Kolokium Sains Komunikasi dan Pengembangan Masyarakat, Institut Pertanian Bogor

Efek Berita Kriminal Terhadap Perilaku Khalayak Remaja (Kasus : SMP Taman Siswa, Jakarta Pusat)

Posted by kolokium kpm ipb pada 22 April 2009

MAKALAH KOLOKIUM

Nama Pemrasaran/NRP : Virgin Valentine H/I34051630

Departemen : Sains Komunikasi dan Pengembangan Masyarakat

Pembahas : Rofian Dedi Susanto/I3402582

Dosen Pembimbing/NIP : Ir. Sutisna Riyanto, MS/131779500

Judul Rencana Penelitia : Efek Berita Kriminal Terhadap Perilaku Khalayak Remaja (Kasus : SMP Taman Siswa, Jakarta Pusat)

Tanggal dan Waktu : 27 April 2009/09.00-10.00 WIB

1. PENDAHULUAN

1.1 Latar Belakang

Siaran televisi saat ini telah menjadi suatu kekuatan yang sudah merasuk ke dalam kehidupan masyarakat. Televisi sebagai media massa memiliki karakteristik tersendiri yang berbeda dengan media lain di dalam penyampaian pesannya. Salah satu kelebihan televisi yaitu paling lengkap dalam hal menyajikan unsur-unsur pesan bagi khalayak pemirsa, oleh karena dilengkapi gambar dan suara terasa lebih hidup dan dapat menjangkau ruang lingkup yang sangat luas.

Pihak-pihak televisi menganggap semakin banyaknya stasiun TV tentunya akan memunculkan persaingan dan situasi yang kompetitif antar media elektronik untuk dapat merebut perhatian pemirsa dengan cara menyuguhkan acara-acara yang diperhitungkan akan disenangi oleh pemirsa. Untuk dapat menarik perhatian khalayak, paket acara yang ditawarkan dikemas semenarik mungkin. Berbagai paket acara yang disajikan diproduksi dengan memperhatikan unsur informasi, pendidikan serta hiburan. Namun, ketatnya persaingan justru menggeser paradigma pihak pengelola stasiun untuk menyajikan program acara yang sehat. Program acara-acara yang sering muncul di layar kaca justru kurang memperhatikan unsur informasi, pendidikan, sosial budaya bahkan etika dan norma masyarakat. Salah satunya unsur kekerasan menjadi menu utama di berbagai jenis tayangan yang dikemas dalam film, sinetron, dan berita.

Salah satunya tayangan yang mengandung unsur kekerasan dikemas dalam bentuk berita kriminal. Hampir keseluruhan berita kriminal tidak segan menampilkan adegan kekerasan di layar kaca seperti korban kekerasan, misalnya ceceran darah, bahkan menggambarkan kronologis kejadian secara lengkap. Saat ini hampir di semua stasiun televisi swasta terdapat tayangan berita kriminal. Ada yang disajikan dalam bentuk berita mendalam (indepth news), seperti, “Fakta” di ANTV, “Sidik Kasus di TPI, “Di Balik Tragedi” di TV One, dan “Metro Realitas” di Metro TV. Ada pula yang disajikan dalam bentuk berita langsung atau harian (daily news). Tayangan tersebut diantaranya adalah “Buser” di SCTV, “Sidik” di TPI, “TKP” di Trans7, “Sergap” di RCTI, dan “Patroli” di Indosiar.

Unsur kekerasan yang terdapat dalam berita kriminal tidak dapat dibendung. Hal ini memicu munculnya faktor penentu perubahan bagi perilaku khalayaknya dalam aspek kognitif, afektif, dan konatif. Alternatif berita kriminal di televisi tentunya akan memberikan pengaruh bagi khalayak pemirsanya, terutama jika berita kriminal yang ditayangkan dinikmati oleh khalayak remaja. Menurut Hurlock (Suharto, 2006) tahap perkembangan anak-anak hingga remaja, pada fase inilah remaja mulai memiliki pola perilaku akan hasrat penerimaan sosial yang tinggi. Khalayak remaja mulai menyesuaikan pola perilaku sosial sesuai tuntutan sosial. Remaja yang memiliki intentitas menonton berita kriminal mulai menyesuaikan hal-hal yang diterimanya dengan realitas sosial. Sehingga pengaruhnya akan cepat diterima terutama pada aspek kognitif, yang meliputi pengetahuan akan kejahatan, aspek afektif meliputi perasaan atau emosi akan tayangan kekerasan bahkan aspek behavioral yang meliputi tindakan untuk meniru adegan kekerasan.

Penelitian ini akan membahas mengenai efek tayangan kekerasan pada berita kriminal terutama pada aspek kognitif dan aspek afektif. Seperti yang telah dipaparkan di atas, gencarnya berita kriminal menimbulkan kekhawatiran akan terbentuknya persepsi dan sikap atau karakter negatif yang kuat. Sehingga memunculkan pertanyaan mengenai bagaimana siaran berita kriminal dapat menimbulkan efek di kalangan khalayak, khalayak yang bagaimana yang terkena efek tersebut dan pertanyaan-pertanyaan sejenis lainnya yang hanya dapat dijawab melalui penelitian semacam ini.

1.2 Perumusan Masalah

Berdasarkan uraian permasalahan di atas, Sehingga masalah-masalah penelitian dirumuskan sebagai berikut :

1. Bagaimana tingkat keterdedahan khalayak remaja pada berita kriminal di televisi?

2. Faktor-faktor apa saja yang berhubungan dengan keterdedahan khalayak remaja pada berita kriminal di televisi?

3. Bagaimana efek kognitif dan afektif yang muncul di kalangan khalayak remaja sebagai akibat keterdedahan pada berita kriminal di televisi?

4. Apakah ada hubungan antara tingkat keterdedahan khalayak remaja pada berita kriminal dengan efek kognitif dan afektif yang muncul di kalangan khalayak remaja?

1.3 Tujuan Penulisan

1. Mengetahui tingkat keterdedahan khalayak remaja pada berita kriminal di televisi.

2. Mengidentifikasi faktor-faktor apa saja yang berhubungan dengan keterdedahan khalayak remaja pada berita kriminal di televisi.

3. Mengidentifikasi efek kognitif dan afektif yang muncul di kalangan khalayak remaja sebagai akibat keterdedahan pada berita kriminal di televisi.

4. Menganalisis hubungan antara tingkat keterdedahan khalayak remaja pada berita kriminal dengan efek kognitif dan afektif yang muncul di kalangan khalayak remaja.

1.4 Kegunaan Penelitian

Penelitian ini diharapkan dapat memberikan informasi tentang efek-efek yang dapat muncul di kalangan remaja sebagai akibat dari menonton tayangan kekerasan di televisi beserta faktor-faktor yang berpotensi memunculkannya. Oleh karena itu, penelitian ini diharapkan dapat memberikan manfaat terhadap berbagai pihak, yaitu:

1. Bagi pihak stasiun televisi, memberikan informasi mengenai efek berita kriminal terutama pada khalayak pemirsa, sehingga pihak televisi lebih memperhatikan isi berita kriminal yang akan ditayangkan.

2. Bagi khalayak , menambah wawasan dan informasi kepada khalayak mengenai efek berita kriminal, terutama bagi para orang tua untuk mengawasi dan mendampingi anak saat menonton siaran berita kriminal.

3. Bagi pengembangan riset dan ilmu komunikasi, menambah khasanah pengetahuan tentang penelitian efek media massa televisi terutama pada berita kriminal di televisi.

11. PENDEKATAN TEORITIS

2.1 Tinjauan Pustaka

2.1.1 Televisi Sebagai Media Massa

Media adalah alat atau sarana yang digunakan untuk menyampaikan pesan dari komunikator kepada khalayak. Media massa sering dibedakan menjaadi media massa bentuk tampak (visual) media massa bentuk dengar (audio), dan media massa bentuk gabungan tampak dengar (audio visual). Media massa adalah alat yang digunakan dalam penyampaian pesan dari sumber kepada khalayak penerima dengan menggunakan alat-alat komunikasi mekanis seperti surat kabar, film, radio, dan televisi (Mulyana, 2001). Anzwar dalam (Novilena, 2004) menyatakan bahwa sebagai sarana komunikasi, berbagai bentuk media massa mempunyai pengaruh besar dalam pembentukkan opini dan kepercayaan orang. Diantara berbagai media massa yang ada, salah satunya yang banyak dimanfaatkan orang dewasa adalah televisi.

Televisi adalah media komunikasi yang menyalurkan gagasan dan informasi dalam bentuk suara dan gambar secara umum, baik terbuka maupun tertutup, berupa program yang teratur dan berkesinambungan (Novilena, 2004). Selain itu, menuurut (Suangga, 2004) televisi memiliki posisi yang penting dalam kehidupan manusia apabila benar-benar di manfaatkan sebagaimana seharusnya. Televisi menawarkan berbagai alternatif, sehingga dapat memilih informasi yang diinginkan sesuai dengan kebutuhan. Dapat dimanfaatkan sebagai sarana untuk menyampaikan ilmu, pendidikan, pengetahuan, dan sebagainya.

2.1.2 Keterdedahan Khalayak pada Tayangan Kekerasan

Keterdedahan khalayak terhadap tayangan kekerasan di televisi didasari adanya motif-motif khalayak menonton televisi. Umumnya khalayak menggunakan media massa karena didorong oleh motif-motif tertentu (Rakhmat, 2004). Menurut McGuire (Rakhmat, 2004) mengelompokkan motif dalam dua kelompok besar yakni motif kognitif (berhubungan dengan pengetahuan) dan motif afektif (berkaitan dengan perasaan). Menurut Blumler (Rakhmat,2001) motif yang ada pada tiap individu sangat beragam, yaitu : informasi (information), pengawasan (surveillance), hiburan (entertainment), ketidakpastian (uncertainty).

Keterdedahan tayangan kekerasan juga menyangkut jenis tayangan terutama yang mengandung unsur kekerasan atau adanya adegan kekerasan. Hasil penelitian Mazdalifah (1999) Film atau sinetron yang bermuatan kekerasan digemari responden yang berusia 7-9 tahun. Alasannya, karena ceritanya seru, banyak berkelahi, tokoh jagoannya berkelahi, dan punya senjata.

Keterdedahan tayangan kekerasan pada khalayak juga menyangkut frekuensi dan durasi menonton tayangan kekerasan di televisi. Menurut hasil penelitian Mazdalifah(1999) adegan kekerasan ditelevisi jika ditonton secara teratur dalam waktu yang panjang akan berpengaruh pada keterdedahan pada pengetahuan anak tentang kekerasan, penumpukkan sikap terhadap perilaku kekerasan dan peniruan terhadap perilaku kekerasaan.

2.1.3 Efek Tayangan Kekerasan

2.1.3.1 Efek Kognitif

Efek kognitif mengenai tayangan kekerasan berupa citra atau persepsi yang dibangun khalayak saat dan sesudah menonton tayangan kekerasan di televisi. Gerbner (Rakhmat, 2004) melaporkan penelitian berkenaan dengan persepsi penonton televisi tentang realitas sosial. Citra tentang lingkungan sosial kita terbentuk berdasarkan realitas yang ditampilkan media massa. Persepsi tentang dunia dipengaruhi oleh apa yang dilihatnya dalam televisi. Efek kognitif dari tayangan kekerasan di televisi meliputi pengetahuan teknis khalayak akan tindak kekerasan. Khalayak yang menonton tayangan kekerasan akan mengetahui bagaimana gaya berkelahi, penggunaan senjata, bahkan pelajaran tentang modus operandi kejahatan. Efek kognitif tayangan kekerasan berhubungan dengan penilaian khalayak mengenai realitas yang ditampilkan televisi dengan realitas sebenarnya.

2.1.3.2 Efek Afektif

Tayangan kekerasan dan kekerasan di layar televisi, telah lama menimbulkan kegelisahan. Menurut penelitian, khalayak yang telah menonton tayangan kekerasan di televisi mengalami susah tidur, karena terbayang peristiwa tersebut. Yang terjadi pada anak-anak, rupanya adegan itu sampai terbawa dalam mimpi. Fenomena tersebut mengambarkan meningkatnya kecemasan pada diri seseorang sesudah menonton tayangan kekerasan (Arix, 2006)[1]. Penelitian yang dilakukan Garbner dan kawan-kawan (Mc Quail, 2000) menunjukkan bahwa penonton berat kekerasan di televisi merasa menjadi penakut di dunia. Efek afektif yang dirasakan khalayak mengenai tayangan kekerasan di televisi yakni toleransi khalayak akan tindak kekerasan. Hal ini berarti bagaimana empati khalayak mengenai kekerasan yang terjadi pada realitas di televisi dengan realitas nyata, terutama kepada korban atau pelaku kekerasan. Media Televisi dapat memberikan efek yang tajam dari tayangan kekerasan terhadap khalayak salah satunya yakni de-sensitization effects, berkurang atau hilangnya kepekaan kita terhadap kekerasan itu sendiri (Pitaloka, 2006).

2.1.4 Faktor-faktor Yang Menimbulkan Efek

Menurut Raymond Bavor Little John dalam (Vera,2002) media massa tidak langsung menimbulkan dampak bagi audiens. Banyak variabel terlibat dalam proses terjadinya efek. Gaver (Rakhmat, 1989) yang dikutip Vera (2002) menyatakan bahwa komunikasi massa terjadi lewat serangkaian perantara. Untuk sampai kepada perilaku tertentu, maka pengaruh ini disaring, bahkan ditolak sesuai dengan faktor-faktor yang menyertainya, seperti faktor personal dan faktor situasional. Menurut (Vera, 2002) faktor personal adalah faktor-faktor yang berasal dari dalam diri yang mempengaruhi perilaku seseorang, terdiri atas sikap dan emosi. Faktor situasional adalah faktor-faktor yang berasal dari luar diri yang mempengaruhi perilaku seseorang. Faktor luar pertama adalah lingkungan masyarakat. Faktor kedua adalah lingkungan keluarga.

2.1.5 Berita Kriminal

Menurut (Novilena, 2004) berita kriminal adalah uraian tentang peristiwa/fakta atau pendapat yang mengandung nilai berita tentang kejahatan yang ditayangkan di televisi. (Budhiarty, 2004) mendefinisikan berita kriminal sebagai acara yang menayangkan informasi hanya berkisar mengenai kejadian kriminal/kejahatan, kecelakaan, kebakaran dan atau orang hilang; tayangan ini dapat dikemas dalam format berita (news) ataupun laporan mendalam (indepth report) yang mengupas suatu kasus lama atau baru yang belum. Sudah terungkap, dan terkadang disertai tips-tips untuk mengantisipasi setiap modus kejahatan.

Berita kriminal adalah uraian tentang peristiwa atau fakta mengenai berbagai tindakan kriminal (kejahatan) yang dilakukan oleh pelaku kejahatan. Berita dianggap menarik minat khalayak pemirsanya dengan kemasan aktual dan mendalam. Selain itu dengan berita yang bersifat komprehensif, interpretatif dan investigatif, akan menambah pengetahuan dan wawasan khalayak secara mendalam (Budhiarty,2004).

2.1.6 Perilaku Remaja

Garis pemisah antara awal masa dan akhir masa remaja terletak kira-kira sekitar usia tujuh belas tahun; usia saat mana rata-rata setiap remaja memasuki sekolah menegah tingkat atas. Awal masa remaja berlangsung kira-kira dari tiga belas tahun sampai enam belas tahun atau tujuh belas tahun, dan masa akhir masa remaja bermula dari usia 16 atau 17 tahun sampai delapan belas tahun (Hurlock, 1980).

Perubahan perilaku mencangkup aspek kognisi, afeksi dan aspek konasi. Menurut Winkel dalam (Suharto, 2006) kognisi adalah pengetahuan dan pemahaman yang dimiliki khalayak. Afektif adalah sikap khalyak mengenai tayangan berita di TV. Konasi adalah tindakan individu menurut cara tertentu. Menurut Hurlock dalam (Suharto, 2006) menjelaskan beberapa pola perilaku sosial pada masa anak-anak hingga remaja yaitu : (1) hasrat akan penerimaan sosial, (2) empati, kemampuan meletakkan diri dalam posisi orang lain dan menghayati pengalaman orang tersebut.

2.2 Kerangka Pemikiran

2.2.1 Deskripsi

Tayangan kekerasan di televisi berpotensi memunculkan efek terhadap perilaku khalayak remaja, khususnya siaran berita kriminal. Perilaku individu mengandung tiga ranah utama: kognitif (pengetahuan), afektif (sikap), dan konatif (tindakan), namun penelitian ini tidak mengkaji perubahan perilaku pada ranah konatif. Oleh karena itu, efek tayangan siaran berita kriminal televisi dapat dirinci sebagai pengaruh yang diberikan kepada khalayak melalui isi berita kriminal di televisi, salah satunya berita kriminal. Efek berita kriminal di televisi meliputi efek kognitif dan efek afektif. Efek kognitif berhubungan dengan persepsi khalayak terhadap isi berita kriminal, pengetahuan teknis khalayak akan tindak kejahatan, dan penilaian khalayak terhadap realitas. Afek afektif berkaitan dengan perasaan khalayak sesudah menonton tayangan kekerasan meliputi rasa takut dan curiga. Selain itu, efek afektif juga menyangkut toleransi khalayak akan tindak kekerasan. Efek berita kriminal di televisi tergantung pada keterdedahan khalayak remaja pada berita kriminal di televisi. Keterdedahan khalayak remaja pada berita kriminal di televisi berkaitan dengan jenis berita kriminal, frekuensi dan durasi menonton, dan pengawasan orang tua.

Keterdedahan khalayak akan tayangan kekerasan di televisi tidak secara otomatis langsung memberikan efek bagi khalayak. Hal ini terjadi karena adanya faktor-faktor yang menimbulkan efek yakni faktor personal dan faktor situasional. Faktor personal meliputi Karakteristik individu yang terdiri dari : umur, jenis kelamin, prestasi akaademis di kelas, dan motif menonton. Faktor situasional meliputi karakteristik sosial yakni lokasi tempat tinggal dan lingkungan keluarga.

i34051630

Gambar 1. Kerangka Pemikiran Efek Berita Kriminal Terhadap Perilaku Khalayak Remaja

2.2.2 Hipotesis

Berdasarkan kerangka berfikir di atas, maka hipotesis penelitian sebagai berikut :

1. Ada hubungan antara karakteristik individu dengan keterdedahan khalayak remaja pada berita kriminal di televisi.

2. Ada hubungan antara karakteristik lingkungan sosial dengan keterdedahan khalayak remaja pada berita kriminal di televisi.

3. Ada hubungan antara keterdedahan khalayak remaja pada berita kriminal di televisi dengan efek kognitif dan efek afektif.

2.2.3 Definisi Operasional

1. Karakteristik Individu adalah kondisi atau keadaan spesifik yang dimiliki oleh individu, meliputi umur, jenis kelamin, dan prestasi akademis.

a. Umur adalah lama hidup seseorang sejak lahir hingga sekarang yang diukur dalam satuan waktu. Batas usia remaja awal berkisar 13 tahun-14 tahun.

b. Jenis Kelamin adalah pembedaan gender responden yang dikategorikan atas;

1. Laki-laki 2. Perempuan

c. Prestasi akademis di kelas adalah tingkat kepandaian remaja di kelas berdasarkan penilaian guru yang dinyatakan dalam peringkat nilai rapor. Kategori peringkat di kelas terdiri dari tingkat kepandaian :

1. Tinggi (Jika peringkatnya 1-5); maka diberi skor 1

2. Sedang (jika peringkatnya 6-10); maka diberi skor 2

3. Rendah (jika peringkatnya < 10); maka diberi skor 3

d. Motif menonton adalah Motif menonton adalah dorongan yang timbul dari dalam diri remaja untuk menonton siaran televisi sesuai kebutuhannya yang berpotensi mengarahkan perilaku remaja tersebut dalam menoton siaran berita kriminal di televisi. Motif menonton dikategorikan ;

1. Informasi

2. Hiburan

3. Mengisi waktu luang

4. Interaksi sosial

2. Karakteristik lingkungan sosial adalah spesifik lokasi tempat tinggal individu yang menggambarkan situasi yang berpotensi mempengaruhi individu yang bersangkutan.

a. Lokasi tempat tinggal adalah situasi yang menggambarkan suasana sekitar pemukiman remaja, berdasarkan sering atau tidaknya terjadi tindak kriminalitas seperti (pembunuhan, perampokan, pencurian, pemerkosaan, tawuran, penculikan,pemerkosaan, narkoba). Kategori tersebut terdiri dari :

1. Tidak pernah

2. Jarang (1-2 kali/bulan)

3. Sangat sering (>2 kali/bulan)

b. Lingkungan keluarga adalah keadaan spesifik orang tua (bapak/ibu/wali) yang berpotensi mempengaruhi perilaku remaja, meliputi :

1. Jenis Pekerjaan adalah macam usaha yang dilakukan bapak/ibu/wali yang menjadi sumber penghasilan utama keluarga. Pengukuran menggunakan skala nominal . Dikategorikan sebagai berikut :

1. Ibu rumah tangga 2. Buruh 3. Wiraswasta 4. PNS

5. Swasta 6. TNI/POLRI 7. Lainnya

2. Pendidikan Orang tua adalah tingkat pendidikan formal tertinggi yang diraih bapak/ibu/wali. Pengukuran menggunakan skala nominal. Dikategorikan sebagai berikut :

1. SD 2. SLTP 3. SMU 4. D1/D2/D3 5. S1/S2/S3

3. Pengawasan orang tua adalah arahan dan penjelasan yang diberikan ayah dan ibu atau wali kepada remaja saat menonton berita kriminal. Kategori tersebut terdiri dari :

1. Tidak pernah

2. Kadang-kadang

3. Sering

3. Keterdedahan khalayak remaja terhadap berita kriminal di televisi adalah beragam penerimaan khalayak remaja terhadap siaran berita kriminal di televisi. Meliputi jenis berita kriminal, fekuensi menonton, dan durasi menonton.

a. Jenis berita kriminal adalah kemasan pesan atau format siaran berita kriminal yang ditonton di televisi. Pengukuran menggunakan skala nominal. Kategori jenis berita krimanal di televisi terdiri dari :

1. Berita langsung (berita yang up to date dan langsung disampaikan pada pemirsa)

2. Berita mendalam (berita yang dikupas mendalam yangbertujuan memberi pemahaman yang mendalam kepada pemirsa)

b. Frekuensi menonton adalah banyaknya siaran berita kriminal yang ditonton remaja pada waktu satu minggu. Diukur dalam satuan kali/minggu, kemudian dikategorikan sebagai berikut :

1. Tidak pernah

2. Jarang (jika frekuensi 2-3 kali/minggu)

3. Sering (jika frekuensi > 3 kali/minggu)

c. Durasi Menonton adalah lama waktu remaja melihat dengan cermat siaran berita kriminal di televisi. Pengukuran menggunakan satuan menit/tayangan. Dikategorikan menjadi :

1. Tidak lengkap (durasi berita yang ditonton <15 menit)

2. Lengkap (durasi berita yang ditonton 15-30 menit)

3. Sangat lengkap (durasi berita yang ditonton >30 menit)

4. Efek Kognitif adalah citra atau persepsi yang dibangun khalayak remaja saat dan sesudah menonton berita kriminal di televisi, meliputi persepsi khalayak remaja terhadap isi berita kriminal, pengetahuan teknis akan tindak kekerasan, dan penilaian khalayak remaja tehadap realitas.

a. Persepsi Khalayak Remaja terhadap isi berita kriminal adalah pemaknaan remaja terhadap kriminalitas menurut alur cerita, kemasan, gambar/ilustrasi. Pengukuran menggunakan skala ordinal. Kategori persepsi remaja terhadap isi berita kriminal adalah :

1. Tidak setuju

2. Kurang setuju

3. Setuju

b. Pengetahuan teknis akan tindak kekerasan adalah kedalaman pemahaman tentang cara-cara kriminal seperti gaya berkelahi, penggunaan senjata, dan modus operandi kejahatan saat ataupun sesudah menonton berita kriminal. Pengukuran menggunakan skala ordinal. Kategori tersebut adalah :

1. Tidak paham

2. Kurang paham

3. Paham

c. Penilaian khalayak remaja terhadap realitas adalah perbandingan yang diberikan khalayak remaja saat menonton berita kriminal dengan peristiwa yang ditayangkan di televisi dan kejadian yang terjadi disekitarnya. Pengukuran menggunakan skala ordinal. Dikategorikan sebagai berikut :

1. Tidak setuju (tayangan berita kriminal tidak mewakili kehidupan secara keseluruhan)

2. Kurang setuju (tayangan berita kriminal di televisi tidak semua mewakili kehidupan secara keseluruhan)

3. Setuju (tayangan berita kriminal mewakili kehidupan secara keseluruhan)

5. Efek Afektif adalah rangsangan emosional yang timbul saat atau sesudah remaja menonton siaran berita kriminal di televisi. Meliputi, Perasan sesudah menonton berita kriminal dan toleransi akan tindak kekerasaan.

a. Perasaan sesudah menonton berita kriminal meliputi rasa takut dan curiga. Kategori tersebut diukur dalam skala ordinal berikut :

1. Tidak Takut

2. Agak takut

3. Takut

b. Toleransi akan tindak kekerasan adalah empati yang ditimbulkan individu saat melihat cermat tindak kekerasan terutama kepada korban dan pelaku kejahatan dalam berita kriminal di televisi. Pengukuran menggunakan skala ordinal sebagai berikut:

1. Tidak setuju = berempati

2. Kurang setuju= berkurang rasa toleransi

3. Setuju = sangat berkurang rasa toleransi

III. PENDEKATAN LAPANGAN

3.1 Metode Penelitian

Metode penelitian yang digunakan adalah metode survai yaitu penelitian yang mengambil sampel dari suatu populasi. Pada pelaksanaan survai, digunakan kuesioner sebagai alat pengumpulan data pokok yang nantinya akan diolah dan dianalisa melalui pengujian hipotesa (Singarimbun dan Effendi, 1989).

3.2 Lokasi dan Waktu Penelitian

Penelitian ini dilakukan di SMP Taman Siswa (JL Garuda No. 25, Jakarta Pusat). Pemilihan lokasi ini dipilih secara (purposive), dengan pertimbangan letak geografis yang tidak terlalu jauh dengan peneliti , sehingga memudahkan peneliti dalam memperoleh data dan informasi. Penelitian ini dilakukan pada bulan April 2009 sampai dengan bulan Mei 2009.

3.2 Teknik Pengumpulan Data

Jumlah populasi dalam penelitian ini, sebanyak 160 siswa dari seluruh kelas II SMP yang terdiri dari 4 kelas pararel, namun jumlah responden yang ditentukan untuk penelitian ini sebayak 61 responden. Unit analisis penelitian ini adalah individu remaja yang berusia 13-14 tahun atau usia siswa kelas II Sekolah Menegah Pertama di SMP Taman Siswa Jakarta. Pengambilan sampel dilakukan secara sengaja (purposive) dengan pertimbangan bahwa usia remaja berada pada umur 13-14 tergolong pada usia remaja awal, karena pada usia tersebut merupakan fase penyesuaian mental pembentukkan sikap, nilai, dan minat baru. Perubahan fisik yang terjadi selama tahun awal remaja mempengaruhi tingkat perilaku individu dan mengakibatkan diadakannya penilaian kembali penyesuaian nilai-nilai yang telah bergeser (Hurlock,1980). Selain responden juga dipilih sejumlah informan (kepala sekolah, guru, dan staf sekolah) untuk memperoleh gambaran umum mengenai kondisi sekolah bersangkutan.

Data yang dikumpulkan dalam penelitian ini adalah data primer dan data sekunder. Data Primer diperoleh melalui kuesioner dan wawancara. Data sekunder diperoleh dari studi kepustakaan,dan studi dokumentasi.

3.3 Teknik Analisis Data

Data yang terkumpul kemudian akan diolah dengan menggunakan program komputer SPSS Versi 13. Alasan digunakan program ini adalah untuk mempermudah dilakukannya proses pengolahan yang ada. Data dari pengisian kuesioner disajikan dalam bentuk distribusi frekuensi dan tabulasi silang. Data yang diperoleh bersifat nominal dan ordinal, sehingga untuk menganalisis hubungan antara data tersebut digunakan Korelasi Rank Spearman dan Chi-Square.

Korelasi Rank Spearman yakni menguji hipotesis mengenai hubungan antar variabel yang syarat penggunaannya menggunakan variabel ordinal.

Sedangkan syarat uji Chi-Square salah satu variabelnya berukuran nominal. Hasil uji Chi-Square kemudian digunakan untuk melihat keeratan hubungan antara dua variabel dengan rumus koefisien kontingensi ( C ). Makin besar C berarti hubungan antar dua variabel makin erat. Nilai C berkisar 0-1 (Singarimbun da Effendy, 1999).

DAFTAR PUSTAKA

Anonim. 2002. Tayangan Kekerasan. http://72.14.235.132/search?q= cache:4xVt597LpAwJ:www.warmasif.co.id/kesehatanonline/mod.php%3Fmod%3Ddownload%26op%3Dvisit%26lid%3D394+tayangan+kekerasan&hl=id&ct=clnk&cd=26&gl=id. Diakses pada 8 januari 2009.

Anonim. 2005. Mereka Belajar dari Berita Kriminal Televisi.. http://www2.kompas.com/kompas-cetak/0503/24/sumbagut/1638777.htm. Diakses pada Sabtu, 17 Januari 2009.

Arixs. 2006. Tayangan Kekerasan dan Kesadisan perlu Dikontrol.http://www.cybertokoh.com/mod.php?mod=publisher&op=viewarticle&artid=715. Diakses pada Sabtu, 17 Januari 2009.

Atkinson, Rita L, dkk. 1983. Pengantar Psikologi 1 Edisi Kedelapan Jilid 1. Jakarta : Erlangga.

Robert A, Baron.2005. Psikologi Sosial Jilid 1 Edisi 10. Jakarta : Erlangga.

Budhiarty, Eka. 2004. Hubungan Antara Perilaku Menonton Program Berita Kriminal di Televisi dengan Agresivitas Remaja (Kasus Siswa Sekolah Menengah Umum Negeri 112, Kelurahan Meruya Utara, Kecamatan Kembangan, Kota Jakarta Barat, Propinsi DKI Jakarta).[Skrip]. Bogor : Departemen Ilmu-ilmu Sosial Ekonomi Pertanian, Fakultas Pertanian, Institut Pertanian Bogor.

De Vito, Joseph A. 1997. Komunikasi Antar Manusia : Kuliah Dasar. Edisi 5. Jakarta : Professional Books.

Ellen, Wartella, Adriana Olivarez, Nancy Jennings. 2005. McQuail Mass Communication Theory. London : Sage Publication.

Hurlock, Elizabeth B. 1980. Psikologi Perkembangan : Suatu Pendekatan Sepanjang Rentang Kehidupan. Edisi kelima. Jakarta : Erlangga.

Mardalis, Drs. 2007. METODE PENELITIAN Suatu Pendekatan Proposal. Jakarta : PT Bumi Aksara

Mazdalifah. 1999. Hubungan Keterdedahan Tayangan Kekerasan di Televisi dengan Aspek Pengetahuan, Sikap dan Tindakan Anak Kasus Murid SD Negeri 1 Gunung Batu Bogor Barat.[Tesis]. Bogor : Program Pasca Sarjana, Institut Pertanian Bogor.

McQuail, Dennis. 2000. Mass Communication Theory An Introduction fourth Edition. Sage Publication. London : Thousand Oak-New Dehli.

Mulyana, Deddy. 2001. Ilmu Komunikasi Suatu Pengantar. Bandung : Remaja Rosdakarya.

Mu’tadin, Zainun. 2002. Faktor Penyebab Perilaku Agresi. http://www.e-psikologi.com/remaja/100602.htm. Diakses pada 17 Januari 2009

Novilena, Patty. 2004. Hubungan Karakteristik Individu, Sikap dan Perilaku Menonton Tayangan Berita Kriminal di Televisi (Kasus Desa Tambun Raya, Kecamatan Basarang, Kabupaten Kapuas, Propinsi Kalimantan Tengah). [Skrip]. Bogor : Departemen Ilmu-ilmu Sosial Ekonomi Pertanian, Fakultas Pertanian, Institut Pertanian Bogor.

Purwatiningsih, Sri Desti. 2004. Motif Menonton Berita Kriminal di Televisi dan Pemenuhan Kebutuhan Informasi Audiens.[Tesis]. Bogor : Sekolah PascaSarjana, Institut Pertanian Bogor.

Pitaloka, Ardiningtiyas RR. 2006. Pengkondisian Kekerasan oleh Media Televisi Kita. http://www.e-psikologi.com/sosial/111206.htm. Diakses pada Sabtu, 17 Januari 2009.

Rakhmat, Jalaluddin. 2004. Psikologi Komunikasi Massa. Bandung : Remaja Rosdakarya.

Romer, Daniel, Kathleen Hall, Sean Aday. 2003. Television News And Cultivation of Fear of Crime dalam Journal of Communication Vol.53 No.1/ ISSN 0021-9916.Oxford University Press.

Siagian, E. Christina T. 2000. Analisis Isi Berita Pembangunan di Rajawali Citra Televisi Indonesia dalam Tahun 1997. [Skrip]. Bogor : Program Pascasarjana, Institut Pertanian Bogor.

Singarimbun, Masri dan Sofian Efendi (Ed). 1989. Metode Penelitian Survai. Jakarta : LP3ES.

Suangga, Oktaviany. 2004. Persepsi Remaja Pedesaan terhadap Tayangan Berita Kriminalitas di Televisi. [Skrip]. Bogor : Departemen Ilmu-ilmu Sosial Ekonomi Pertanian, Fakultas Pertanian, Institut Pertanian Bogor.

Suharto, Ari. 2006. Hubungan Pola Menonton Berita Kriminal di Televisi dengan Perilaku Remaja (Kasus SLTPN 175 Jakarta dan SMPN 1 Dramaga Bogor). [Skrip]. Bogor : Program Studi Komunikasi dan Pengembangan Masyarakat, Fakultas Pertanian, Institut Pertanian Bogor.

Vera, Nawiroh S.sos. 2007. Kekerasan dalam Media Massa ; Perspektif Kultivasi. Fakultas Ilmu Komunikasi Universitas Budi Luhur. http ://209.85.175.104?q=cache: lbhh4195j98j : jurnal.bl.ac.id]. Diakses pada 28 Oktober 2008.

Widiastuti, Wahyu. 2002. Dampak Adegan Kekerasan di Televisi terhadap Perilaku Agresif Remaja Perkotaan. Jurnal Penelitian UNIB Vol. VIII. No 3, Hal 140-143. Fakultas Ilmu Sosial dan Politik. Universitas Bengkulu.

Wiryanto. 2000. Teori Komunikasi Massa. Jakarta : Grasindo.

LAMPIRAN 1

Kuesioner Penelitian

Survei “ Efek Berita Kriminal di Televisi terhadap Perilaku Khalayak Remaja

(Kasus SMP Taman Siswa Jakarta Pusat)

Oleh : Virgin Valentine H.

Program Studi Sains Komunikasi dan Pengembangan Masyarakat, Fema IPB Bogor

1. Nomor Kode :

2. Nama Lengkap :

3. Alamat Rumah :

4. No.Telp/HP :

KARAKTERISTIK RESPONDEN

1. Umur : …………..th

2. Jenis Kelamin : 1. Laki-laki 2. Perempuan

3. Ranking semester terakhir :

1. 1-5 2. 6-10 3. >10

4. Pekerjaan orang tua : Ayah………….. Ibu……………..

1. Ibu Rumah Tangga 2. Buruh 3. Wiraswassta 7. Lainnya, sebutkan…

4. PNS 5. Swasta 6. TNI/POLRI

5. Tingkat Pendidikan : Ayah……….Ibu……

1. SD 2.SLTP 3. SMU 4. D1/D2/D3 5. S1/S2/S3

6. Berapa lama waktu luang Anda sepulang dari sekolah ?……..jam

1. > 5 2. 3-5 3. 1-2

7. Apakah ada kegiatan di luar jam sekolah ?

1. ada 2. tidak

8. Jika ada, kegiatan apa yang Anda lakukan? jawaban boleh lebih dari Satu

1. ekstrakululer di sekolah, apa?…..

2. bimbingan belajar, apa?…..

3. les, apa?….

4. lainnya sebutkan……………

9. Berapa lama waktu yang diperlukan saat anda melakukan kegiatan di luar jam sekolah?…..jam

1. > 5 2. 3-5 3. 1-2

10. Berapa jam Anda menonton televisi dalam sehari?…..jam

1. > 5 2. 3-5 3. 1-2

11. Jenis tayangan apa yang biasanya ditonton di televisi? Jawaban boleh lebih dari satu!

1. Infotaiment 2. Berita 3. Film(serial/kartun) 4. Kuis 5. Sinetron

6. Reality Show 7. Tayangan religus (dakwah,penyejuk rohani) 6. Komedi

MOTIF MENONTON

1. Mengapa Anda menonton televisi? Lingkarilah nomor yang sesuai dengan Anda. Pilihlah 8 jawaban di bawah ini!

  1. Memuaskan rasa keingintahuan
  2. Menemukan bahan percakapan dengan orang lain
  3. Bila tidak ada hal lain yang dikerjakan
  4. Melepaskan ketegangan
  5. Agar saya dapat belajar bagaimana melakukan hal-hal yang belum pernah saya lakukan
  6. Membantu menjalankan peran sosial
  7. Teman di waktu senggang
  8. Membuat diri saya santai
  9. Mencari berita tentang kondisi yang berkaitan dengan lingkungan terdekat, masyarakat, dan dunia
  10. Mengidentifikasikan diri dengan orang lain
  11. Aktivitas selingan atau tambahan
  12. Melepaskan diri atau terpisah dari permasalahan
  13. Menambah pengetahuan
  14. Memberikan keeratan hubungan dengan sesama melalui aktivitas menonton bersama
  15. Mengisi waktu istirahat
  16. Memperoleh kenikmatan jiwa (senang, bahagia)

KARAKTERISTIK LINGKUNGAN SOSIAL

1. Dimana Anda tinggal saat ini?

1. Rumah 2. Kost 3. Lainnya,sebutkan!…………..

2.Seberapa jauh tempat tinggal Anda dari tempat-tempat berikut ini?………m

1. Pasar …..m

2. Mall …..m

3. Stasiun …..m

4. Terminal …..m

5. Pertokoan/ruko …..m

6. Tempat hiburan (kafe, diskotik, tempat Billiard)…..m

4.Berikut ini, jenis tindak kriminalitas apa yang pernah terjadi di lingkungan sekitar Anda dalam satu bulan?

No.

Jenis Tindak Kriminalitas

Frekuensi kejadian/bulan

1.

Pencurian

1. Tidak Pernah 2. Pernah………..kali

2.

Perampokan

1. Tidak Pernah 2. Pernah………..kali

3.

Pembunuhan

1. Tidak Pernah 2. Pernah………..kali

4.

Penculikan

1. Tidak Pernah 2. Pernah………..kali

5.

Pemerkosaan

1. Tidak Pernah 2. Pernah………..kali

6.

Tindak kekerasan

1. Tidak Pernah 2. Pernah………..kali

7.

Narkoba

1. Tidak Pernah 2. Pernah………..kali

5. Siapa yang sering mendampingi Anda menonton televisi?

1. Ayah 2. Ibu 3. Anggota keluarga lainnya (tante/om/kakak/adik)

6. Apakah ayah/ibu/ anggota keluarga lainnya (tante/om/kakak/adik) melakukan hal-hal berikut ini saat menonton televisi bersama Anda?

No

Pernyataan

Tidak pernah

Kadang-kadang

Sering

1.

Menetapkan aturan menonton televisi.

2.

Menetapkan aturan dengan siapa menonton televisi.

3.

Menjelaskan isi dari tayangan-tayangan di televisi.

4.

Mengomentari kemasan/cara penyajian acara di televisi, seperti presenter, desain acara (apakah melalui dialog, kuis, episode, konser, dsb).

5.

Menjelaskan gambar dari tayangan siaran televisi.

6.

Menetapkan aturan jenis tayangan televisi yang boleh/ tidaknya ditonton.

KETERDEDAHAN BERITA KRIMINAL

1. Apakah Anda pernah menonton program berita kriminal di televisi?

1. Ya 2. Tidak

2. Jika Ya, jenis berita kriminal apa dan bagaimana Anda menontonnya?

Judul Berita Kriminal

Stasiun Televisi

Jam Tayang (durasi per menit)

Frekuensi (berapa kali/minggu)

Durasi menonton

(menit)

< 15menit /tayangan

15-30 menit/ tayangan

>30 menit/ tayangan

Sidik Pagi

TPI

06.00 (30’)

Sidik

TPI

11.30 (60’)

Tangkap 2

ANTV

16.30(30’)

Tangkap

ANTV

02.30(30’)

Patroli

Indosiar

11.30(30’)

TKP

TRANS 7

10.00(30’)

Sergap

RCTI

12.30(30’)

Buser

SCTV

01.00(30’)

Black in News

TRANS 7

23.00(30’)

Mengejar Buronan

ANTV

22.30(30’)

FAKTA

TPI

23.30(30’)

Metro Realitas

METRO TV

23.05(30’)

Membeli Menipu

TV ONE

08.30(30’)

Buser Menit

SCTV

01.00(30’)

Sidik Kasus

TPI

11.30(30’)

Di Balik Tragedi

TV ONE

03.00 (60’)

Delik

RCTI

00.30(30’)

Reality

INDOSIAR

15.00(30’)

3.Mengapa Anda menonton program berita kriminal di atas? Karena……………………………………………………………………………………………………..

4. Jika Tidak, mengapa?……………………………………………………………………………….

EFEK KOGNITIF

Persepsi Khalayak Remaja terhadap isi berita

Bagaimana pendapat Anda terhadap pernyataan berikut ini ?

Beri tanda contreng (√) pada jawaban yang Anda pilih!

No

Pernyataan

Tidak Setuju

(1)

Kurang Setuju (2)

Setuju (3)

1.

Alur cerita yang menceritakan kejadian kriminalitas secara lengkap.

2.

Cara penyampaian berita kriminal yang membahas perstiwa kriminalitas secara rinci.

3.

Apabila sebuah peristiwa (misalnya pembunuhan), dibahas secara menyeluruh, dan diperlihatkan proses kejadian tanpa ditutupi (misalkan proses kejadian saat pelaku menusuk korban).

4.

Apabila gambar yang disajikan tidak ada penyensoran.

Pengetahuan Teknis Akan Tindak Kekerasan

Beri tanda contreng (√) pada jawaban yang Anda pilih!

No

Sejauh mana Anda memahami teknis tindak kekerasan berikut ini?

Tidak paham (1)

Sedikit paham (2)

Paham (3)

1.

Cara penggunaan senjata api

2.

Cara penggunaan senjata tajam

3.

Cara penggunaan bahan-bahan peledak

3.

Cara memukul

4.

Cara menendang

5.

Cara menjambret

6.

Cara menipu

7.

Cara menghipnotis

5.

Motif pelaku kejahatan melakukan tindak kriminalitas (modus operandi).

Penilaian Khalayak Remaja Terhadap Realitas Sebenarnya

Bagaimana Anda menilai kriminalitas?

Beri tanda contreng (√) pada jawaban yang Anda pilih!

No

Pernyataan

Tidak Setuju

(1)

Kurang Setuju (2)

Setuju (3)

1.

Kriminalitas dapat terjadi di semua tempat.

2.

Setiap hari selalu ada kemungkinan terjadi kriminalitas pada diri Anda.

3.

Tidak ada tempat yang terhindar dari tindak kriminalitas.

4.

Tidak ada jaminan keamanan yang pasti di setiap tempat.

5.

Seharusnya tidak percaya kepada orang yang baru dikenal.

6.

Lebih baik jangan memiliki kepercayaan kepada semua orang.

7.

Setiap orang bisa berbuat tindak kriminalitas dengan alasan tertentu.

8.

Orang terlibat kriminalitas karena paksaan.

9.

Orang terdekat seperti anggota keluarga, saudara Anda bisa menyakiti dan melakukan tindak kriminalitas kepada orang lain.

10.

Penyebab terjadinya kriminalitas karena kecerobohan diri sendiri.

EFEK AFEKTIF

Perasaan Sesudah Menonton Berita Kriminal

Takut

Bagaimana perasaan Anda apabila melakukan hal-hal berikut ini?

Beri tanda contreng (√) pada jawaban yang Anda pilih!

No.

Tidak Takut (1)

Agak Takut

(2)

Takut

(3)

1.

Tinggal di rumah sendirian.

2.

Keluar rumah sendiri.

3.

Pergi ke tempat yang pernah terjadi tindak kriminalitas?

4.

Melihat cucuran darah korban atau pelaku tindak kriminalitas di televisi.

5.

Berjalan di waktu malam hari.

6.

Melihat sekumpulan orang melakukan tawuran.

7.

Pergi ke pusat keramaian seperti pasar, mall,terminal, stasiun sendiri.

8.

Melewati sekumpulan orang yang sedang berkumpul di depan gang rumah Anda.

9.

Melihat orang yang berkelahi.

Curiga

Bagaimana tingkat kecurigaan Anda terhadap hal-hal berikut ini?

Beri tanda contreng (√) pada jawaban yang Anda pilih!

No.

Pernyataan

Tidak Curiga (1)

Kurang Curiga (2)

Curiga

(3)

1.

Orang yang melihat/memperhatikan Anda terus-menerus di tempat umum.

2.

Melihat preman-preman di jalan.

3.

Jika duduk bersebelahan dengan orang yang tidak Anda kenal di setiap tempat.

4.

Jika menemui orang yang tidak Anda kenal bertanya kepada Anda terus-menerus.

5.

Saat melihat orang membawa senjata tajam.

6.

Orang yang datang ke rumah Anda untuk meminta sumbangan.

7.

Melihat orang melewati depan rumah Anda berkali-kali.

8.

Jika ada orang yang baru Anda kenal menawari makanan atau minuman kepada Anda.

Toleransi Akan Tindak Kejahatan

Beri tanda contreng (√) pada jawaban yang Anda pilih!

No.

Pernyataan

Tidak Setuju

(1)

Kurang Setuju (2)

Setuju (3)

1.

Pelaku tindak kriminalitas pantas diberi hukuman yang setimpal.

2.

Pelajar melakukan tawuran dengan menggunakan senjata tajam.

3.

Menurut saya, tindak kekerasan seperti memukul, menendang, menjambak, dan menampar boleh dilakukan siswa sekolah terhadap orang lain.

4.

Polisi memukuli pelajar yang melakukan tawuran untuk menghentikan perkelahian.

5.

Tindak kekerasan seperti memukul, menendang, menampar, menjambak, dsb diperlukan sebagai usaha menjaga diri dari tindak kriminalitas.

6.

Kita perlu membawa senjata tajam dimana pun dan memakainya di saat situasi mencekam untuk menghindari tindak kriminalitas.

7.

Orang dipukuli habis-habisan karena telah melakukan tindak kriminal merupakan hal yang wajar.

8.

Menurut saya, hal yang jika saya melihat orang menyerang orang lain dengan menggunakan senjata/alat tertentu (tidak terbatas hanya benda tajam tetapi juga benda sehari-hari misalnya memukul dengan penggaris atau gesper)

9.

Setiap pelaku tindak kriminalitas pantas mendapatkan kekerasan fisik setimpal dengan perbuatannya.

PANDUAN PERTANYAAN

RESPONDEN

1. Apakah yang Anda ketahui tentang program berita kriminal?

2. Apakah Anda menyukai program berita kriminal? Mengapa?

3. Menurut pendapat Anda apakah program berita kriminal itu menarik?

4. Bagaimana persepsi Anda tentang kondisi kejahatan di Indonesia setelah Anda menonton program berita kriminal?

5. Menurut Anda efek apa yang terjadi pada penonton yang sering menyaksikan berita kriminal?

INFORMAN (Kepala Sekolah, guru, dan staf sekolah)

1. Deskripsikan letak geografis sekolah ini?

2. Deskripsikan situasi dan kondisi sekolah ini?

3. Apa sajakah prestasi dan keunggulan sekolah ini?

4. Apa sajakah kegiatan yang menunujang prestasi siswa/i yang ada di sekolah ini?


LAMPIRAN 111

RENCANA KEGIATAN PENELITIAN

Kegiatan

Maret 2009

April 2009

Mei 2009

Juni 2009

1

11

111

1V

1

11

111

1V

1

11

111

1V

1

11

111

1V

I. Proposal dan Kolokium

Penyusunan draft dan revisi

Konsultasi proposal

Kolokium dan Perbaikan

11. Penelitian Lapang

Pengumpulan data

Pengolahan dan analisis data

III. Penulisan laporan

Penyusunan draft dan revisi

Konsultasi laporan

IV. Ujian Skripsi

Ujian

Perbaikan laporan


[1] Arixs. 2006. Tayangan Kekerasan dan Kesadisan perlu Dikontrol. http://www.cybertokoh.com/mod.php? mod=publisher&op=viewarticle&artid=715. Diakses pada Sabtu, 17 Januari 2009.

About these ads

3 Tanggapan to “Efek Berita Kriminal Terhadap Perilaku Khalayak Remaja (Kasus : SMP Taman Siswa, Jakarta Pusat)”

  1. litha0503 said

    pada kolokium ini sudah sangat bagus sekali. permasalahan diangkat sedemikian rupa sehingga tersaji dengan baik dan saya sebagai pembaca mengerti akan problematik tayangan televisi yang secara tidak sengaja mengandung unsur kekerasan sehingga akan lebih berdampak pada kriminalitas. akan tetapi, akhir dari bacaan kolokium ini tidak terlalu menampakkan penyelesaian yang sangat signifikan.

  2. good job,,

  3. Septaria said

    saya sangat setuju dari pernyataan diatas, namun diperlukan bimbingan dari orang tua dan kembali dari diri anak, apakah mereka dapat menyeleksi dengan baik mana yang bermanfaat / tidak????????????/

Berikan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

 
Ikuti

Get every new post delivered to your Inbox.

%d blogger menyukai ini: