerah dalam menangani masalah pertanian di desa ini? Apakah pemerintah memberi bantuan saprotan dll? Jelaskan?

7. Bagaiman cara anda mendapatkan lahan tersebut?

8. Seberapa penting lahan yang anda miliki bagi anda?

9. Menurut anda, apa fungsi utama lahan bagi anda?

10. Sejak kapan anda membuka usaha tambang pasir dan batu?

11. Mengapa demikian?

12. Mengapa anda mengkonversi lahan anda? Jika mungkin, ceritakan latar belakang/proses bagaimana anda mengkonversikan lahan anda!

13. Apakah ada yang mendorong anda untuk mengkonversi lahan anda? Jika ya, bagaimana prosesnya?

14. Setelah anda mengkonversi lahan, pernahkah pemerintah daerah mengingatkan untuk kembali menanami lahan anda?

15. Menurut anda, apakah ada perbedaan sebelum and mengkonversikan lahan anda dengan sesudah mengkonversi dilihat dari aspek kesejahteraan. Jelaskan!

16. Menurut anda, apa dampak dari perubahan lahan pertanian menjadi kawasan industri bagi anda?

b. panduan pertanyaan (responden/petani yang tidak mengkonversi lahan)

1. Sejak kapan anda menjadi petani?

2. Mengapa anda menjadi petani?

3. Tanaman apa yang paling menjanjikan?

4. Apa orientasi anda bertani? Jelaskan

5. Apakah dengan bertani, anda bisa memenuhi kebutuhan keluarga anda terutama dalam hal konsumsi?

6. Bagaimana peran pemerintah daerah dalam menangani msalah pertanian di desa ini? Apakah pernah memberi bantuan saprotan dll? Jelaskan.

7. Bagaimana cara anda mendapatkan lahan tersebut?

8. Seberapa penting alahan yang anda miliki bagi anda?

9. Menurut anda, apa fungsi utama lahan bagi anda?

10. Mengapa anda tidak megnkonversi lahan anda seperti yang dilakukan oleh tetangga-tetangga anda?

c. panduan pertanyaan (aparat desa/tokoh masyarakat/warga setempat)

1. Apa rata-rata jenis mata pencaharian utama masyarakat desa ini?

2. Kira-kira berapa jumlah petani di desa ini?

3. Siapa saja petani yang memiliki lahan sendiri?

4. Siapa saja petani yang kini mengubah lahannya menjadi tambang pasir dan batu?

5. Sejak kapan fenomena konversi lahan mulai banyak terjadi di desa ini?

6. Menurut anda, mengapa petqani disini banyak yang mengkonversikan lahannya? Kira-kira, apa faktor utama mendorong mereka mengkonvesi lahan?

7. Apakah ada pengusaha atau perusahaan yang bergerak di bidang non pertanian yang membeli lahan-lahan para petani?

8. Bagaimana peran pemerintah daerah dalam menangani masalah pertanian di desa ini?

9. Bagaimana reaksi pemerintah daerah terhadap fenomena konversi lahan yang marak terjadi di desa ini?

10. Menurut anda, bagaimana tingkat kesejahteraan petani yang telah mengkonversi lahan?

11. Menurut anda, apa fungsi utama lahan bagi masyarakat disini?


Lampiran 3. Rencana Jadwal Penelitian

No

Kegiatan

Maret

April

Mei

Juni

Juli

1

2

3

4

1

2

3

4

1

2

3

4

1

2

3

4

1

2

3

4

1.

Pengumuman Dosen Pembimbing Skripsi

2.

Penulisan Proposal dan Kolokium

1. Penyusunan Draft dan Revisi

2. Konsultasi Proposal

3. Observasi Lapang

4. Kolokium dan Perbaikan

3.

Studi Lapang

1. Pengumpulan Data

2. Analisis Data

4.

Penulisan Skripsi

1. Penyusunan Draft dan Revisi

2. Konsultasi Skripsi

5.

Ujian Skripsi

1. Ujian

2. Perbaikan Skripsi


[1] Di kutip dari pengantar penerbit pada buku Sosiologi Agraria oleh Sediono M.P. Tjondronegoro, penyunting M.T. Felix Sitorus & Gunawan Wiradi, AKATIGA, Bandung 1999

About these ads

2 Tanggapan to “Pengaruh Perubahan Struktur Agraria Akibat Konversi Lahan terhadap Kesejahteraan Masyarakat (Studi Kasus: Desa Tambak, Kecamatan Kibin, Kabupaten Serang, Propinsi Banten)”

  1. kolokium kpm ipb said

    Nama Pembahas : Edu Darmantio IN
    NRP/NIP : I34050795
    Nama Pemrasaran : Egi Massardy
    NRP : I34052453
    Judul Rencana Penelitian : Pengaruh Perubahan Strukutr Agraria akibat Konversi Lahan terhdapa Tingkat Kesejahteraan Masyarakat

    Pembahasan :
    Pertanyaan dan saran dari pembahas
    1. Dalam kerangka pemikiran terdapat faktor eksternal dan internal, mengapa timbul faktor eksternal dan internal tersebut?
    Jawab : faktor eksternal dan internal muncul setelah melakukan studi literatur dan mengamati lokasi penelitian. Faktor eksternal merupakan faktor yang memepengaruhi seseorang dari luar dirinya, dalam hal ini lingkungannya. Faktor internal merupakan faktor yang bersal dari dalam diri seseorang, dalam hal ini karakteristik individu.
    2. Dari mana anda bisa merumuskan faktor-faktor tersebut?
    Jawab : faktor-faktor tersebut berasal dari hasil studi literatur dan pengamatan di lokasi penelitian.
    3. Pembahas memeberikan masukan agar kuesioner dibuat matriks yang kemudian dikelompokan berdasarkan kebutuhan data. Pertanyaan mana yang akan digunakan pendekatan kuantitatif dan data mana yang akan digunakan pendekatan kualitatif.
    4. Pembahas memberikan saran untuk memperhatikan EYD dalam penulisan proposal.
    5. Pembahas menanyakan rumus yang digunakan dalam program SPSS
    Jawab : saat ini pemrasaran masih belajar mengenai program SPSS yang menggunakan anailsis regresi. Selain itu, yang menjadi kendala adalah tidak pernah diajarkannya teknik pengolahan data oleh Departemen SKPM.
    Pertanyaan dan saran dari forum
    1. Arnas mengapa anda menggunakan teknik simple random sampling dalam memilih responden? Padahal yang akan menjadi responden anda berkelas-kelas. Mengapa tidak menggunakan cluster random sampling saja?
    Jawab : teknik simple random sampling digunakan untuk mendapatkan responden secara acak. Tapi saran dari Arnas akan dipertimbangkan
    2. Fahrozi bagaimana keterkaitan antara faktor kebijakan pemerintah dengan kesejahteraan masyarakat?
    Jawab : justru itu yang akan menjadi salah satu variabel yang akan diteliti
    3. Furqon apakah anda nanti tidak mengalami kesulitan dalam mencari responden? Hal ini dikarenakan proses konversi sudah berlangsung sejak lama. Mengapa anda tidak mencantumkan kasus-kasus hasil penelitian mengenai konversi lahan dalam makalah anda?
    Jawab : jika kejadiannya seperti itu, memang akan mengalami kesulitan. Namun karena peneliti belum bisa mengakses data mengenai penduduk disana karena kendala birokrasi, mudah-mudahan saja ini tidak terjadi. Jika ini terjadi, pendekatan kualitatif lah yang akan dipertajam. Untuk pertanyaan mengenai studi kasus, sebenarnya ada dalam proposal karena keterbatasan halaman, kasus-kasus tersebut tidak bisa dicantumkan dalam makalah kolokium ini.
    4. Chandri megnapa anda mengambil respondennya 30 orang? Memang berapa jumlah penduduk disana?
    Jawab : 30 responden diambil sebagai syarat minimal saja. Tidak menutup kemungkinan jumlah tersebut akan bertambah. Mengenai p[opulasi penduudk yang ada disana, pemrasaran tidfak mengetahui karena masalah birokrasi yang rumit.

  2. Hanizar, M. said

    Saya sangat tertarik dengan makalah anda ini, Kalau tidak salah ini adalah makalah kolokium rencana penelitian. Apakah sudah ada hasil penelitiannya? Kalau sudah ada apakah bisa membantu saya untuk memperoleh hasilnya, karena saya juga sedang penelitian mengenai Faktorfaktor yang mempengaruhi keputusan petani untuk alih fungsi lahan sawah ke tanaman perkebunan, mungkin bisa jadi referensi saya. Trim

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

 
Ikuti

Get every new post delivered to your Inbox.

%d bloggers like this: