Kolokium Sains Komunikasi dan Pengembangan Masyarakat, Institut Pertanian Bogor

Posts Tagged ‘CSR’

Peranan Corporate Social Responsibility (CSR) PT. Rekayasa Industri dalam Rangka Pengembangan Masyarakat

Posted by kolokium kpm ipb pada 22 April 2009

MAKALAH KOLOKIUM

Nama Pemrasaran/NRP : M.Reza Maulana / I34052510

Departemen : Sains Komunikasi dan Pengembangan Masyarakat

Pembahas : Egi Massardy / I34052453

Dosen Pembimbing/NIP : Ir. Fredian Tonny Nasdian, MS / 131.475.577

Judul Rencana Penelitian : Peranan Corporate Social Responsibility (CSR) PT. Rekayasa Industri dalam Rangka Pengembangan Masyarakat

Tanggal dan Waktu : Selasa, 21 April 2009/ 13.00-14.00 WIB

I. PENDAHULUAN

2.1 Latar Belakang

Setiap perusahaan di Indonesia akan melakukan berbagai kegiatan terencana untuk dapat menjaga eksistensinya dan menjadi Good Bussiness. Salah satunya adalah dengan menerapkan Corporate Sosial Responsibility (CSR). Penerapan CSR merupakan komitmen dunia usaha untuk terus bertindak etis, beroperasi secara legal dan berkontribusi untuk peningkatan ekonomi, bersamaan dengan peningkatan kualitas hidup dari karyawan dan keluarganya sekaligus juga peningkatan kualitas komunitas lokal dan masyarakat secara luas (The World Bussiness Council for Sustainable Development (WBCSD) dalam Wibisono, 2007).

Penerapan CSR di Indonesia semakin meningkat baik dalam kuantitas maupun kualitas. Selain keragaman kegiatan dan pengelolaannya semakin bervariasi, dilihat dari kontribusi finansial, jumlahnya semakin besar. Penelitian PIRAC pada tahun 2001 menunjukkan bahwa dana CSR di Indonesia mencapai lebih dari 115 miliar rupiah atau sekitar 11.5 juta dollar AS dari 180 perusahaan yang dibelanjakan untuk 279 kegiatan sosial yang terekam oleh media massa[1].

Perihal penerapan CSR di Indonesia telah diatur dalam beberapa peraturan perundang-undangan dan keputusan menteri, yaitu UU No.25 Tahun 2007 tentang Penanaman Modal LNNo.67 TLN No.4274, UU No.40 Tahun 2007 tentang Perseroan Terbatas dan Keputusan Menteri BUMN Nomor: Kep-236/MBU/2003 tentang Program Kemitraan Badan Usaha Milik Negara dengan Usaha kecil dan Program Bina Lingkungan (PKBL). Mewajibkan CSR merupakan salah satu upaya pemerintah dan menyeimbangkan pertumbuhan ekonomi dan pemerataan ekonomi.

Dalam menerapkan CSR, umumnya perusahaan akan melibatkan partisipasi masyarakat, baik sebagai objek maupun sebagai subjek program CSR. Hal ini dikarenakan masyarakat adalah salah satu pihak yang cukup berpengaruh dalam menjaga eksistensi suatu perusahaan. Masyarakat adalah pihak yang paling merasakan dampak dari kegiatan produksi suatu perusahaan, baik itu dampak positif ataupun negatif. Dampak ini dapat terjadi dalam bidang sosial, ekonomi, politik maupun lingkungan.

PT Rekayasa Industri (PT REKIND) merupakan salah satu perusahaan milik negara (BUMN). PT REKIND bergerak bidang rancang bangun, pengadaan, konstruksi dan uji-coba operasi (EPCC) untuk pabrik-pabrik industri besar di Indonesia. PT REKIND merupakan perusahaan yang berbasis proyek akan banyak berhubungan dengan berbagai pihak/stakeholder dalam menjalankan usahanya. Dalam menjaga hubungan baik dengan masyarakat sebagai salah satu stakeholder, PT Rekayasa Industri telah menjalankan beberapa program CSR, diantaranya adalah sunatan masal, bantuan mudik dan fogging di sekitar perusahaan serta program-program CSR lainnya disekitar proyek PT Rekayasa Industri, sebagai contoh di lomba kesenian daerah di sekitar proyek Lahendong-3 Geothermal, program perbaikan jalan dan sunatan masal di wayang windu-2 Geothermal, dan sebagainya. Atas dasar latar belakang diatas, penulis ingin mengetahui dan menganalisis sampai sejauh mana strategi pendekatan dan implementasi CSR telah memberdayakan dan meningkatkan taraf hidup masyarakat?

2.2 Perumusan Masalah

Perumusan masalah utama dalam penelitian ini adalah sampai sejauh mana strategi pendekatan dan implementasi CSR PT REKIND telah memberdayakan dan meningkatkan taraf hidup masyarakat? Untuk menjawab perumusan masalah utama maka ditarik beberapa pertanyaan spesifik dalam penelitian ini, yaitu: (1) Bagaimana implementasi CSR yang dilakukan oleh PT Rekayasa Industri? (2) Sejauh mana pelaksanaan CSR PT Rekayasa Industri telah berbasiskan pemberdayaan masyarakat ataukah masih sebatas pemberian dari korporasi? (3) Bagaimana dampak yang diperoleh PT Rekayasa Industri dan masyarakat dari pelaksanaan program CSR tersebut?

2.3 Tujuan Penelitian

Tujuan utama penelitian ini yaitu untuk menggambarkan sampai sejauh mana strategi pendekatan dan implementasi CSR PT Rekayasa Industri telah memberdayakan dan meningkatkan taraf hidup masyarakat. Adapun tujuan utama tersebut dapat dijawab melalui tujuan penelitian ini, yaitu: (1) Memahami dan mengkaji pengimplementasian CSR yang dilaksanakan oleh PT REKIND; (2) Mengkaji pelaksanaan CSR yang dijalankan oleh PT REKIND apakah telah berbasis pemberdayaan masyarakat atau masih sebatas pemberian dari korporasi; (3) Dampak program CSR yang dilaksanakan bagi PT REKIND dan masyarakat.

2.4 Kegunaan Penelitian

Hasil penelitian ini diharapkan dapat memberikan sumbangsih yang bermanfaat bagi berbagai pihak yang berminat maupun yang terkait dengan masalah CSR, khususnya kepada: (1) Peneliti yang ingin mengkaji lebih jauh mengenai CSR dalam rangka pengembangan masyarakat; (2) Kalangan akademisi, dapat menambah literatur dalam mengkaji CSR; (3) Kalangan non-akademisi, pemerintah dan swasta dapat bermanfaat dalam penerapan CSR diberbagai sektor, khususnya sebuah perusahaan.

II. PENDEKATAN KONSEPTUAL

2.1 Tinjauan Pustaka

2.1.1 Corporate Social Responsibility (CSR)

Wibisono (2007) mendefinisikan CSR sebagai tanggung jawab perusahaan kepada pemangku kepentingan untuk berlaku etis, meminimalkan dampak negatif dan memaksimalkan dampak positif yang mencakup aspek ekonomi sosial dan lingkungan (triple bottom line) dalam rangka mencapai tujuan pembangunan berkelanjutan. Sementara Nursahid (2006) mendefinisikan CSR sebagai tanggung jawab moral suatu organisasi bisnis terhadap kelompok yang menjadi stakeholder-nya yang terkena pengaruh baik secara langsung ataupun tidak langsung dari operasi perusahaan.

Penerapan CSR dangat dipengaruhi oleh pandangan perusahaan mengenai CSR. Wibisono (2007) menjelaskan beberapa cara pandang perusahaan terhadap CSR, yaitu: (1) Sekedar basa-basi atau keterpaksaan. Perusahaan mempraktekkan CSR karena external driven (faktor eksternal), environmental driven (karena terjadi masalah lingkungan dan reputation driven (karena ingin mendongkrak citra perusahaan); (2) Sebagai upaya memenuhi kewajiban (compliance); (3) CSR diimplementasikan karena adanya dorongan yang tulus dari dalam (internal driven).

Saidi (2004) dalam Tanudjaja (2008) membagi CSR menjadi 4 model, yaitu keterlibatan langsung, melalui yayasan atau organisasi sosial perusahaan, bermitra dengan pihak lain, dan mendukung atau bergabung dalam suatu konsorsium. Sementara itu, Wibisono (2007) menjelaskan bahwa penerapan CSR yang dilakukan oleh perusahan dapat dibagi menjadi empat tahapan, yaitu tahap perencanaan, implementasi, evaluasi dan pelaporan.

CSR yang diterapkan oleh perusahaan akan mendatangkan berbagai manfaat bagi perusahaan dan masyarakat yang terlibat dalam menjalankannya. Menurut Wibisono (2007) manfaat bagi perusahaan yang berupaya menerapkan CSR, yaitu dapat mempertahankan atau mendongkrak reputasi dan brand image perusahaan, layak mendapatkan social licence to operate, mereduksi risiko bisnis perusahaan, melebarkan akses sumberdaya, membentangkan akses menuju market, mereduksi biaya, memperbaiki hubungan dengan stakeholders, memperbaiki hubungan dengan regulator, meningkatkan semangat dan produktivitas karyawan serta berpeluang mendapatkan penghargaan. Sedangkan manfaat CSR bagi masyarakat menurut Ambadar (2008), yaitu dapat meningkatkan kualitas sumberdaya manusia, kelembagaan, tabungan, konsumsi dan investasi dari rumah tangga warga masyarakat.

2.1.2 Pengembangan Masyarakat

Pengembangan masyarakat adalah salah satu pendekatan yang harus menjadi prinsip utama bagi seluruh unit-unit kepemerintahan maupun pihak korporasi dalam menjalankan tugas dan fungsinya dalam memberikan pelayanan sosial (Ambaddar, 2008). Pengembangan masyarakat menurut Giarci (2001) dalam Subejo dan Supriyanto (2004) adalah suatu hal yang memiliki pusat perhatian dalam membantu masyarakat pada berbagai tingkatan umur untuk tumbuh dan berkembang melalui berbagai fasilitasi dan dukungan agar mereka mampu memutuskan, merencanakan dan mengambil tindakan untuk mengelola dan mengembangkan lingkungan fisiknya serta kesejahteraan sosialnya. Proses ini berlangsung dengan dukungan collective action dan networking yang dikembangkan masyarakat. Sejalan dengan itu, Payne (1995:165) dalam Ambadar (2008) menjelaskan bahwa pengembangan masyarakat memiliki fokus terhadap upaya membantu anggota masyarakat yang memiliki kesamaan minat untuk bekerja sama, dengan mengidentifikasikan kebutuhan bersama dan kemudian melakukan kegiatan bersama untuk memenuhi kebutuhan tersebut.

Pengembangan masyarakat sebagai perencanaan sosial perlu berlandaskan pada asas-asas, yaitu: komunitas dilibatkan dalam setiap proses pengambilan keputusan, mensinergikan strategi komprehensif pemerintah, pihak-pihak terkait dan partisipasi warga, membuka akses warga atas bantuan profesional, teknis, fasilitas, serta insentif lainnya agar meningkatkan partisipasi warga, dan mengubah perilaku profesional agar lebih peka pada kebutuhan, perhatian dan gagasan warga komunitas. Selain memiliki asas-asas, pengembangan masyarakat juga memiliki beberapa prinsip. Prinsip-prinsip Community Development dalam tiga bagian penting, yaitu ekologi, keadilan sosial, nilai-nilai lokal, proses, dan global-lokal. Prinsip yang terkait dengan masalah ekologi, yaitu prinsip holistik; keberlanjutan; keanekaragaman; pembangunan organis dan keseimbangan. Prinsip yang terkait dengan keadilan sosial meliputi prinsip menghilangkan ketimpangan struktural; memusatkan perhatian pada wacana yang merugikan; pemberdayaan; mendefiniskan kebutuhan; dan menjunjung tinggi hak asasi manusia. Prinsip yang terkait menghargai nilai-nilai lokal yaitu prinsip pengetahuan lokal; budaya lokal; sumberdaya lokal; ketrampilan lokal; dan menghargai proses lokal. Prinsip yang terkait proses meliputi prinsip proses, hasil, dan visi; keterpaduan proses; peningkatan kesadaran; partisipasi; kooperasi dan konsensus; tahapan pembangunan; perdamaian dan anti kekerasan; inklusif; dan membangun komunitas. Prinsip yang terkait global dan lokal meliputi prinsip hubungan antara global dan lokal; serta praktik Anti Penjajah (Anti-colonialist practice) (Ife, 2002).

Dalam melaksanakan suatu program pengembangan masyarakat terdapat berbagai macam strategi pengembangan masyarakat. Chin dan Benne (1961) dalam Nasdian (2006) memperkenalkan tiga strategi yang dapat dijadikan strategi pengembangan masyarakat, yaitu rational-empirical, normative-reeducative, dan power-coersive.

2.1.3 Pemberdayaan dan Partisipasi

Nasdian (2006) menjelaskan bahwa partisipasi adalah proses aktif, inisiatif diambil oleh warga komunitas sendiri, dibimbing oleh cara berfikir mereka sendiri, dengan menggunakan sarana dan proses (lembaga dan mekanisme) dimana mereka dapat menegaskan kontrol secara efektif. Sementara itu, Paul (1987) dalam Nasdian (2006) memberikan pengertian mengenai partisipasi sebagai berikut:

“…..participation refers to an active process whereby beneficiaries influence the direction and execution of development projects rather than mercly receive a share of project benefits”.

Pengertian di atas melihat keterlibatan masyarakat mulai dari tahap pembuatan keputusan, penerapan keputusan, penikmatan hasil dan evaluasi (Cohen dan Uphoff, 1980 dalam Nasdian, 2006). Melihat berbagai pendapat yang ada mengenai pemberdayaan dan partisipasi, maka pemberdayaan dan partisipasi di tingkat komunitas dapat dikatakan dua konsep yang erat kaitannya (Nasdian, 2006). Pendapat ini sejalan dengan Craig dan Mayo (1995) dalam Nasdian (2006), yaitu: “empowerment is road to participation”.

2.1.2 Kemiskinan dan Model Kesejahteraan Keluarga

Menurut Badan Koordinasi Keluarga Berencana Nasional (BKKBN), kemiskinan dapat diartikan sebagai situasi dimana penduduk hanya dapat memenuhi kebutuhan makan, pakaian dan perumahan dalam tingkat minimum yang sangat diperlukan untuk sekedar hidup. Untuk melihat dan mengukur angka kemiskinan dapat digunakan indikator ekonomi secara makro seperti tingkat pertumbuhan ekonomi, pendapatan per kapita, distribusi pendapatan per kapita, indeks gini ratio. BKKBN melihat taraf hidup masyarakat dari segi kesejahteraan keluarga. BKKBN melakukan Pendataan Keluarga setiap tahunnya semenjak tahun 1994. Pendataan Keluarga dilakukan dengan tujuan untuk memperoleh data dasar kependudukan dan keluarga dalam rangka program pembangunan dan pengentasan kemiskinan. BKKBN membagi model kesejahteraan keluarga dalam lima tahap, yaitu: (1) Keluarga Pra Sejahtera (sangat miskin); (2) Keluarga Sejahtera I (miskin); (3) Keluarga Sejahtera II; (4) Keluarga Sejahtera III; dan (5) Keluarga Sejahtera III plus

2.2 Kerangka Pemikiran

Implementasi CSR yang dilakukam oleh suatu perusahaan akan berdampak pada perusahaan itu sendiri dan pada masyarakat yang tinggal di lokasi pelaksanaan CSR. Dampak yang dapat dirasakan oleh masyarakat diantaranya adalah peningkatan taraf hidup dan kelembagaan berkelanjutan. peningkatan taraf hidup masyarakat akan dilihat dari peningkatan pendapatan, rumah atau papan, kesehatan, pangan dan (sarana) komunikasi. Sedangkan dampak yang akan dirasakan oleh perusahaan adalah peningkatan citra perusahaan di mata masyarakat.

i34052453-a

Implementasi CSR yang dilakukan oleh perusahaan dapat berupa keterlibatan perusahaan secara langsung, melalui yayasan/organisasi sosial, bermitra dengan pihak lain, maupun membentuk atau bergabung dalam suatu konsorsium. Implementasi CSR dipengaruhi oleh bentuk strategi pengembangan masyarakat yang digunakan. Bentuk strategi tersebut dibagi dalam tiga strategi, yaitu Power coercive (strategi pemaksaan), Rational Empirical (empirik rasional) dan Normatif Re-educative (pendidikan yang berulang secara normatif). Bentuk strategi pengembangan masyarakat yang dilakukan oleh perusahaan saling mempengaruhi dengan tingkat partisipasi masyarakat. Tingkat partisipasi masyarakat dilihat dari peran serta masyarakat dalam tahapan pelaksanaan CSR, yaitu perencanaan, implementasi, evaluasi dan pelaporan.

Selain saling mempengaruhi dengan tingkat partisipasi masyarakat, strategi pengembangan masyarakat yang dilakukan oleh perusahaan sangat dipengaruhi oleh kebijakan perusahaan tersebut mengenai CSR. Karena suatu perusahaan akan melaksanakan CSR apabila memiliki kebijakan atau peraturan mengenai implementasi CSR dalam menjalankan usahanya. Kebijkan perusahan mengenai CSR juga diperngaruhi oleh dua faktor, yaitu kebijakan pemerintah dan pandangan perusahaan mengenai CSR. Kebijakan pemerintah yang mempengaruhi kebijakan perusahaan terkait penerapan CSR diatur dalam beberapa peraturan dan perundang-undangan, yaitu UU No.40 Tahun 2007 tentang Perseroan Terbatas dan Keputusan Menteri BUMN Nomor: Kep-236/MBU/2003. Sedangkan pandangan perusahaan terhadap CSR dapat dibagi tiga, yaitu external driven, environmental driven, reputation driven; Compliance; Internal driven.

2.3 Hipotesa

2.3.1 Hipotesa Pengarah

1. Pandangan perusahaan mengenai CSR dan kebijakan pemerintah mengenai CSR diduga telah mempengaruhi kebijakan perusahaan dalam mengimplementasikan CSR.

2. Implementasi CSR yang dilaksanakan perusahaan diduga telah berbasiskan pengembangan masyarakat jikan dalam program tersebut menggunakan stretegi pengembangan masyarakat yang tepat sehingga masyarakat berpartisipasi aktif dalam program tersebut dan menunjang kemandirian masyarakat.

3. Dampak yang diperoleh oleh perusahaan melalui CSR diduga mampu meningkatkan citra yang baik di mata masyarakat, sedangkan dampak yang diperoleh masyarakat yaitu meningkatnya taraf hidup dan kelembagaan berkelanjutan.

2.3.2 Hipotesa Uji

1. Diduga ada hubungan antara tingkat partisipasi masyarakat dengan strategi pendekatan CSR perusahaan

2. Diduga ada hubungan antara implementasi CSR dengan pengingkatan citra perusahaan

3. Diduga ada hubungan antara implementasi CSR dengan peningkatan taraf hidup masyarakat.

2.4 Definisi Operasional

1. Kebijakan CSR perusahaan adalah pedoman/peraturan yang dikeluarkan oleh perusahaan mengenai CSR

2. Kebijakan pemerintah (manifest) adalah peraturan-peraturan yang dikeluarkan oleh pemerintah Republik Indonesia, kebijakan pemerintah meliputi UU No.25 Tahun 2007 tentang Penanaman Modal LNNo.67 TLN No.4274, UU No.40 Tahun 2007 tentang Perseroan Terbatas dan Keputusan Menteri BUMN Nomor: Kep-236/MBU/2003 tentang Program Kemitraan Badan Usaha Milik Negara dengan Usaha kecil dan Program Bina Lingkungan (PKBL)

3. Pandangan perusahaan terhadap CSR adalah cara perusahaan dalam melihat dan menginterpretasikan CSR dalam menjalankan usahanya.

4. External driven adalah pandangan perusahaan terhadap CSR sekedar basa-basi yang disebabkan oleh faktor eksternal.

5. Environmental driven adalah pandangan perusahaan terhadap CSR sekedar basa-basi karena terjadi masalah lingkungan.

6. Reputation driven adalah pandangan perusahaan terhadap CSR sekedar basa-basi karena ingin mendongkrak citra perusahaan

7. Compliance adalah pandangan perusahaan terhadap CSR sebagai upaya memenuhi kewajiban. CSR dilakukan karena terdapat regulasi, hukum, dan aturan yang memaksa perusahaan menjalankannya.

8. Internal driven adalah pandangan perusahaan terhadap CSR karena adanya dorongan yang tulus dari dalam. Perusahaan menyadari bahwa tanggung jawabnya bukan sekedar kegiatan ekonomi untuk menciptakan profit demi kelangsungan bisnisnya saja, melainkan juga tannggunga jawab sosial dan lingkungan.

9. Bentuk strategi pengembangan masyarakat adalah upaya pendekatan yang digunakan dalam merumuskan dan melaksanakan program pengembangan masyarakat oleh suatu perusahaan.

10. Power coercive (strategi pemaksaan) adalah strategi yang cenderung memaksakan kehendak dan pikiran sepihak tanpa menghiraukan kondisi dan keadaan serta situasi yang sebenarnya dimana program itu akan dilaksanakan, sedangkan pelaksanaan yang sebenarnya objek utama dari program itu sendiri sama sekali tidak dilibatkan baik dalam proses perencanaan maupun pelaksaannya.

11. Rational Empirical (empirik rasional) adalah strategi yang didasarkan atas pandangan yang optimistik karena strategi ini mempunyai asumsi dasar bahwa manusia mampu menggunakan pikiran logisnya atau akalnya sehingga mereka akan bertindak secara rasional

12. Normatif Re-educative (pendidikan yang berulang secara normatif) yaitu suatu strategi yang menekankan bagaimana klien memahami permasalahan pembaruan seperti perubahan sikap, skill, dan nilai-nilai yang berhubungan dengan manusia. kecenderungan pelaksanaan model yang demikian agaknya lebih menekankan pada proses mandidik dibandingkan hasil perubahan itu sendiri.

13. Tingkat partisipasi adalah jenjang peran serta masyarakat terhadap implementasi CSR yang dilakukan perusahaan. Tingkat partisipasi akan dilihat dari peran serta masyarakat dalam tahapan CSR, yaitu perencanaan, pelaksanaan, evaluasi dan pelaporan. Tingkat pastisipasi masyarakat sebagai berikut:

Rendah: Apabila tidak berperan serta dalam tahapan manapun skor 0

Sedang : Apabila berperan serta dalam 1 – 2 tahapan skor 1

Tinggi : Apabila berperan serta dalam 3 – 4 tahapan skor 2

14. Implementasi CSR adalah model penerapan CSR yang dilakukan oleh suatu perusahaan dalam menjalankan usahanya

15. Keterlibatan langsung adalah perusahaan menjalankan program CSR secara langsung dengan menyelenggarakan sendiri kegiatan sosial atau menyerahkan sumbangan ke masyarakat tanpa perantara.untuk menjalankannya.

16. Melalui yayasan atau organisasi sosial perusahaan adalah perusahaan mendirikan yayasan sendiri di bawah perusahaan atau grupnya.

17. Bermitra dengan pihak lain adalah perusahaan menyelenggarakan CSR melalui kerjasama dengan lembaga sosial/organisasai non-pemerintah, instansi pemerintah, universitas ata media massa, baik dalam mengelola dana maupun dalam melaksanakan kegiatan sosialnya.

18. Mendukung atau bergabung dalam suatu konsorsium adalah perusahaan turut mendirikan, menjadi anggota atau mendukung suatu lembaga sosial yang didirikan untuk tujuan sosial tertentu.

19. Dampak bagi perusahaan adalah efek yang terjadi pada perusahaan setelah mengimplementasikan CSR, efek ini meliputi peningkatan citra perusahaan di mata masyarakat. Peningkatan citra perusahaan dibagi dalam tiga kategori, dengan skor sebagai berikut:

a. Kurang baik : 0 – 13

b. Baik : 14 – 26

c. Sangat baik : 27 – 50

20. Dampak bagi masyarakat adalah efek yang terjadi pada masyarakat setelah dilaksanakannya CSR oleh suatu perusahaan.

21. Peningkatan taraf hidup adalah penambahan taraf hidup masyarakat yang dilihat dari peningkatan pendapatan, rumah atau papan, kesehatan, pangan dan (sarana) komunikasi.

22. Peningkatan pendapatan adalah taraf hidup yang dilihat dari penambahan jumlah penghasilan seseorang. Pengukuran tingkat pendapatan sebagai berikut:

Miskin : < Rp 25000/hari

Sedang : Rp 25.000 – Rp 50.000/hari

Sejahtera : > Rp 50.000/hari

23. Rumah atau papan adalah taraf hidup yang dilihat dari kondisi tempat tinggal responden. Pengukuran rumah atau papan sebagai berikut:

Miskin : Luas lantai rumah kurang dari 8 m2 untuk tiap penghuni

Sedang : Luas lantai rumah paling kurang 8 m2 untuk tiap penghuni

Sejatera : Luas lantai rumah lebih dari 8m2 untuk setiap penghuni

24. Kesehatan adalah taraf hidup yang dilihat dari kemampuan responden menjaga kesehatan. Pengukuran kesehatan responden:

Miskin : Jika sakit tidak pergi ke dukun atau dokter

Sedang : Jika sakit pergi ke dukun

Sejahtera : Jika sakit pergi ke dokter

25. Pangan adalah taraf hidup yang dilihat dari kemampuan mengkonsumsi daging ayam, daging sapi atau ikan. Pengukuran pangan responden:

Miskin : Tidak makan daging ayam, sapi atau ikan dalam seminggu terkahir

Sedang : Minimal makan sekali daging ayam, sapi atau ikan dalam seminggu terakhir

Sejahtera : Lebih dari sekali makan daging ayam, sapi atau ikan dalam seminggu terakhir

26. Sarana komunikasi adalah taraf hidup yang dilihat dari kepemilikan sarana komunikasi. Pengukuran sarana komunikasi:

Miskin : Tidak memiliki telepon selular

Sedang : Memiliki 1 buah telepon selular

Sejahtera : Memiliki lebih dari 1 buah telepon selular

27. Kelembagaan berkelanjutan adalah sebuah kelompok/komunitas dalam masyarakat yang dapat menjaga eksistensi kegiatannya, baik sebelum program berjalan, saat berjalan maupun setelah program berjalan.

III. METODE PENELITIAN

3.1 Lokasi dan Waktu Penelitian

Penelitian akan dilaksanakan di dua tempat, yaitu di Jakarta dan di Cilacap. Hal ini disebabkan, lokasi PT Rekayasa Industri berada di jalan Kalibata Timur I No.36 Jakarta. Studi kasus implementasi CSR yang akan diambil berada di Kelurahan Lomanis, Kecamatan Cilacap Tengah, Provinsi Jawa Tengah. Penelitian akan dilaksanakan sejak bulan April 2009 hingga Mei 2009.

Penentuan lokasi penelitian ini dilakukan secara sengaja (purposive). PT Rekayasa Industri dipilih menjadi lokasi penelitian setelah berdiskusi dengan dosen pembimbing dan diperkuat setelah mengetahui PT Rekayasa Industri telah menerapkan CSR dalam menjalankan usahanya. Selain itu, ketertarikan peneliti dalam menetapkan lokasi penelitian karena PT Rekayasa Industri adalah sebuah Perusahaan EPCC (Engineering Procurement Construction Commisioning), sehingga peneliti ingin mengetahui dan menganalisis apakah perusahaan EEPC yang Based Project mengimplementasikan CSR yang berbasiskan pemberdayaan masyarakat di lokasi proyeknya.

3.2 Pendekatan Penelitian

Penelitian yang dilakukan untuk mengetahui sejauh mana tanggung jawab sosial (CSR) berbasiskan pemberdayaan masyarakat ini menggunakan dua pendekatan, yaitu kualitatif dan pendekatan kuantitatif. Pendekatan kualitatif digunakan untuk mengembangkan pemahaman yang mendalam mengenai sejauhmana CSR berbasiskan pemberdayaan masyarakat dengan memperhatikan konteks yang relevan. Pendekatan kuantitatif yang dilakukan berjenis penelitian survei. Penelitian survei dilakukan untuk mengetahui mengenai faktor yang mempengaruhi strategi pendekatan CSR, yaitu tingkat partisipasi masyarakat. Selain itu penelitian survei juga digunakan untuk mengetahui peningkatan taraf hidup yang berfokus pada indikator fisik, yakni rumah atau papan, sekolah, kesehatan, pangan dan (sarana) komunikasi, serta pendapatan.

3.3 Teknik Pemilihan Responden dan Informan

Subyek dalam penelitian ini akan dibedakan menjadi responden dan informan. Responden dalam penelitian ini adalah masyarakat Kelurahan Lomanis, Kecamatan Cilacap Tengah, Jawa Tengah yang merupakan lokasi pelaksanaan CSR oleh PT Rekayasa Industri. Informan adalah pihak PT Rekayasa Industri sebagai perusahaan yang menjalankan CSR dan juga pihak-pihak lain yang terkait. Jumlah responden yang akan diambil dalam penelitian ini berjumlah 30 orang, sedangkan jumlah informan tidak dibatasi guna menambah gambaran yang lebih mendalam. Responden dipilih menggunakan teknik pengambilan sampel acak distratifikasi. Responden akan dibagi menjadi tiga lapisan, dilihat dari taraf hidup masyarakat. Pelapisan ini dilakukan untuk mengetahui berasal dari golongan mana saja penerima program yang akan diteliti dan apakah dampak dari program dapat meningkatkan taraf hidup atau mengalami peningkatan golongan. Sedangkan informan dalam penelitian ini dipilih secara secara sengaja (purposive) dengan teknik bola salju (snowball sampling).

3.4 Jenis Data dan Metode Pengumpulan Data

Data yang dikumpulkan dalam penelitian ini terdiri dari data primer dan data sekunder. Pengumpulan data primer dilakukan dengan pendekatan kualitatif dan kuantitatif. Instrumen pengumpulan data yang dipakai adalah wawancara mendalam, pengamatan berperanserta dan kuesioner. Data sekunder yang dikumpulkan merupakan dokumen-dokumen yang terkait dengan kebijakan dan data-data bentuk kegiatan CSR yang dilaksanakan PT. Rekayasa Industri. Untuk mendapatkan data primer dan sekunder akan digunakan berbagai metode pengumpulan data. Metode pengumpulan data kualitatif digambarkan dengan metode triangulasi berupa wawancara mendalam, pengamatan berperan serta dan penelusuran dokumen. Sedangkan metode pengumpulan data kuantitatif dilakukan dengan metode survei dengan menggunakan instrumen penelitian berupa kuesioner.

3.5 Teknik Pengolahan dan Analisis Data

Data yang akan didapatkan dari hasil penelitian mendapatkan perlakuan yang berbeda antara data yang didapatkan dari pendekatan kualitatif dan pendekatan kuantitatif. Untuk data yang didapatkan dari pendekatan kualitatif akan diolah melalui tiga jalur analisis data kualitatif yaitu reduksi data, penyajian data dan penarikan kesimpulan (Miles dan Huberman, 1992 dikutip Sitorus 1998). Sedangkan data kuantitatif hasil penyebaran kuesioner di lapangan terlebih dahulu dilakukan editing, selanjutnya dilakukan pemindahan dari daftar pertanyaan ke lembar tabulasi yang sudah disiapkan. Pengolahan data meliputi editing, coding, scoring, entrying, cleaning, serta analyzing dengan menggunakan program komputer Microsoft Excel dan SPSS 13.0 for Windows. Data yang didapatkan dilakukan editing, untuk mengecek kelengkapan pengisian kuesioner, setelah itu dilakukan coding di buku kode untuk mempermudah pengolahan data, sistem scoring dibuat konsisten yaitu semakin tinggi skor semakin tinggi kategorinya. Setelah dijumlahkan dan selanjutnya akan dikategorikan dengan menggunakan teknik scoring secara normatif yang dikategorikan berdasarkan interval kelas (Slamet 1993):

N= Max - Min

∑k

Keterangan :

N = batas selang

Max = nilai maksimum yang diperoleh dari jumlah skor

Min = nilai minimum yang diperoleh dari skor

∑k = jumlah kategori

Pengelompokkan kategori adalah sebagai berikut :

Rendah/kurang : x< skor min + interval kelas

Sedang : skor min + interval kelas ≤ x’ ≤ skor min + 2 interval kelas

Tinggi/baik : x’’ ≥ skor minimum + 2 interval kelas.

Setelah scoring data akan dilakukan entrying, cleaning, serta analyzing secara deskriptif dan statistik. Hasil analisis diinterpretasikan untuk memperoleh suatu kesimpulan.

DAFTAR PUSTAKA

Ardana, Komang. 2008. Bisnis dan Tanggung Jawab Sosial dalam http://ejournal.unud.ac.id/km%20ardana.pdf . Diakses pada 26 Oktober 2008

Cahyat, Ade. 2004. Bagaimana Kemiskinan di Ukur: Beberapa Model Penghitungan Kemiskinan di Indonesia. Bogor: Center for International Forestry Research (CIFOR).

Djajadiningrat, dkk. 2003. Akses Peran Serta Masyarakat: lebih Jauh memahami Community develompent. Jakarta: Indonesia Center for Sustainable Development

Ife, Jime. 1995. Community Development: Creating Community Alternatives Vision, Analysis and Practice. Melbourne: Longman.

________. 2002. Community Development: Community-based Alternetives in Age of Globalisation Edisi Kedua. Australia: Pearson Education.

Irawan, Ronny. Corporate Social Responsibility: Tinjauan Menurut Peraturan Perpajakan di Indonesia. Makalah Seminar The 2nd National Conference, Universitas Katolik Widya Mandala Surabaya, 6 September 2008.

Jackie Ambadar. 2008. Corporate Social Responsibility (CSR) dalam Praktik di Indonesia. Wujud Kepedulian Dunia Usaha. Jakarta: PT Elex Media Komputindo

Jahja, Rusfadia Saktiyanti. 2006. Evaluasi Pelaksanaan Kegiatan Corporate Social Responsibility Perusahaan Ekstraktif dalam Jurnal Galang, Vol.1, No.2, Hal.22-35,Edisi Januari 2006.

Moleong, Lexy J. 2006. Metodologi Penelitian Kualitatif. Bandung: PT Remaja Rosdakarya

Mulyadi, Devi. 2007. Corporate Social Responsibility (CSR) Perusahaan dalam Usaha Pengembangan Masyarakat, Skripsi. Fakultas Pertanian. Bogor: Institut Pertanian Bogor.

Nasdian, Fredian Tonny. 2006. Pengembangan Masyarakat (Community Development). Bogor: Bagian Sosiologi pedesaan dan Pengembangan Masyarakat Departemen Komunikasi dan Pengembangan Masyarakat Institut Pertanian Bogor

Nursahid, Fajar. 2006. Tanggung Jawab Sosial BUMN: Analisis terhadap Model Kedermawanan Sosial PT Krakatau Steel, PT Pertamina dan PT Telekomunikasi Indonesia. Depok: Piramedia

Rahman, Santy Rizkiya. 2008. Analisis terhadap Corporate Sociall Responsibiliy dan Pengaturannya di Indonesia. Studi Kasus: Corporate Social Responsibility PT.Freeport Indonesia pada Suku Amungme di Desa banti, Papua. Skripsi. Fakultas Hukum. Jakarta: Universitas Al Azhar Indonesia.

Singarimbun, M dan Effendi, S. 1989. Metode Penelitian Survey. Jakarta: LP3ES.

Sitorus, MT Felix. 1998. Penelitian Kualitatif Suatu Pengantar. Bogor: Kelompok Dokumentasi Ilmu Sosial.

Suharto, Edi. 2008. Menggagas Standar Audit Program CSR dalam http://www.policy.hu/suharto/Naskah%20PDF/CSRAudit.pdf. Diakses pada 24 Oktober 2008.

Sukada, Sonny, dkk. Membumikan Bisnis Berkelanjutan. Memahami Konsep dan Praktik Tanggung Jawab Sosial Perusahaan. Jakarta: Indonesia Business Links

Setianingrum, Ingelia Putri. 2007. Analisis Community Development sebagai Bentuk tanggungjawab Sosial (PT ISM Bogasari Flour Milis, di Cilincing, Tanjung Priok, Jakarta Utara). Skripsi. Fakultas Pertanian. Bogor: Institut Pertanian Bogor.

Suprapto, Siti A.A.2006. Pola Tanggung Jawab Sosial Perusahaan Lokal di Jakarta dalam Jurnal Galang, Vol.1, No.2, Hal.36-61, Edisi Januari 2006.

Supriyanto, Subejo. 2004. Harmonisasi Pemberdayaan Masyarakat Pedesaan dengan Pembangunan Berkelanjutan dalam http://subejo.staff.ugm. ac.id/wp-content/supriyanto-ekstensia.pdf. Diakses pada 24 Oktober 2008.

Syahyuti. Penerapan Pendekatan Pembangunan Berbasis Komunitas: Studi Kasus pada Rancangan Program Primatani dalam www.geocities.com/syahyuti/pendekatan_komunitas_primatani.pdf. Diakses pada 1 April 2009

Tanudjaja, Bing Bedjo. 2006. Perkembangan Corporate Social Responsibility di Indonesia dalam http://www.petra.ac.id/~puslit/journals/dir .php?DepartmentID=DKV. Diakses pada 26 Oktober 2008

Untung, Budi Hendrik. 2008. Corporate Social Responsibility. Jakarta: Sinar Grafika

Wibisono, Yusuf. 2007. Membedah Konsep dan Aplikasi CSR (Corporate Social Responsibility). Gresik: Fascho Publishing.

Sumber lain:

Makna Ekonomis Corporate Social Responsibility dalam http://www.ekofeum.or.id/artikel.php?cid=19&display=28&entry=4. Diakses 24 Oktober 2008


LAMPIRAN

Lampiran 1. Panduan Pertanyaan

PEDOMAN WAWANCARA MENDALAM

CORPORATE STRATEGY UNIT

Hari/tanggal wawancara :

Lokasi wawancara :

Nama dan umur informan :

Jabatan :

Pertanyaan Penelitian:

1. Bagaimana sejarah perusahaan mulai melaksanakan CSR? Kapan mulai mengimplementasikan CSR?

2. Bagaimana pengaruh KEPMEN BUMN dalam melaksanakan CSR?

3. Bagaimana pandangan dan kebijakan perusahaan terhadap CSR?

4. Bagaimana posisi struktural CSR dalam perusahaan? Berada dibawah apa? Dan terdiri dari berapa orang bagian CSR? Mengapa?

5. Apakah CSR dipisahkan dengan PKBL dan comdev? Mengapa?

6. Berasal dari mana dana untuk melaksanakan CSR? Berapa persen dana yang dialokasikan yang dialokasikan tersebut? Apakah setiap tahunnya sama ataukah tidak? Mengapa?

7. Bagaimana mekanisme persetujuan dilaksanakan CSR oleh perusahaan?

8. Program apa saja yang pernah dilakukan oleh perusahaan? Kapan? Apa namanya? Apa saja bentuk programnya? Dimana dan siapa sasarannya?

9. Sektor apa saja yang menjadi prioritas atau sering dilakukan perusahaan dalam menjalankan CSR? Mengapa?

10. Apakah ada pihak yang membantu/bermitra dalam pelaksanaan CSR? Siapa dan mengapa?

11. Apakah masyarakat dilibatkan dalam tahapan-tahapan pelaksanaan CSR? Sampai sejauhmana? Mengapa?

12. Bagaimana mekanisme monitoring dan evaluasi program CSR yang pernah dilaksanakan? Apakah hasil evaluasi dijadikan masukan untuk program berikutnya?

13. Apa saja dampak yang dirasakan perusahaan setelah menjalankan CSR?

14. Apakah ukuran keberhasilan perusahaan dalam menjalankan CSR? Mengapa?

15. Bagaimana seharusnya bentuk CSR yang dilaksanakan suatu perusahaan?

PEDOMAN WAWANCARA MENDALAM

CSR DEPARTEMENT

Hari/tanggal wawancara :

Lokasi wawancara :

Nama dan umur informan :

Jabatan :

Pertanyaan Penelitian:

1. Bagaimana sejarah perusahaan mulai melaksanakan CSR? Kapan mulai mengimplementasikan CSR?

2. Bagaimana pengaruh KEPMEN BUMN dalam melaksanakan CSR?

3. Bagaimana pandangan perusahaan terhadap CSR?

4. Bagaimana kebijakan perusahaan mengenai CSR?

5. Bagaimana posisi struktural CSR dalam perusahaan? Berada dibawah apa? Dan terdiri dari berapa orang bagian CSR? Mengapa?

6. Apakah CSR dipisahkan dengan PKBL dan comdev? Mengapa?

7. Berasal dari mana dana untuk melaksanakan CSR? Berapa persen dana yang dialokasikan yang dialokasikan tersebut? Apakah setiap tahunnya sama ataukah tidak? Mengapa?

8. Bagaimana mekanisme persetujuan dilaksanakan CSR oleh perusahaan?

9. Bagaimana mekanisme survey dalam melaksanakan CSR disuatu tempat? Berapa lama? Dibantu dengan siapa?

10. Bagaimana strategi pemberdayaan masyarakat yang dilakukan dalam menjalankan CSR?

11. Cara apa saja yang biasa digunakan dalam mencari kebutuhan masyarakat?Kendala apa saja yang dialami saat hendak melaksanakan CSR di suatu tempat?

12. Program apa saja yang pernah dilakukan oleh perusahaan? Kapan? Apa namanya? Apa saja bentuk programnya? Dimana dan siapa sasarannya?

13. Apakah program yang dijalankan telah sesuai dengan tujuan perusahaan sebelumnya?

14. Sektor apa saja yang menjadi prioritas atau sering dilakukan perusahaan dalam menjalankan CSR? Mengapa?

15. Apakah ada pihak yang membantu/bermitra dalam pelaksanaan CSR? Siapa dan mengapa?

16. Apakah masyarakat dilibatkan dalam tahapan-tahapan pelaksanaan CSR? Sampai sejauhmana? Mengapa?

17. Bagaimana mekanisme monitoring dan evaluasi program CSR yang pernah dilaksanakan? Apakah hasil evaluasi dijadikan masukan untuk program berikutnya?

18. Apakah program tersebut masih berjalan sampai saat ini?

19. Apa saja dampak yang dirasakan perusahaan setelah menjalankan CSR?Apakah ukuran keberhasilan perusahaan dalam menjalankan CSR? Mengapa?

20. Bagaimana seharusnya bentuk CSR yang dilaksanakan suatu perusahaan?

PEDOMAN WAWANCARA MENDALAM

PEJABAT KECAMATAN/KELURAHAN

Hari/tanggal wawancara :

Lokasi wawancara :

Nama dan umur informan :

Jabatan :

Pertanyaan Penelitian:

1. Bagaimana dan kapan kelurahan ini berdiri? Mengapa bernama lomanis?

2. Bagaimana kondisi geografis dan demografi keluraha ini?

3. Bagaimana karakteristik masyarakat daerah ini? (SARA, pendidikan, pekerjaan, budaya)

4. Apakah Bapak/Ibu mengenal PT REKIND? Siapa yang Bapak/Ibu kenal dari PT REKIND dan jabatannya apa?

5. Kapan PT REKIND datang ke daerah ini? Siapa yang menghadap?

6. Apakah PT REKIND memberitahu akan melaksanakan CSR di daerah tersebut? Berapa lama?

7. Bagaimana cara PT REKIND melakukan survey kebutuhan warga? Bertanya ke siapa?

8. Apakah warga dilibakan dalam perencanaan, pelaksanaan, evaluasi dan pelaporan CSR PT REKIND? Jika iya, siapa saja yang dilibatkan? Jika tidak, mengapa?

9. Berapa lama PT REKIND biasanya melakukan survey? Berapa orang yang bekerja?

10. Apakah kebutuhan utama yang diperlukan warga saat itu dan saat ini?

11. Program apa saja yang dilakukan oleh PT REKIND? Siapa saja sasarannya?

12. Apakah program yang dijalankan PT REKIND bermanfaat bagi warga? Mengapa?

13. Apakah yang warga rasakan setelah dijalankan program CSR PT REKIND?

14. Adakah kendala saat pelaksanaan CSR PT REKIND? Apa sajakah dan mengapa?

15. Apa harapan Bapak/Ibu terhadap PT REKIND?

PEDOMAN WAWANCARA MENDALAM

TOKOH KUNCI DI MASYARAKAT

Hari/tanggal wawancara :

Lokasi wawancara :

Nama dan umur informan :

Jabatan :

Pertanyaan Penelitian:

1. Bagaimana dan kapan kelurahan ini berdiri? Mengapa bernama lomanis?

2. Bagaimana kondisi geografis dan demografi keluraha ini?

3. Bagaimana karakteristik masyarakat daerah ini? (SARA, pendidikan, pekerjaan, budaya)

4. Apakah Bapak/Ibu mengenal PT REKIND? Siapa yang Bapak/Ibu kenal dari PT REKIND dan jabatannya apa?

5. Kapan PT REKIND datang ke daerah ini? Siapa saja yang datang?

6. Apakah PT REKIND memberitahu akan melaksanakan CSR di daerah tersebut? Berapa lama?

7. Bagaimana cara PT REKIND melakukan survey kebutuhan warga? Bertanya ke siapa?

8. Apakah bapak dilibatkan dalam perencanaan, pelaksanaan, evaluasi dan pelaporan CSR PT REKIND? Selain bapak siapa lagi yang dilibatkan?

9. Apakah kebutuhan utama yang diperlukan warga saat itu dan saat ini?

10. Program apa saja yang dilakukan oleh PT REKIND? Siapa saja sasarannya?

11. Apakah program yang dijalankan PT REKIND bermanfaat bagi warga? Mengapa?

12. Apakah yang warga rasakan setelah dijalankan program CSR PT REKIND?

13. Apakah program tersebut masih berjalan? Jika iya apa saja? Jika tidak mengapa?

14. Adakah kendala saat pelaksanaan CSR PT REKIND? Apa sajakah dan mengapa?

15. Apa harapan Bapak/Ibu terhadap PT REKIND?

Lampiran 2. Panduan Pengamatan Berperan Serta

Pengamatan berperan serat dilakukan oleh peneliti secara langsung dilokasi penelitian, selanjtnya peneliti melakukan pencatatan hasil pengamatannya secara manual ataupun menggunakan alat bantu yang dapat merekam serta memotret kejadian yang berkaitan dengan substansi penelitian yang dilakukan.

Hasil pengamatan berperan serta dicatat dalam table dibawah ini

Hari/tanggal :

No

Hari/tanggal

Lokasi

Hasil

Keterangan

Lampiran 3. Kuesioner Penelitian

No:

KUESIONER

PERANAN CORPORATE SOCIAL RESPONSIBILITY (CSR)

PT. REKAYASA INDUSTRI

DALAM RANGKA PENGEMBANGAN MASYARAKAT

Responden Yang Terhormat,

Saya adalah mahasiswa Institut Pertanian Bogor, Fakultas Ekologi Manusia, Departemen Sains Komunikasi dan Pengembangan Masyarakat, angkatan 2005. Saya sedang melakukan penelitian mengenai Peranan Corporate Social Responsibility (CSR) PT. Rekayasa Industri dalam Rangka Pengembangan Masyarakat Kelurahan Lomanis, Kecamatan Cilacap Tengah, Provinsi Jawa Tengah Penelitian ini dilakukan dalam rangka menyusun skripsi sebagai salah satu syarat untuk memperoleh gelar sarjana (S1).

Saya berharap Bapak/Ibu bersedia meluangkan waktu untuk mengisi kuesioner ini dengan jujur dan apa adanya. Perlu diperhatikan, bahwa dalam mengisi kuesioner ini, tidak ada jawaban yang benar atau salah. Apapun jawaban Bapak/Ibu, akan menjadi data berharga bagi kelancaran penelitian ini. Identitas dan jawaban Bapak/Ibu akan saya jamin kerahasiaannya dan hanya akan digunakan untuk kepentingan penelitian ini.

Atas ketersediaan dan waktu Bapak/Ibu mengisi kuesioner ini, saya ucapkan banyak terima kasih.

Cilacap, Mei 2009

Hormat saya,

M. Reza Maulana

I340522510

Text Box: Responden Yang Terhormat,  Saya adalah mahasiswa Institut Pertanian Bogor, Fakultas Ekologi Manusia, Departemen Sains Komunikasi dan Pengembangan Masyarakat, angkatan 2005. Saya sedang melakukan penelitian mengenai Peranan Corporate Social Responsibility (CSR) PT. Rekayasa Industri dalam Rangka Pengembangan Masyarakat Kelurahan Lomanis, Kecamatan Cilacap Tengah, Provinsi Jawa Tengah Penelitian ini dilakukan dalam rangka menyusun skripsi sebagai salah satu syarat untuk memperoleh gelar sarjana (S1).  Saya berharap Bapak/Ibu bersedia meluangkan waktu untuk mengisi kuesioner ini dengan jujur dan apa adanya. Perlu diperhatikan, bahwa dalam mengisi kuesioner ini, tidak ada jawaban yang benar atau salah. Apapun jawaban Bapak/Ibu, akan menjadi data berharga bagi kelancaran penelitian ini. Identitas dan jawaban Bapak/Ibu akan saya jamin kerahasiaannya dan hanya akan digunakan untuk kepentingan penelitian ini.  Atas ketersediaan dan waktu Bapak/Ibu mengisi kuesioner ini, saya ucapkan banyak terima kasih.  							           Cilacap,     Mei 2009 Hormat saya,   M. Reza Maulana I340522510

KUESIONER

A. Identitas Responden

Petunjuk pengisian:

- Isilah titik-titik kosong dengan jawaban yang sesuai.

- Berilah tanda silang (X) pada nomor yang sesuai dengan identitas anda.

  1. Nama : …………………………..
  2. Umur : …………………………..
  3. Jenis kelamin : a. Laki-laki

b. Perempuan

  1. Status : a. belum menikah

b. menikah

  1. Jumlah anak : …………. orang
  2. Pendidikan terakhir : a. Tidak sekolah

b.Tidak tamat SD

c. Tamat SD/sederajat

d. Tidak tamat SMP

e. Tamat SMP

f. Tidak tamat SMA

g.Tamat SMA

h.Perguruan Tinggi

  1. Pekerjaan : …………………………..
  2. Alamat : …………………………..

B. Partisipasi Masyarakat

Petunjuk pengisian:

- Isilah titik-titik kosong dengan jawaban yang sesuai.

- Berilah tanda silang (X) pada jawaban yang sesuai dengan kondisi Bapak/Ibu.

  1. Darimana Bapak/Ibu mengetahui program CSR tersebut?

a. Tahu sendiri

b. Tetangga

c. Pejabat kelurahan/kecamatan

d. Pihak PT REKIND

e. Lainnya, sebutkan……………

  1. Apakah Bapak/Ibu pernah mengikuti musyawarah mengenai program CSR tersebut?

a. Iya

b. Tidak

Jika iya, berapa kali? …………..kali

  1. Darimana Bapak/Ibu mengetahui informasi mengenai musyawarah tersebut?

a. Tahu sendiri

b. Tetangga

c. Pejabat kelurahan/kecamatan

d. Pihak PT REKIND

e. Lainnya, sebutkan……………

  1. Apakah Bapak/Ibu ikut merencanakan program CSR tersebut?

a. Iya

b. Tidak

  1. Apakah Bapak/Ibu ikut pelaksanaan program CSR tersebut?

a. Iya

b. Tidak

  1. Apakah Bapak/Ibu ikut mengevaluasi program CSR tersebut?

a. Iya

b. Tidak

  1. Apakah Bapak/Ibu ikut dalam tahap pelaporan program CSR tersebut?

a. Iya

b. Tidak

C. Kondisi Taraf Hidup Masyarakat

Petunjuk pengisian:

- Isilah titik-titik kosong dengan jawaban yang sesuai.

- Berilah tanda silang (X) pada jawaban yang sesuai dengan kondisi Bapak/Ibu.

  1. Berapa jumlah anggota keluarga Bapak/Ibu? (termasuk Bapak/Ibu)

Jawab: …………….orang

  1. Berapa jumlah tanggungan Bapak/Ibu?

Jawab: …………….orang

  1. Berapa luas lantai rumah Bapak/Ibu?

Jawab: ……………. m2

  1. Apakah ada pembangunan rumah setahun terakhir ini?

a. Iya

b.Tidak

Jika iya, berapa luasnya? …………m2

  1. Berapa penghasilan anda per hari sebelum dijalankan program CSR?

a. < Rp 25.000

b. Rp 25.000 – Rp 50.000

c. > Rp 50.000

  1. Berapa penghasilan anda per hari setelah dijalankan program CSR?

a. < Rp 25.000

b. Rp 25.000 – Rp 50.000

c. > Rp 50.000

  1. Apakah Bapak/Ibu memiliki telepon selular?

a. Iya

b. Tidak

Jika iya, berapa banyak? …………buah

  1. Kapan Bapak/Ibu membeli telepon selular tersebut?

a. Bulan ini

b. Sekitar 6 bulan yang lalu

c. Setahun yang lalu

  1. Apakah Bapak/Ibu makan daging ayam, sapi atau ikan dalam seminggu terakhir ini?

a. Iya

b. Tidak

Jika Iya, berapa kali ? Jawab: …………….kali

  1. Dahulu kemana biasanya Bapak/Ibu membawa anggota keluarga Bapak/Ibu yang sakit?

a. Dukun

b. Dokter

c. Lainnya, sebutkan ………

  1. Setahun terkahir ini, kemana biasanya Bapak/Ibu membawa anggota keluarga Bapak/Ibu yang sakit?

a. Dukun

b. Dokter

c. Lainnya, sebutkan ………

D. CITRA PERUSAHAAN DI MATA MASYARAKAT

Petunjuk pengisian:

- Berilah tanda silang (X) pada jawaban yang sesuai dengan pendapat Bapak/Ibu.

No

Pernyataan

Sangat setuju

Setuju

Netral

Tidak setuju

Sangat tidak setuju

1

Pegawai PT REKIND ramah dan santun

2

PT REKIND adalah perusahaan yang merusak lingkungan

3

PT REKIND adalah perusahaan yang sering mengganggu masyarakat dalam menjalankan proyeknya

4

Kegiatan CSR yang dilakukan PT REKIND bermanfaat bagi masyarakat

5

Kegiatan CSR yang dilakukan PT REKIND sesuai dengan kebutuhan masyarakat

6

PT REKIND tidak pernah melakukan kegiatan CSR yang dapat menghibur masyarakat

7

Kegiatan CSR yang dilakukan PT REKIND bertujuan untuk membantu meningkatkan penghasilan masyarakat

8

Kegiatan CSR yang dilakukan PT REKIND membantu meningkatkan pengetahuan masyarakat mengenai belut dan rosella

9

Kegiatan CSR yang dilakukan PT REKIND tidak menambah keterampilan masyarakat

10

Kegiatan CSR yang dilakukan PT REKIND merupakan bukti kepedulian perusahaan tersebut kepada masyarakat

Terimakasih Atas Bantuan dan Kerjasama Bapak/Ibu


No

Tujuan

Lampiran 4. Matriks Pengumpulan, Pengolahan dan Analisis Data

Variabel

Data yang dibutuhkan

Sumber Data

Metode Pengumpulan Data

Metode Pengolahan dan Analisis Data

1.

Profil PT Rekayasa Industri (REKIND)

1. Bidang usaha PT REKIND

2. Lokasi Kantor PT REKIND: Letak kantor, batas-batas kantor, luas kantor.

1. Sejarah didirikannya PT REKIND

2. Bidang-bidang usaha PT REKIND

3. Letak kantor PT REKIND

4. Batas-batas kantor PT REKIND

5. Luas kantor PT REKIND

1. Data Sekunder: data dari PT REKIND

2. Data Primer: Pegawai PT REKIND

1. Studi literatur

2. Wawancara

3. Pengamatan

1. Pengumpulan data

2. Reduksi data

3. Penyajian data

2.

Mengetahui pandangan dan kebijakan CSR PT REKIND

1. Pandangan perusahaan:

1. External driven, environmental driven, reputation driven

2. Compliance

3. Internal driven

2. Kebijakan CSR perusahaan

1. Penyebab mengapa perusahaan tersebut menjalankan CSR

2. Perangkat lengkap kebijakan yang mengatur aktivitas sosial perusahaan

1. Data Sekunder: data dari PT REKIND

2. Data Primer: Pegawai PT REKIND

1. Studi literatur

2. Wawancara

3. Pengamatan

1. Pengumpulan data

2. Reduksi data

3. Penyajian data

4. Analisis data

3.

Mengetahui Kebijakan Pemerintah mengenai CSR

1. Peraturan pemerintah Indonesia mengenai CSR

2. Keputusan menteri BUMN

1. UU No.25 Tahun 2007 tentang Penanaman Modal LNNo.67 TLN No.4274,

2. UU No.40 Tahun 2007 tentang Perseroan Terbatas

3. Keputusan Menteri BUMN Nomor: Kep-236/MBU/2003 tentang Program Kemitraan Badan Usaha Milik Negara dengan Usaha kecil dan Program Bina Lingkungan (PKBL)

1. Data sekunder: Penelusuran literatur, buku-buku terkait, internet, dokumen instansi terkait.

1. Studi literatur

1. Pengumpulan data

2. Penyajian data

4

Mengetahui implementasi CSR yang dilakukan oleh PT REKIND

1. Model implementasi CSR PT REKIND:

1. Perusahaan terlibat langsung

2. Melalui yayasan/organisasi sosial

3. Bermitra dengan pihak lain

4. Membentuk atau bergabung dalam suatu konsorsium

2. Program CSR yang dijalankan PT REKIND

1. Bagaimana model implementasi CSR PT REKIND

2. Program CSR yang telah diimplementasikan oleh PT REKIND

3. Lokasi implementasi program CSR

4. Sasaran implementasi program CSR

1. Data Sekunder: laporan CSR dari PT REKIND

2. Data Primer: Pegawai PT REKIND, observasi lapang, masyarakat sasaran program dan instansi terkait

1. Studi literatur

2. Wawancara

3. Pengamatan berperan serta

1. Pengumpulan data

2. Reduksi data

3. Penyajian data

4. Analisis data

5.

Gambaran umum kelurahan lomanis, kecamatan cilacap tengah, cilacap, Jawa Tengah

1. Sejarah lokal

2. Lokasi kelurahan lomanis: Letak kelurahan, batas-batas kelurahan, luas kelurahan

3. Kondisi demografi

1. Sejarah dan konteks lokasi secara geografis

2. Struktur sosial masyarakat

3. Jumlah penduduk

4. Mata pencaharian

5. Kondisi tingkat pendidikan

1. Data Sekunder: laporan CSR dari PT REKIND, data pemerintah setempat dan data instansi terkait

2. Data Primer: Pegawai PT REKIND, observasi lapang, masyarakat sasaran program dan instansi terkait

1. Studi literatur

2. Wawancara

3. Pengamatan berperan serta

4. Penyebaran kuesioner

1. Pengumpulan data

2. Reduksi data

3. Penyajian data

4. Analisis data

6

Mengetahui dan mengkaji sejauh mana pelaksanaan CSR PT Rekayasa Industri telah berbasiskan pemberdayaan masyarakat ataukah masih sebatas pemberian dari korporasi

1. Bentuk strategi pengembangan masyarakat: 1.rational-empirical, 2.normative-reeducative, 3. power-coersive

2. Tingkat partisipasi masyarakat:

1. Tahap perencanaan

2. Tahap pelaksanaan

3. Tahap evaluasi

4. Tahap pelaporan

1. Bentuk strategi pengembangan masyarakat

2. Tingkat partisipasi/peran serta masyarakat dalam setiap tahapan program CSR yang dilaksanakan

1. Data Sekunder: laporan CSR dari PT REKIND, data pemerintah setempat dan data instansi terkait

2. Data Primer: Pegawai PT REKIND, kuesioner, observasi lapang, masyarakat sasaran program dan instansi terkait

1. Studi literatur

2. Wawancara mendalam

3. Pengamatan berperan serta

4. Penyebaran kuesioner

1. Pengumpulan data

2. Reduksi data

3. Tabulasi silang

4. Penyajian data

5. Analisis data

7

Mengetahui dan mengkaji dampak yang diperoleh PT Rekayasa Industri dan masyarakat dari pelaksanaan program CSR tersebut

1. Peningkatan citra perusahaan

2. Peningkatan taraf hidup masyarakat: peningkatan pendapatan, rumah atau papan, kesehatan, pangan dan (sarana) komunikasi

3. Kelembagaan berkelanjutan

1. Dampak CSR terhadap citra perusahaan di mata masyarakat

2. Pendapatan sebelum dan setelah program

3. Kondisi rumah sebelum dan sesudah program

4. Kondisi kesehatan sebelum dan sesudah program

5. Ketersediaan pangan sebelum dan sesudah program

6. Ketersediaan sarana komunikasi sebelum dan sesudah program

7. Keberadaan lembaga ditingkat komunitas yang berkelanjutan sebelum dan setelah CSR dijalankan

1. Data Sekunder: laporan CSR dari PT REKIND, data pemerintah setempat dan data instansi terkait

2. Data Primer: Pegawai PT REKIND, kuesioner, observasi lapang, masyarakat sasaran program dan instansi terkait

1. Studi literatur

2. Wawancara mendalam

3. Pengamatan berperan serta

4. Penyebaran kuesioner

1. Pengumpulan data

2. Reduksi data

3. Tabulasi silang

4. Penyajian data

5. Analisis data


[1] Penelitian dilakukan oleh Bing Bedjo Tanudjaja pada tahun 2006. Hasil penelitian lebih lanjut dapat diakses pada http://www.petra.ac.id/~puslit/journals/dir.php?DepartmentID=DKV.

Posted in CSR, Jawa Tengah | Dengan kaitkata: , , , , , | Leave a Comment »

Pengembangan Kelembagaan Multistakeholder untuk Program Corporate Social Responsibility pada Chevron Geothermal Salak Ltd. (Studi Kasus Program Pengembangan Usaha Kecil dan Menengah (UKM) di Kecamatan Kabandungan, Kabupaten Sukabumi, Provinsi Jawa Barat)

Posted by kolokium kpm ipb pada 22 April 2009

MAKALAH KOLOKIUM

Nama Pemrasaran/NRP : Lussi Susanti/ I34050675

Departemen : Sains Komunikasi dan Pengembangan Masyarakat

Pembahas 1 : Agustina Nurhaeni/I34051365

Dosen Pembimbing : Dr. Ir. Lala M. Kolopaking, MS/ NIP 131284865

Judul Rencana Penelitian : Pengembangan Kelembagaan Multistakeholder untuk Program Corporate Social Responsibility pada Chevron Geothermal Salak Ltd. (Studi Kasus Program Pengembangan Usaha Kecil dan Menengah (UKM) di Kecamatan Kabandungan, Kabupaten Sukabumi, Provinsi Jawa Barat.)

Tanggal dan Waktu : 21 April 2009/ 11.00-12.00 WIB

BAB I

Pendahuluan

1.1 Latar Belakang

Sebagai salah satu stakeholder pembangunan negara, perusahaan di Indonesia melakukan kegiatan terencana untuk sampai kepada tujuan khusus maupun tujuan umum yang telah mereka tentukan. Dalam pencapaian tujuan tersebut, tentunya melewati berbagai proses pelaksanaan kegiatan dimana tidak hanya mengikutsertakan satu pihak saja (dalam hal ini perusahaan itu sendiri), tetapi juga secara langsung ataupun tidak langsung terkait dengan pihak luar. Pihak luar tersebut misalnya pemerintah, negara asing, masyarakat dan lembaga-lembaga sosial. Tak lepas dari pihak luar tersebut, maka perusahaan-perusahaan banyak melakukan kerjasama dengan pihak yang mendukung pada pencapaian tujuan, khususnya menyangkut kepentingan perusahaan.

Kerjasama diantara para stakeholder ini biasa disebut dengan kerjasama multi pihak atau kerjasama multistakeholder. Kerjasama ini juga mulai dipergunakan untuk menjalankan program CSR yang dilakukan oleh perusahaan baik swasta maupun pemerintah. Pasal 74 Undang-Undang No 40 Tahun 2007 tentang Perseroan Terbatas, sebuah perusahan berkewajiban melaksanakan Corporate Social Responsibility (CSR). Pasal tersebut juga mencantumkan bahwa “perseroan yang menjalankan kegiatan/usahanya di bidang dan/atau berkaitan dengan Sumber Daya Alam wajib melaksanakan tanggung jawab sosial dan lingkungannya: (Susanto, 2007). Corporate Social Responsibility (CSR) bukan lagi sekedar kewajiban perusahaan, tetapi menjadi sebuah strategi yang dikembangkan oleh perusahaan. Hal ini dikarenakan begitu banyak upaya, waktu, dan dana yang dikeluarkan untuk kegiatan seperti community development. Pemberian dana bantuan kepada masyarakat sekitar perusahaan, yang dikeluarkan oleh perusahaan dalam jumlah yang tidak sedikit, yang sering dilabelkan dengan nama program community development yang dijadikan indikator bahwa perusahaan telah melaksanakan tanggung jawabnya (Alizar, dkk, 2006).

Chevron Geothermal Salak Ltd. (CGS) merupakan perusahaan pertambangan yang bergerak dalam bidang pertambangan gas alam dengan memanfaatkan panas yang terkandung didalam perut bumi (Geothermal Energy). Keberlangsungan perusahaan ini tidak terlepas dari kewajibannya untuk membayar pajak dan melakukan CSR (Corporate Social Responsibility) yang dalam prosesnya diurusi oleh bagian eksternal perusahaan atau yang biasa disebut kehumasan yang berhubungan dengan pihak-pihak luar perusahaan. CSR CGS lebih disebut sebagai Community Engagement (CE) daripada Community Development/Corporate Social Responsibility karena konsep CE lebih bersifat luas dengan memadu padankan konsep-konsep yang terdapat pada pemberdayaan masyarakat dan kolaborasi dengan pihak lain, tidak hanya sekedar memberdayakan masyarakat saja tetapi melihat keberlangsungan dan keterlibatan aktif berbagai pihak dalam menjalankan prosesnya. CE yang dilakukan CGS berdasar pada 3 aspek yaitu; Pendidikan, Kesehatan, Komunikasi dan berfokus di tiga kecamatan sekitar wilayah kerja yaitu; Kalapanunggal, Kabandungan dan Pamijahan (Annual Report CGS, 2007).

Program CE yang dilakukan oleh CGS pada bidang Ekonomi berfokus pada peningkatan ekonomi masyarakat sekitar (masyarakat lokal). Dalam hal ini CGS mulai mengembangkan kelembagaan ekonomi masyarakat melalui pengembangan UKM melalui kerjasama dengan pemerintah, PNM (Permodalan Nasional Madani) dan Baitulmal Muamalat (BMM). Program pengembangan UKM yang diprakarsai oleh CGS ini telah dilaksanakan dan di fokuskan di dua kecamatan, yaitu Kecamatan Kalapanunggal dan Kecamatan Kabandungan, Kabupaten Sukabumi Provinsi Jawa Barat. Berdasarkan Laporan Tahunan CGS pada tahun 2007, yang telah CGS lakukan dalam aspek ekonomi adalah menawarkan kursus-kursus pada pertanian, perikanan, dan home industry dengan menyediakan bantuan dalam menjalankan usaha serta menawarkan program pendampingan dalam pelaksanaan UKM.

1.2 Perumusan Masalah

1. Apa yang melatarbelakangi program pengembangan Usaha Kecil dan Menengah yang merupakan salah satu bentuk Community Engagement (CSR) dari CGS dan seberapa jauh peran CGS dalam program ini?

2. Bagaimana dampak pengembangan UKM yang dijalankan oleh CGS bagi perekonomian masyarakat lokal?

3. Bagaimana strategi pengembangan UKM agar dapat berkelanjutan?

1.3 Tujuan Penelitian

1. Mengetahui latar belakang program pengembangan UKM yang dilakukan oleh CGS sebagai salah satu bentuk CE dalam aspek ekonomi serta mengetahui sejauh mana peran CGS dalam program tersebut.

2. Mengetahui dampak pengembangan UKM yang dijalankan oleh CGS bagi masyarakat lokal.

3. Menganalisis strategi pengembangan UKM yang dapat berkelanjutan.

1.4 Kegunaan Penelitian

Penelitian ini diharapkan dapat memberikan gambaran mengenai bentuk CSR yang dilakukan oleh perusahaan swasta. Di samping itu, penelitian ini diharapkan dapat memberikan tambahan literatur penelitian mengenai pengembangan kelembagaan UKM yang dilakukan oleh perusahaan sebagai bentuk CSRnya bagi para akademisi dan peneliti, khususnya akademisi dan peneliti bidang sosial ekonomi kelembagaan. Selain itu, penelitian ini diharapkan mampu memberikan evaluasi dan pertimbangan bagi pihak perusahaan dalam mengembangkan UKM agar lebih berkelanjutan nantinya.

BAB II

PENDEKATAN TEORITIS

2.1.1 Konsep Corporate Social Responsiblity

Pada dasarnya CSR merupakan suatu bentuk tanggung jawab sosial yang berkembang sebagai wujud dari sebuah good corporate governence. Pada sisi ini, CSR dilihat sebagai aplikasi dari keberadaan korporat sebagai salah satu elemen sosial (corporate citizenship) yang merupakan bagian dari etika bisnis. Dalam hal ini, pelaksanaan CSR mengacu pada konsep yang lebih luas dan global. Corporate social Responsibility/Tanggung Jawab Sosial Perusahaan (TSP) merupakan suatu komitmen perusahaan untuk membangun kualitas kehidupan yang lebih baik bersama dengan para pihak yang terkait, utamanya masyarakat disekelilingnya dan lingkungan sosial dimana perusahaan tersebut berada, yang dilakukan terpadu dengan kegiatan usahanya secara berkelanjutan (Budimanta, 2002).

2.1.2 Usaha Kecil dan Menengah (UKM)

2.1.2.1 Definisi Usaha Kecil dan Menengah (UKM)

Ada dua definisi usaha kecil yang dikenal di Indonesia. Pertama, definisi usaha kecil menurut Undang-Undang No. 9 tahun 1995 tentang Usaha Kecil adalah kegiatan ekonomi rakyat yang memiliki hasil penjualan tahunan maksimal Rp 1 milyar dan memiliki kekayaan bersih, tidak termasuk tanah dan bangunan tempat usaha, paling banyak Rp 200 juta (Sudisman & Sari, 1996:5). Kedua, menurut kategori Badan Pusat Statistik (BPS), usaha kecil identik dengan industri kecil dan industri rumah tangga. BPS mengklasifikasikan industri berdasarkan jumlah pekerjanya, yaitu: (1) industri rumah tangga dengan pekerja 1-4 orang; (2) industri kecil dengan pekerja 5-19 orang; (3) industri menengah dengan pekerja 20-99 orang; dan (4) industri besar dengan pekerja 100 orang atau lebih (BPS, 1999: 250)[1].

2.1.2.3 Kebijakan dan Strategi Pengembangan UKM

Sejalan dengan perkembangan dalam era globalisasi dan tuntutan dalam rangka pelaksanaan otonomi daerah, masalah krusial yang juga banyak dikeluhkan belakangan ini oleh para pelaku binis tanpa kecuali UKM munculnya berbagai hambatan yang berkaitan dengan peraturan-peraturan baru, khususnya di daerah. Peraturan-peraturan daerah ini sering tidak atau kurang memberikan ruang bagi UKM untuk berkembang. Dalam implementasinya, birokrasi administrasi yang berbelit-belit dan penegakan hukum yang kurang tegas menjadi tantangan yang terus harus kita atasi ke depan. Berangkat dari berbagai masalah, tantangan dan hambatan tersebut di atas, maka dalam pengembangan koperasi dan UKM, pemerintah telah menetapkan arah kebijakannya, yaitu: 1) Mengembangkan UKM, 2) Memperkuat Kelembagaan, 3) Memperluas basis dan kesempatan berusaha, 4) Mengembankan UKM sebagai produsen, dan 5) Membangun Koperasi

2.1.3 Kelembagaan Multistakeholder

2.1.3.1 Definisi Kelembagaan

Kelembagaan umumnya banyak dibahas dalam sosiologi, antropologi , hukum dan politik, organisasi dan manajemen, psikologi maupun ilmu lingkungan yang kemudian berkembang ke dalam ilmu ekonomi karena kini mulai banyak ekonom berkesimpulan bahwa kegagalan pembangunan ekonomi umumnya karena kegagalan kelembagaan. Dalam bidang sosiologi dan antropologi kelembagaan banyak ditekankan pada norma, tingkah laku dan adat istiadat. Dalam bidang ilmu politik kelembagaan banyak ditekankan pada aturan main (the rules) dan kegiatan kolektif (collective action) untuk kepentingan bersama atau umum (public). Ilmu psikologi melihat kelembagaan dari sudut tingkah laku manusia (behaviour). Ilmu hukum menegaskan pentingnya kelembagaan dari sudut hukum, aturan dan penegakan hukum serta instrumen dan proses litigasinya. Pendekatan ilmu biologi, ekologi atau lingkungan melihat institusi dari sudut analisis sistem lingkungan (ecosystem) atau sistem produksi dengan menekankan struktur dan fungsi sistem produksi atau sistem lingkungan kemudian dapat dianalisis keluaran serta kinerja dari sistem tersebut dalam beberapa karakteristik atau kinerja (system performance atau system properties) seperti produktivitas, stabilitas, sustainabilitas, penyebaran dan kemerataanya (Tonny, dkk, 2003). Arturo Israel dalam bukunya yang berjudul Pengembangan kelembagaan “Pengalaman Proyek-Proyek bank Dunia” mengungkapkan bahwa konsep umum mengenai lembaga meliputi apa yang ada pada tingkat lokal atau masyarakat, unit manajemen proyek, badan para status, departemen-departemen di pemerintah pusat dan sebagainya. Sebuah lembaga dapat merupakan milik negara atau sektor swasta dan juga bisa mengacu pada fungsi-fungsi administrasi pemerintah.

2.1.3.2 Definisi Stakeholders

Stakeholders dalam sebuah perusahaan dapat didefinisikan sebagai pihak-pihak yang berkepentingan terhadap eksistensi perusahaan. Termasuk di dalamnya adalah karyawan, pelanggan, konsumen, pemasok, masyarakat, dan lingkungan sekitar serta masyarakat sebagai regulator. Wheelen dan Hunger dalam Wibisono (2007) mendefinisikan stakeholders sebagai pihak-pihak atau kelompok-kelompok yang berkepentingan, baik langsung maupun tidak langsung, terhadap eksistensi atau aktivitas perusahaan, dan karenanya kelompok-kelompok tersebut mempengaruhi dan dipengaruhi oleh perusahaan. Rhenald Kasali dalam Wibisono (2007) menyatakan bahwa yang dimaksud dengan para pihak adalah setiap kelompok yang berada di dalam maupun di luar perusahaan yang mempunyai peran dalam menentukan keberhasilan perusahaan. Stakeholders merupakan para individu, kelompok, komunitas atau masyarakat, organisasi, asosiasi atau pengusaha yang mana kepentingan mereka dipengaruhi, baik secara negatif atau positif, oleh sebuah atau beberapa usulan dan/atau kegiatan beserta konsekuensinya (Alizar dkk, 2006). Stakeholders bisa berarti pula setiap orang yang mempertaruhkan hidupnya pada perusahaan memiliki prioritas stakeholders yang berbeda.

2.1.3.3 Konsep Kelembagaan Kolaboratif/Multistakeholder

Tadjudin (2000) mendefinisikan kolaborasi sebagai suatu tindakan yang diambil oleh semua pihak yang berkonflik untuk menghasilkan tindakan yang memuaskan semua pihak yang terlibat. Tindakan kolaborasi ini dilakukan melalui proses klarifikasi perbedaan dan bukan sekedar mengakomodasikan kepentingan. Kolaborasi merupakan tindakan “menang-menang”. Tindakan kolaborasi itu lazimnya dilakukan pada kondisi yang tidak memungkinkan untuk berkompetisi, karena kompetisi akan lebih merugikan pihak yang terlibat, dan intensitas konfliknya sudah mencapai tahap yang tidak mungkin diabaikan.

2.1.4 Kolaborasi Multistakeholder dan Keberlanjutan Corporate Social Responsibility

Pelibatan stakeholder adalah sebuah alat/instrumen yang bernilai untuk mengelola peluang/resiko yang akan juga menghindari atau meminimalisir biaya dan optimalisasi penciptaan nilai. Para pengusaha beserta stakeholdernya mengakui bahwa isu-isu kekinian yang semakin kompleks tersebut tidak dapat diselesaikan hanya dengan melibatkan satu orang atau satu aktor saja. Dibutuhkan upaya koordinasi dan komunikasi dengan beragam stakeholders dalam memberikan kontribusi untuk menyelesaikan permasalahan dengan inovatif dan berkelanjutan. Pelibatan stakehlder yang efektif menyediakan kesempatan untuk mengelola tantangan-tantangan tersebut untuk menemukan solusi inovatif dan menciptakan nilai tambah bagi siapa saja yang terlibat.

Kelembagaan Multistakeholder dalam CSR

Zainal dalam bukunya yang berjudul “Hand Book: Corporate Social Responsibility” menyebutkan bahwa prakarsa MSH-CSR adalah sebuah prakarsa dengan memakai metode kelembagaan multistakeholder, yang menghimpun para ahli, pemerhati dan aktor pembangunan kemitraan pemerintah-swasta-masyarakat dalam mewujudkan praktik-praktik terbaik dan berkelanjutan dari program-program pembangunan komunitas, dan pemberdayaan masyarakat. Visi dari kelembagaan ini adalah ,mendukung pembangunan daerah yang berkelanjutan. Misi kelembagaan ini antara lain; (1) mendukung prakarsa-prakarsa Corporate Social Responsibility yang berkelanjutan, (2) mendukung prakarsa-prakarsa pembangunan oleh pemerintah daerah yang berkelanjutan, dan (3) mendukung prakarsa-prakarsa pemberdayaan masyarakat yang berkelanjutan.

2.2 Kerangka Pemikiran

Pola pengelolaan program CSR oleh perusahaan besar sangat tergantung pada kemampuan internal perusahaan. Ada perusahaan yang memiliki dukungan sumberdaya manusia cukup sehingga Devisi/Unit pengelola CSR yang dibentuk bisa langsung menangani kegiatan yang akan dilakukan. Namun, tidak jarang juga mengingat keterbatasan kemampuannya dalam memberikan pendampingan kepada UKM, Devisi/Unit pengelola CSR dapat bekerjasama dengan pemerintah, perguruan tinggi, lembaga riset, LSM dan lembaga lainnya. dalam hal ini Chevron Geothermal Salak Ltd (CGS) selaku perusahaan swasta besar yang bergerak dalam bidang pertambangan mempunyai kewajiban sosial (CSR/ biasa disebut CE) kepada masyarakat sekitar wilayah kerja. Dalam menjalankan Community Engagement (CE) CGS mempunyai divisi khusus untuk menangani program ini yaitu divisi eksternal atau kehumasan. Dalam program pengembangan Usaha Kecil dan Menengah (UKM) yang merupakan salah satu proram CE dari CGS, pihak CGS dapat saja menjalankan CSR ini dari pihaknya saja, atau dapat pula berkolaborasi dengan pihak lain seperti pemerintah, NGO (Non Govermental Organization), ataupun lembaga lain yang terkait dengan program ini. Bantuan yang diberikan untuk UKM ini dapat berupa Community Development (Pelatihan, pendampingan, pengawasan), bantuan modal, bantuan kredit, peningkatan kapasitas UKM ataupun promosi produk dari UKM itu sendiri. Dari semua bantuan yang diberikan tentunya akan memberikan dampak bagi perekonomian masyarakat lokal yang terlibat dalam pengembangan UKM ini.

Gambar 1. Kerangka Pemikiran

i34050675

2.3 Hipotesis Pengarah

  1. Chevron Geothermal Salak Ltd. (CGS) mengimplementasikan CSR dalam kegiatan bisnisnya, dimana CSR tersebut biasa disebut dengan Community Engagement (CE) tersebut terfokus pada tiga bidang, yaitu; ekonomi, pendidikan, dan kesehatan. Mekanisme program tersebut adalah dengan mengandeng konsep-konsep pemberdayaan masyarakat untuk meningkatkan kesejahteraan masyarakat. Diduga dengan menggandengkan konsep-konsep pemberdayaan masyarakat program-program CE yang dijalankan sesuai dengan kebutuhan masyarakat. Dalam hal ini CGS mengembangkan UKM atas dasar kebutuhan masyarakat yang terlibat program.
  2. Keterlibatan pihak-pihak eksternal (pihak di luar CGS) dalam program pengembangan UKM yang ada (masyarakat, pemerintah, dan NGO) diduga dapat melancarkan jalannya program ini dan diharapkan dapat membuat program ini berkelanjutan (sustainable).
  3. Program pengembangan UKM yang berkelanjutan ini diduga dapat meningkatkan kesejahteraan dan kemandirian masyarakat melalui peningkatan perkonomian masyarakat.
  4. Diduga bahwa pelaksanaan CSR khususnya dalam program UKM cenderung bersifat top down sehingga kelembagaan yang ada hanya berbasis program saja. Salah satunya adalah dalam kelembagaan multistakeholder yang terdapat dalam program pengembangan UKM ini.

2.4 Definisi Konseptual

  • Chevron Geothermal Salak Ltd merupakan sebuah perusahaan yang bergerak dalam bidang pertambangan gas bumi yang kemudian dipergunakan sebagai pembangkit tenaga listrik. Perusahaan ini terletak di Gunung Salak, Jawa Barat.
  • Pihak yang terlibat merupakan semua pihak yang berpartisipasi dan berperan dalam pengembangan UKM seperti pemerintah setempat, NGO (non governmental organization), lembaga lain yang terlibat (perguruan tinggi, LSM, dan lain-lain).
  • Bantuan yang diberikan dapat berupa Community Development yang dalam hal ini dapat berupa pelatihan, pendampingan, maupun pengawasan selama pengembangan UKM ini, dapat juga berupa peningkatan kapasitas UKM, bantuan modal, ataupun bantuan kredit.
  • UKM adalah usaha informal yang kapasitasnya berupa home industry biasa dijalankan oleh masyarakat kecil dan belum mempunyai badan hukum.
  • Perekonomian masyarakat lokal dapat digambarkan dengan jumlah pendapatan masyarakat, apakah ada peningkatan sebelum dan sesudah adanya pengembangan UKM.

BAB III

METODOLOGI PENELITIAN

3.1 Metode Penelitian

Penelitian ini akan menggunakan pendekatan kualitatif. Hal ini dikarenakan pendekatan kualitatif mampu memberikan pemahaman secara mendalam tentang suatu realitas sosial yang terjadi dalam masyarakat terkait dengan pihak-pihak yang terlibat dalam program CE Chevron Geothermal Salak Ltd, karena menekankan pada proses-proses dan makna-makna yang tidak diuji atau diukur secara ketat dari segi uji variabel terkait kuantitas, intensitas, atau frekuensi (Denzin dan Lincoln, 1994). Dalam pendekatan kualitatif ini penulis akan menggunakan strategi studi kasus, dengan pertimbangan bahwa penelitian ini memberikan peluang yang sangat kecil bagi peneliti untuk mengontrol gejala atau peristiwa sosial yang diteliti, disamping penelitian yang dilakukan adalah menyangkut peristiwa atau gejala kontemporer dalam kehidupan yang riil (Yin, 1996).

Baedhowi (2001) menyatakan pendekatan studi kasus sebagai suatu pendekatan untuk mempelajari, menerangkan, menginterpretasikan suatu kasus (case) dalam konteksnya secara natural tanpa adanya intervensi dari pihak luar. Melalui strategi studi kasus, peneliti akan berusaha menemukan realita sosial secara holistik mengenai Program pengembangan UKM yang dilakukan oleh perusahaan, peran dari para stakeholder yang terlibat dalam program ini, serta dampak dari adanya pengembangan UKM ini terhadap perekonomian masyarakat. Diharapkan dengan strategi tersebut, peneliti dapat lebih mudah untuk memahami permasalahan penelitian secara lebih mendalam dan menyeluruh. Strategi studi kasus yang dipilih adalah studi kasus instrumental, yaitu studi kasus yang dilakukan peneliti karena peneliti ingin mengkaji atas suatu kasus khusus untuk memperoleh wawasan atas suatu isu atau sebagai pendukung atau instrumen untuk membantu peneliti dalam memahami konsep CSR (disebut juga CE/Community Engagement oleh CGS) yang dijalankan oleh CGS.

3.2 Lokasi dan Waktu Penelitian

Penelitian akan dilakukan di Chevron Geothermal Salak Ltd. (CGS) yang berlokasi di Gunung Salak Jawa Barat. Pemilihan lokasi penelitian ini dilakukan secara sengaja (purposive). Sebelum menentukan tempat penelitian, peneliti telah melakukan observasi selama melakukan On Job Training (Kuliah Kerja Profesi) pada bulan Asgustus-September 2008, melakukan penelusuran kepustakaan majalah, surat kabar, internet dan informasi dari beberapa narasumber yang mengetahui keadaan/kondisi lapangan. Penelitian ini akan dilaksanakan pada bulan Mei hingga Juni 2009. Penelitian ini mencakup waktu semenjak penulis intensif berada dilapangan hingga pengolahan data.

3.3 Penentuan Responden dan Informan

Responden adalah pihak yang memeberi keterangan mengenai diri dan keluarganya. Sedangkan informan merupakan pihak yang memberikan keterangan tentang pihak lain dan lingkungannya. Informan inilah yang kemudian membantu peneliti untuk memilih responden yang valid atau keterangan tambahan tentang topik kajian. Responden yang dipilih oleh peneliti adalah penduduk Kecamatan Kabandungan dan Kalapanunggal yang terlibat dalam kelembagaan Usaha Kecil dan Menegah (UKM) yang dibentuk oleh CGS. Sedangkan informan adalah pihak CGS selaku pemberi informasi mengenai program pengembangan UKM sebagai bentuk CE perusahaannya. Pemilihan subyek tineliti (responden) dipilih secara purposive (sengaja) berdasarkan data yang diperoleh dari pihak informan.

3.4 Teknik Pengumpulan Data

Metode pengumpulan data yang akan digunakan adalah metode triangulasi, yaitu, metode yang terdiri atas; Observasi, Dokumentasi dan Komunikasi (wawancara dengan menggunakan panduan pertanyaan) kepada para stakeholder yang terkait dengan program Pengembangan UKM dari CGS yang dilakukan di Kecamatan Kabandungan dan Kalapanunggal. Ditunjang pula dengan kegiatan studi literatur pada berbagai pustaka yang dapat dijadikan referensi.

Metode pengumpulan data digunakan untuk memperoleh data primer dan data sekunder yang berguna dalam menjawab pertanyaan penelitian. Data primer diperoleh dari subyek tineliti yang terdiri dari informan dan responden melalui wawancara mendalam yang kemudian akan dituangkan ke dalam catatan harian. Sedangkan untuk data sekunder diperoleh melalui informasi tertulis, data-data dan literatur-literatur yang mendukung kelengkapan informasi mengenai lokasi penelitian. Data ini meliputi data profil CGS, kegiatan-kegiatan CE yang dilakukan oleh CGS, pihak-pihak (stakeholders) yang terlibat dalam program CE tersebut dan peran-peran dari pihak-pihak (stakeholders) yang terlibat. Selain itu, diperoleh juga informasi melalui literatur-literatur yang ada kaitannya dengan penelitian ini yang meliputi buku-buku mengenai konsep Corporate Social Responsibility (CSR), Multistakeholder Collaborative, pengembangan kelembagaan, Usaha Kecil dan Menengeh (UKM) dan literatur-literatur lainnya yang terkait. Adapun tahap-tahap yang akan dilakukan dalam pengambilan data yaitu penelusuran kepustakaan melalui buku, artikel, dan internet terkait dengan kajian penelitian, kemudian wawancara mendalam kepada divisi eksternal perusahaan, pelaksana program, serta pihak-pihak lainnya yang terlibat dalam program pengembangan UKM ini.

3.5 Teknik Analisis Data

Dalam kurun waktu yang bersamaan dengan proses pengumpulan data dilapangan, peneliti juga menganalisis data tersebut. Data-data yang didapat kemudian direduksi dengan tujuan menajamkan, menggolongkan, mengeliminasi yang tidak perlu, dan mengorganisasikan data sedemikian rupa sehingga mendapatkan kesimpulan akhir. Reduksi mempunyai makna peringkasan data, penelusuran tema, pembuatan gugus-gugus, pembuatan partisi dan penulisan memo. Penyusunan gugus ini pun masih terdapat kemungkinan untuk menambah kolom mapun baris lagi guna menguji kesimpulan awal yang telah diambil dalam penyusunan usulan observasi lapang. Hal ini karena anlisis data kualitatif merupakan analisis yang terus berlanjut, berulang dan terus menerus (sitorus, 1998). Data yang telah direduksi disajikan dalam bentuk teks naratif maupun matriks yang akan mengulas mengenai identifikasi kelembagaan UKM yang ada, pihak-pihak apa saja yang terlibat, potensi apa saja yang ada di masyarakat, bagaimana peran dari pihak-pihak yang terlibat dan bagaimana dampaknya terhadap perekonomian masyarakat lokal.

Data hasil wawancara ini kemudian akan dikuantifikasi untuk mendapatkan data kuantitatif dengan menggunakan analisis deskriptif. Analisis deskriptif digunakan untuk mengkaji sarana dan prasarana yang ada dalam pengembangan UKM selain itu juga digunakan untuk mempelajari potensi sumberdaya yang ada di masyarakat serta bentuk-bentuk UKM yang dikembangkan di masyarakat. Berdasarkan hasil pengumpulan data tersebut, dilakukan interpretasi dan generalisasi potensi sumberdaya yang ada di masyarakat serta bentuk-bentuk UKM yang dikembangkan di masyarakat. Analisis ini difokuskan kepada beberapa hal yaitu, kelembagaan, sarana dan prasarana, kesiapan masyarakat dalam mengembangkan UKM yang ada, serta dampak pengembangan UKM ini terhadap perekonomian masyarakat lokal.

Matriks EFE dan IFE

Matriks EFE (external factor evaluation), digunakan untuk pengambilan keputusan dalam meringkas dan mengevaluasi semua informasi lingkungan eksternal meliputi peluang dan ancaman, sedangkan matriks IFE (internal factor evaluation) digunakan untuk meringkas dan mengevaluasi kekuatan dan kelemahan utama yang dihadapi oleh sistem (David, 1998). Matriks ini digunakan untuk melihat kegagalan dan kesuksesan selama program pengembangan UKM. Semua faktor ditentukan bobotnya, dimana bobot memperlihatkan tingkat kepentingan faktor tersebut (lampiran 5). Jumlah bobot seluruh faktor, baik internal maupun eksternal harus sama dengan 1,0 atau 100%. Umar (2008) menyatakan pilihan bobot terdiri dari:

  • 0,20 atau 20% : tinggi atau kuat
  • 0,15 atau 15% : di atas rata-rata
  • 0,10 atau 10% : rata-rata
  • 0,05 atau 5% : di bawah rata-rata
  • 0,00 atau 0% : tidak terpengaruhi

Setelah menentukan bobot dari masing-masing faktor, kemudian menentukan rating dari masing-masing faktor tersebut (Lampiran…) dengan pilihan rating menurut Umar (2008) sebagai berikut:

  • Rating 4 : responden superior terhadap faktor-faktor tersebut
  • Rating 3 : responden di atas rata-rata terhadap faktor-faktor tersebut
  • Rating 2 : responden rata-rata terhadap faktor-faktor tersebut
  • Rating 1 : responden di bawah rata-rata terhadap faktor-faktor tersebut.

Jika bobot dan rating telah ditentukan, maka data-data tersebut dapat diolah menjadi arahan strategi pengembangan UKM dengan menggunakan analisis SWOT (Strengths, Weaknesses, Opportunities, and Threats).

Analisis Matriks SWOT

Hasil dari analisis pada tabel EFE dan IFE kemudian dilanjutkan dengan menggunakan analisis SWOT. Dalam matriks SWOT (lampiran 5) alternatif formulasi strategi dilakukan dengan melakukan perbandingan berpasangan. Perbandingan ini merupakan suatu teknik yang membandingkan suatu komponen dengan komponen lain dalam satu kategori yang sama. Matriks SWOT membantu dalam melakukan perbandingan berpasangan antara Strenghts (Kekuatan), Weaknesses (Kelemahan), Opportunities (Peluang), dan Threats (ancaman). Dari matriks SWOT ini dapat dikembangkan empat alternatif strategi, yaitu:

  1. Strategi SO (Strength-Opportunities), yaitu dengan kekuatan yang ada dipegunakan untuk memanfaatkan peluang dalam pengembangan UKM.
  2. Strategi ST (Strength-Threats), yaitu kekuatan yang ada digunakan untuk mengatasi ancaman terhadap pengembangan UKM.
  3. Strategi WO (Weaknesses-Opportunities), yaitu peluang yang dimiliki dipergunakan untuk mengatasi kelemahan dalam rangka pengembangan UKM.
  4. Strategi WT (Weaknesses-Threats), yaitu upaya untuk meminimalisir kelemahan dan menghindari ancaman dalam rangka pengembangan UKM.

Quantitative Strategic Planning Matrix (QSPM)

Setelah melakukan analisis SWOT, tahap selanjutnya adalah menyusun daftar rangking/urutan strategis yang harus diprioritaskan dengan menggunakan Quantitative Strategic Planning Matrix (QSPM). QSPM merupakan alat yang memungkinkan untuk mengevaluasi strategi alternatif secara objektif berdasarkan faktor-faktor kunci eksternal dan internal. Data yang ada dimasukkan dalam tabel yang telah dipersiapkan dan selanjutnya dianalisa. Selanjutnya untuk menentukan strategi yang paling sesuai maka akan dilanjutkan dengan menggunakan Tabel Analisis Strategi (lampiran 6) dengan langkah-langkah sebagai berikut:

  1. Daftarkan peluang/ancaman kunci eksternal dan kekuatan/kelemahan internal dalam kolom kiri QSPM.
  2. Berikan nilai/bobot untuk setiap faktor (sama dengan nilai yang tertera pada tabel EFE dan IFE).
  3. Memeriksa (pencocokan) matriks dan mengidentifikasi strategi alternatif yang harus dipertimbangkan untuk ditetapkan.
  4. Menetapkan nilai daya tarik, yaitu 1= tidak menarik, 2=sedikit menarik, 3=cukup menarik, 4=amat menarik.
  5. Menhitung total nilai daya tarik, yang merupakan hasil perkalian bobot dengan nilai daya tarik dalam setiap baris. Semakin tinggi total nilai daya tarik semakin menarik strategi tersebut.
  6. Menghitung jumlah total nilai daya tarik. Menunjukkan total nilai daya tarik dalam setiap kolom strategi QSPM, jumlah ini menunjukkan strategi mana yang paling menarik dalam setiap set strategi. Semakin tinggi nilai daya tarik menunjukkan strategi itu semakin menarik.

DAFTAR PUSTAKA

Alizar, M. Alizar. 2006. HAND BOOK: CORPORATE SOCIAL RESPONSIBILITY (CSR): Penerapan Prakarsa Multistakeholder dalam Mendukung Penerapan CSR yang Berkelanjutan pada Industri Minyak dan Gas Bumi.

Arturo Israel. 1992. Pegembangan Kelembagaan: Pengalaman Proyek-Proyek Bank Dunia. LP3ES.

Baedhowi. 2001. Studi Kasus dalam Teori dan Paradigma Penelitian Sosial oleh Salim, Agus (ed.). Yogyakarta: PT. Tiara Wacana.

Budimanta, Arif, Adi Prasetijo, dan Bambang Rudito. 2004. Corporate Social Responsibility ”Alternatif Bagi Pembangunan Indonesia”. ICSD.

Denzin, NK dan YS Lincoln (eds). 2000. Handbook of Qualitative Research (Second Edition), Thousand Oaks, London, New Delhi: Sage Publication.

Dipta, I Wayan. 2008. Strategi Penguatan Usaha Mikro, Kecil, dan Menengah (UMKM) dalam Infokop Volume 16.

Djogo, Tony, Sunaryo, Didik Suharjito, dkk. 2003. Kelembagaan dan Kebijakan dalam Agroforestry. World Agroforestry Centre (ICRAF) Bogor.

Kuncoro, JeDe. 2007. From Competiting to Collaborating. PT Gramedia Pustaka Utama.

Kuncoro, Mudrjad. 2008. Pebiayaan Usaha Kecil dalam Economic Review No. 211.

Nursahid, Fajar. 2006. Tanggung jawab sosial BUMN “Analisis terhadap Model Kedermawanan Sosial PT Krakatau Steel, PT Pertamina dan PT Telekomunikasi Indonesia”. Penerbit Piramedia, Depok.

Perusahaan Geothermal Indonesia. 2007. Community Engagement Report 2007. Indonesia: Perusahaan Geothermal Indonesia.

Puspitasari, Anandita. 2006. Ananlisis Program Pengembangan Masyarakat Berdasar Perspektif Gender (Studi Kasus Mengenai PT Astra Internasional Tbk di Kawasan Industri Sunter Dua, Jakarta Utara). Skripsi. Bogor : Program Studi Komunikasi dan Pengembangan Masyarakat Fakultas Pertanian Institut Pertanian Bogor.

Shahyuti. 2003. Model Kelembagaan Penunjang Pengembangan Pertanian di Lahan Lebak. Pusat Penelitian dan Pengembangan Sosial Ekonomi Pertanian.

Sitorus, M. T. Felix. 1998. Penelitian Kualitatif Suatu perkenalan. Kelompok Dokumentasi ilmu Sosial untuk Laboratorium Sosiologi, Antropolog dan Kependudukan. Bogor : Institut Pertanian Bogor.

Subagio, Amin. Pengembangan Kelembagaan Pangan Masyarakat dalam Pemantapan Ketahanan Pangan dan Ekonomi Masyarakat (Studi Kasus Desa Damparan, Kecamatan Dusun Hilir, Kabupaten Barito Selatan, Provinsi Kalimantan Tengah). Tesis. Bogor: Sekolah Pasca Sarjana Institut Pertanian Bogor.

Susanto, A. B. 2007. Corporate Social Responsibility : A Strategic Management Approch. Jakarta : The Jakarta Consulting Group.

Umar, Husein. 2008. Strategic Management in Action: Konsep, Teori, dan Teknik Menganalisis Manajemen Strategis Strategic Business Unit Berdasarkan Konsep Michael R. Porter, Fred R. David, danWheelen-Hunger. Jakarta: PT. Gramedia Pustaka

Tadjudin, Djuhendi. 2000. Manajemen Kolaborasi. Penerbit Pustaka Latin, Bogor. Sumber Gagasan Manajemen Kolaboratif.

Wibisono, Yusuf. 2007. Membedah Konsep dan Aplikasi CSR “Membedah Konsep dan Aplikasi CSR (Corporate Social Responsibility. Gresik: Fascho Publishing.

Yin, R. 1996. Studi Kasus: Desain dan Metode. Radja Grafindo Persada, Jakarta.

Zainal, Rabin Ibnu. 2006. Best Practices: Corporate Social Responsibility (CSR) Sebuah Pengalaman Membangun Multistakeholder Engagement bagi Penerapan CSR di Kabupaten Muba, Sumatera Selatan. Palembang: Fakultas Ekonomi unsri didukung oleh Partnership For Governence Reform in Indonesia, Uni Eropa, dan P3EMFE Unsri.

Zainal, Rabin Ibnu, Hayatuddin, dan Aldi M. Alizar. 2006. Handbook: Corporate Social Responsibility (CSR); Penerapan Prakarsa Multi-Stakeholder dalam Mendukung Penerapan CSR yang Berkelanjutan pada Industri Minyak dan Gas Bumi. Palembang: Fakultas Ekonomi unsri didukung oleh Partnership For Governence Reform in Indonesia, Uni Eropa, dan P3EMFE Unsri.


Lampiran 1

Lampiran 1. Jadwal Penelitian

KEGIATAN

LOKASI

FEBRUARI

MARET

APRIL

MEI

JUNI

JULI

AGUSTUS

1

2

3

4

1

2

3

4

1

2

3

4

1

2

3

4

1

2

3

4

1

2

3

4

1

2

3

4

I. Proposal dan Kolokium

1. Menyusun Draft dan Revisi

Kampus IPB

2. Konsultai Proposal

Kampus IPB

3. Orientasi lapang

CGS

4. Kolokium

Kampus IPB

II. Studi lapang

1. Pengumpulan Data

CGS

2. Analisis Data

CGS

III. Penulisan laporan

1. Analisis Lanjutan

Kampus IPB

2. Penyusunan Draft dan Revisi

Kampus IPB

3. Konsultasi Laporan

Kampus IPB

IV. Ujian Skripsi

1. Sidang

Kampus IPB

2. Perbaikan Skripsi

Kampus IPB


Lampiran 2

Tabel IFE

Internal Faktor

Bobot

Rating

Total Skor

Kekuatan

1.

2.

Kelemahan

1.

2.

Tabel EFE

Eksternal Faktor

Bobot

Rating

Total Skor

Kekuatan

1.

2.

Kelemahan

1.

2.

Matriks Analisis SWOT

Faktor Internal

Faktor Eksternal

Kekuatan (S)

1.

2.

Kelemahan (W)

1.

2.

Peluang (O)

1.

2.

Strategi SO

1.

2.

Strategi WO

1.

2.

Ancaman (T)

1.

2.

Strategi ST

1.

2.

Stratego WT

1.

2.

Matriks QSPM

Faktor-Faktor Kunci Sukses

Bobot

Analisis strategi

Strategi 1

Strategi 2

Strategi 3

NDT

TNDT

NDT

TNDT

NDT

TNDT

PELUANG

ANCAMAN

KEKUATAN

KELEMAHAN

JUMLAH TOTAL NILAI DAYA TARIK:

Keterangan: NDT (Nilai Daya Tarik), TNDT (Total Nilai Daya Tarik)


Lampiran 3

Teknik Pengumpulan Data dan Kebutuhan Data bagi penelitian

Rumusan Masalah

Data yang Diperlukan

Sumber Data

Teknik Pengumpulan Data

1. Latar belakang CGS mengembangkan UKM sebagai bentuk program CSR nya dan sejauh mana peran CGS dalam program ini.

· Bentuk-bentuk program CSR yang dijalankan oleh perusahaan

· Strategi yang dijalankan oleh perusahaan dalam melakukan program pengembangan masyarakat untuk mewujudkan tanggung jawab sosialnya/CSR

· Kebijakan perusahaan terhadap CSR

· Faktor yang mempengaruhi dibuatnya program UKM sebagai salah satu bentuk CSR perusahaan

· Konsep pengembangan UKM yang dilakukan oleh CGS

Data Primer

· Ketua Divisi Eksternal CGS

· Staf Divisi Eksternal CGS

· Masyarakat (pihak yang terlibat program pengembangan UKM)

Data Sekunder

· Laporan Tahunan CSR CGS

· Data jumlah dan jenis penghargaan CGS atas penerapan CSR

· Dokumentasi kegiatan CSR

· Regulasi atau aturan atau kebijakan perusahaan tentang CSR.

· Peraturan pemerintah tehadap penerapan CSR bagi perusahaan.

· Dokumentasi program pengembangan UKM yang telah dilakukan

Teknik pengumpulan data yang dilakukan untuk menjawab rumusan masalah No 1, yaitu :

· Wawancara mendalam

· Analisis data sekunder dari arsip dan/atau dokumen CGS.

2. Dampak pengembangan UKM bagi perekonomian masyarakat lokal.

· Lembaga-lembaga yang terlibat dalam program CSR diluar pihak/lembaga perusahaan.

· Masyarakat yang terlibat dalam UKM

· Badan LKM (jika terlibat)

Data Primer

· Divisi Eksternal CGS

· LKM (jika terlibat)

· Lembaga-lembaga yang terlibat dalam pengembangan UKM

Data Sekunder

· Data kependudukan berupa tingkat perekonomian masyarakat

· Data pihak yang terlibat dalam UKM

Teknik pengumpulan data yang dilakukan untuk menjawab rumusan masalah no 2, yaitu:

· Wawancara mendalam

· Analisis data sekunder dari arsip atau dokumen CGS, Pemerintah, dan LKM (jika terlibat)

3. Strategi pengembangan UKM agar dapat berkelanjutan.

· Kebijakan perusahaan mencakup strategi CSR

· Strategi perusahaan pada tahap perencanaan program

· Strategi perusahaan pada tahap implementasi

· Strategi perusahaan pada tahap evaluasi

· Strategi perusahaan pada tahap pelaporan

· Peran-peran stakeholder yang terlibat

Data Primer

· Divisi eksternal CGS

· Staf perencana dan pelaksana pengembangan UKM

· Komunitas atau masyarakat yang terlibat dalam program.

· Lembaga-lembaga yang terlibat dalam pengembangan UKM

· Pemerintah lokal

Data Sekunder

· Data kebijakan perusahaan tertuang dalam peraturan perusahaan.

· Laporan berkelanjutan (Annual report) perusahaan.

· Data pihak-pihak yang terlibat dalam program

· Wawancara mendalam

· Analisis data sekunder dari arsip dan/atau dokumen CGS, Pemerintah, dan LKM (jika terlibat)

4. Profil pihak-pihak yang terlibat

· Hambatan yang ada sebelum dan setelah penerapan pengembangan UKM

· Kualitas sumber daya manusia yang unggul di masyarakat serta lembaga lain untuk mensukseskan program.

· Hubungan dengan stakeholder (dalam hal ini masyarakat yang menerima atau terkait dalam pengembangan UKM oleh CGS)

· Penghargaan yang diraih perusahaan.

· Pengembangan usaha masyarakat dari program pengembangan UKM.

· Opini masyarakat yang berpartisipasi dalam program pengembangan UKM.

· Opini pihak-pihak yang terlibat dalam pengembangan UKM (pemerintah, NGO, lembaga lain)

Data Primer

· Ketua divisi eksternal CGS

· Staf Divisi eksternal CGS yang terlibat dalam pengembangan UKM

· Komunitas atau masyarakat yang berpartisipasi dalam program.

· Lembaga-lembaga lain yang terlibat dalam program (pemerintah, LSM, NGO, dan lainnya)

Data Sekunder

· Masyarakat yang terlibat program pengembangan UKM oleh CGS

· Lembaga-lembaga yang terlibat dalam pengembangan UKM

· Wawancara mendalam

· Analisis data sekunder dari arsip dan/atau dokumen CGS


Lampiran 4

Panduan Pertanyaan

(sebagai pedoman wawancara)

Bagian 1 pertanyaan untuk perusahaan (divisi eksternal perusahaan)

1. Program CSR apa saja yang dijalankan oleh perusahaan pada tahun 2009 ini?

2. Apa yang dilakukan oleh CGS untuk membantu perekonomian masyarakat sebagai bentuk CSR?

3. Apa latar belakang dikembangkannya UKM sebagai salah satu bentuk CSR yang dilakukan oleh perusahaan?

4. Ada berapa banyak UKM yang dikembangkan oleh CGS?

5. Apa saja bentuk-bentuk UKM yang dikembangkan?

6. Sejauh mana peran CGS dalam pengembangan UKM ini?

7. Siapa saja pihak-pihak yang terlibat dalam program pengembangan UKM ini? Dan sejauh mana peranannya?

8. Dimanakah program pengembangan UKM ini berlangsung?

9. Sejak kapan program pengembangan UKM ini berjalan?

10. Bagaimana dampak pengembangan UKM ini terhadap perekonomian masyarakat?

11. Bagaimana pendapat CGS tentang program ini?

12. Apa saja kendala yang dihadapi oleh CGS dalam menjalankan program ini?

13. Apa yang dilakukan perusahaan untuk menghadapi kendala-kendala tersebut?

14. Apa strategi selanjutnya yang dilakukan CGS untuk membuat program ini berkelanjutan dan dapat membantu meningkatkan perekonomian masyarakat?

Bagian 2 pertanyaan untuk pemerintah lokal

1. Apa saja potensi sumberdaya yang ada di wilayah Kabandungan dan Kalapanunggal?

2. Bagaimana tingkat perekonomian masyarakat di wilayah Kabandungan dan Kalapanunggal?

3. Adakah program bantuan dari CGS untuk wilayah Kabandungan dan Kalapanunggal?

4. Apakah ada UKM yang berkembang di masyarakat wilayah Kabandungan dan Kalapanunggal?

5. Jika ada, apakah UKM tersebut dibangun oleh insiatif masyarakat atau pihak luar?

6. Jika dibangun oleh masyarakat, siapa yang mempunyai inisiatif tersebut?

7. Jika dibangun oleh pihak luar, siapa yang mempunyai inisiatif tersebut?

8. Sejauh mana peran inisiator dalam pembentukan UKM di wilayah tersebut?

9. Siapa saja yang terlibat dalam mengembangkan UKM tersebut?

10. Apa saja peran dari pihak-pihak tersebut?

11. Adakah peran CGS dalam pengembangan UKM tersebut? sejauh mana peranannya?

12. Sudah berapa lama UKM tersebut berjalan?

13. Ada berapa banyak UKM yang ada?

14. Apa saja bentuk UKM yang telah ada dan berkembang?

15. Sejauh mana dampak pengembangan UKM ini bagi perekonomian masyarakat?

16. Apa saja kendala yang dihadapi selama program ini berjalan?

17. Apa yang dilakukan oleh pemerintah untuk menghadapi dan menanggulangi kendala tersebut?

18. Sejauh mana peran pemerintah terhadap pengembangan UKM ini?

19. Apa strategi yang dilakukan pemerintah agar program ini dapat berkelanjutan dan membantu perekonomian masyarakat?

Bagian 3 pertanyaan untuk lembaga-lembaga yang terlibat program

1. Sudah berapa lama lembaga ini terlibat dalam program pengembangan UKM di wilayah Kabandungan da Kalapanunggal?

2. Apa peran lembaga ini dalam program tersebut?

3. Bagaimana pendapat lembaga ini terhadap program?

4. Pihak-pihak apa saja yang terlibat dalam program ini?

5. Sejauh mana peran dari pihak-pihak tersebut dalam program ini?

6. Sudah berapa lama UKM ini berjalan?

7. Apa saja kendala/hambatan yang ada selama program ini berjalan?

8. Apa yang dilakukan lembaga ini untuk menanggulangi kendala yang ada?

9. Menurut lembaga ini apa saja potensi sumberdaya yang ada di wilayah pengembangan UKM?

10. Apakah ada peran CGS dalam program ini?Sejauh mana perannannya?

11. Apa strategi lembaga ini aga program ini dapat berkelanjutan dan membantu perekonomian masyarakat?

Bagian 4 pertanyaan untuk masyarakat yang terlibat program

1. Sudah berapa lama anda mengikuti program ini?

2. UKM apa yang ada ikuti?

3. Siapa yang membentuk UKM ini?

4. Siapa saja pihak yang terlibat dalam pembentukan dan pengembangan UKM ini?

5. Apa peran dari pihak-pihak yang terlibat dalam program ini?

6. Apa pendapat anda mengenai program ini?

7. Sudah berapa lama UKM berkembang di wilayah ini?

8. Ada berapa UKM yang dibentuk/berkembang di wilayah ini?

9. Apa saja bentuk UKM yang ada di wilayah ini?

10. Apakah program ini memberikan dampak terhadap perekonomian anda?(meningkat/menurun/tidak berubah?

11. Apa mata pencaharian anda sehari-hari?

12. Berapa penghasilan anda per bulan?

13. Berasal dari mana saja pendapatan anda tiap bulannya?

14. Berapa jumlah anggota keluarga yang anda tanggung?

15. Bagaimana pendapat anda mengenai program ini?

16. Apa saja kendala yang dihadapi selama program ini berlangsung?

17. Bagaimana cara anda menanggulangi kendala tersebut?

18. Apa saja potensi sumberdaya yang ada di wilayah ini?

19. Apa saran anda untuk program ini agar program ini dapat berkelanjutan dan membantu perekonomian masyarakat?


[1] Lihat Economic Review No. 211 Maret 2008 oleh Prof. Mudrajad Kuncoro, Ph.D

Posted in CSR, Jawa Barat, sukabumi | Dengan kaitkata: , , , , , , , , , | 2 Comments »

 
Ikuti

Get every new post delivered to your Inbox.