Kolokium Sains Komunikasi dan Pengembangan Masyarakat, Institut Pertanian Bogor

Representasi Sosial tentang Kerja pada Anak Jalanan di Stasiun Kereta Api Bogor dan Terminal Baranang Siang, Kota Bogor, Jawa Barat

Posted by kolokium kpm ipb pada 25 Maret 2009

Nama Pemrasaran/NRP : Galuh Adriana/A14204013

Departemen : Sains Komunikasi dan Pengembangan Masyarakat

Pembahas : Desie Yuniar/ A14204029

Dosen Pembahas : Dr. Sarwititi.

Dosen Pembimbing : Dr. Nurmala K. Pandjaitan, MS.DEA

Judul Rencana Penelitian : Representasi Sosial tentang Kerja pada Anak Jalanan di Stasiun Kereta Api Bogor dan Terminal Baranang Siang, Kota Bogor, Jawa Barat

Tanggal dan Waktu : Selasa, 24 Maret 2009 pukul 09.00 – 10.00 WIB

I. PENDAHULUAN

1.1 Latar Belakang

Pembangunan ekonomi yang telah dilakukan selama ini oleh pemerintah Indonesia telah menghasilkan kemajuan dibeberapa sektor ekonomi. Namun, tidak bisa dipungkiri bahwa pembangunan yang telah dilaksanakan tersebut menghasilkan beberapa dampak negatif, salah satunya adalah terciptanya kesenjangan sosial-ekonomi dalam masyarakat Indonesia. Kesenjangan sosial ekonomi tersebut menghasilkan permasalahan-permasalahan sosial ekonomi, baik itu di perdesaan ataupun di perkotaan. Permasalahan yang muncul diperkotaan salah satunya ialah munculnya fenomena anak jalanan. Fenomena anak jalanan ini terdapat di kota-kota besar seperti di Jakarta, Surabaya, Yogyakarta, Medan, dan bahkan sampai di kota Malang (Waluyo, 2000).

Menurut data Pusat Kajian Pengembangan Masyarakat (PKPM) Unika Atma Jaya (2001) yang bekerja sama dengan organisasi asing nonpemerintah dalam programnya Save the Children, terdapat 10.000 anak jalanan di Jakarta yang tersebar di 312 ‘kantong’. Diantaranya ialah terminal luar kota Pulo Gadung, lampu merah Pramuka, stasion Beos, prapatan Cawang, dan Pasar Minggu. Dengan rata-rata terhitung 100 lebih anak mangkal per harinya. Anak-anak jalanan ini umumnya mengamen, mengasong, mencuci mobil, menyemir sepatu, parkir mobil, kernet dan menjadi joki, dan ojek payung.1 Sedangkan untuk di Bogor, Pemerintah Kota Bogor mencatat terdapat 640 anak jalanan yang tersebar di wilayah kota Bogor pada tahun 2009.2 Biasanya anak jalanan di Bogor dapat ditemukan di setiap perempatan jalan, lampu merah, kolong jembatan, di bawah pohon, pusat perbelanjaan, dan paling banyak terdapat di jalan Pajajaran (di dekat hotel Pangrango).

Laporan Yayasan Kesejahteraan Anak Indonesia (1994) memberitakan bahwa fenomena anak jalanan semakin meningkat dari segi kualitas maupun kuantitas. Penelitian mengungkapkan bahwa sebagian besar anak jalanan berasal dari keluarga tidak mampu, sehingga mereka harus bekerja mencari uang untuk membantu memenuhi kebutuhan keluarga.

Hidup sebagai anak jalanan dan mengembara di jalan membuat mereka memiliki berbagai masalah sosial diantaranya ialah korban eksploitasi pekerjaan, rawan kecelakaan lalu lintas, ditangkap petugas, terlibat kriminal, konflik dengan anak lain, perlakuan yang salah dalam seks terhadap anak, diperjual belikan, dan lain-lain. Kondisi inilah yang menyebabkan anak jalanan mengalami masalah umum dalam bentuk kekerasan yang berakibat fisik ataupun gangguan emosional dan pelaksanaan peran sosial lainnya (Depsos, 2006).

Berdasarkan latar belakang di atas, menarik untuk dikaji lebih dalam mengenai mengapa seorang anak harus menjadi anak jalanan meskipun terdapat banyak permaslahan yang dihadapi dengan melihat karakteristik sosial ekonomi anak jalanan. Apakah sebenarnya representasi sosial tentang kerja bagi anak jalanan sehingga mau untuk bekerja di jalanan. Apakah ada hubungan antara representasi sosial tentang kerja yang dimiliki anak jalanan terhadap perilaku kerja. Pengkajian terhadap representasi sosial tentang kerja ini terkait dengan teori tentang representasi sosial yaitu representasi sosial dapat merubah perlaku seserang, atau dengan kata lain representasi sosial dapat mempengaruhi perilaku seseorang. Representasi sosial tentang kerja yang berbeda akan menghasilkan perilaku kerja yang berbeda pula. Hal ini disebabkan setiap individu memiliki representasi yang berbeda mengenai suatu obyek

1.2 Perumusan Masalah

Berdasarkan latar belakang permasalahan di atas, tujuan penulisan ini adalah sebagai berikut:

1. Bagaimanakah karakteristik sosial ekonomi anak jalanan?

2. Bagaimanakah reprentasi sosial tentang kerja pada anak jalanan?

3. Bagaimanakah perilaku kerja yang terbentuk pada anak jalanan?

4. Bagaimanakah hubungan antara reprentasi sosial tentang kerja dengan perilaku kerja anak jalanan?

1.3Tujuan Penelitian

Berdasarkan latar belakang permasalahan di atas, tujuan penulisan ini adalah sebagai berikut:

1. Mengidentifikasi karakteristik sosial ekonomi anak jalanan.

2. Mengidentifiksi reprentasi sosial tentang kerja bagi anak jalanan.

3. Mengidentifikasi perilaku kerja yang terbentuk pada anak jalanan.

4. Mengetahui hubungan antara reprentasi sosial tentang kerja dengan perilaku kerja anak jalanan.

1.4 Kegunaan Penelitian

Penelitian ini diharapkan dapat memberikan manfaat bagi pembaca untuk menambah wawasan dan informasi mengenai anak jalanan. Bagi pihak-pihak yang berkaitan dengan anak jalanan diharapkan dapat menjadi bahan pertimbangan untuk membuat suatu solusi dalam melakukan upaya pemberdayaan untuk mengatasi bertambahnya jumlah anak jalanan.

II. PENDEKATAN TEORITIS

2.1 Tinjauan Pustaka

Pengertian Makna

Blumer seperti dikutip oleh Sunarto (2000) menyatakan tiga premis yang menyatakan tentang makna. Pertama, manusia bertindak terhadap sesuatu atas dasar makna sesuatu tersebut bagi mereka. Kedua, makna merupakan suatu produksi sosial yang muncul dalam proses interaksi antar manusia. Ketiga, penggunaan makna oleh para pelaku berlangsung melalui suatu proses penafsiran.

Definisi pemaknaan yang telah diungkapkan di atas merupakan suatu makna yang berada pada diri individu. Namun dalam perkembangan teori ini ternyata makan itu tidak hanya berada pada level individu saja, tetapi terdapat makna yang berada pada level masyarakat yang dinamakan makan sosial atau representasi sosial.

Representasi sosial sebagai suatu pandangan fungsional yang membiarkan individu atau kelompok memberikan makna atau arti terhadap tindakan yang dilakukannya, untuk mengerti suatu realita kehidupan sesuai dengan referensi yang mereka miliki, dan untuk beradaptasi terhadap realitas tersebut (Abric, 1976).

Representasi sosial terdiri dari elemen informasi, keyakinan, pendapat, dan sikap tentang suatu obyek. Bagian-bagian ini terorganisasi dan terstruktur sehingga kemudian menjadi sistem sosial-kognitif seseorang. Struktur representasi sosial terdiri dari central core peripheral core. Karakteristik (central core) unsur utama yaitu bersifat lebih stabil dan tidak mudah untuk berubah. Karakteristik (periphery) yaitu sebagai pelengkap dari unsur utama, paling mudah berubah. Jika kita ingin merubah representasi sosial maka harus merubah central core.

Jadi representasi sosial sebenarnya memperkenalkan adanya sintesis yang baru antara individu dengan lingkup sosialnya. Posisi individu dalam teori ini dinilai tidak menghasilkan pola pikir dalam situasi yang terisolasi, namun dari basis saling mempengaruhi satu sama lain. Dan itu menjadi dasar bagi munculnya pemaknaan bersama tentang suatu obyek dan mempengaruhi perilaku individu berdasarkan makna bersama tersebut.

Representasi Sosial Tentang Kerja

Penelitian mengenai representasi sosial tentang kerja masih belum banyak diteliti. Maka dari itu digunakanlah hasil penelitian makna kerja untuk memberikan informasi mengenai makan kerja yang melekat pada diri individu. Bisa saja makna kerja yang berada pada level individu berada pula pada level masyarakat atau disebut sebagai representasi sosial.

Pada masyarakat modern makna bekerja menjadi bersifat ekonomis, dimana bekerja lebih sering diartikan sebagai aktivitas seseorang yang bertujuan untuk memperoleh imbalan uang atau barang nyata lainnya. Hal ini senada dengan pernyataan Tim MOW (Meaning of Workin Team, 1987) bahwa makna bekerja adalah suatu aktivitas yang menghasilkan sesuatu yang bernilai bagi orang lain. Ada pula yang menganggap bahwa bekerja bukan hanya untuk mencukupi kebutuhan pokoknya, ada pula yang beranggapan bahwa dengan bekerja kebutuhan-kebutuhan sosial seperti memperoleh kepuasan, mengembangkan kemampuan, dapat terpenuhi (Amanaty, 1997).

Jadi secara konseptual, representasi sosial tentang kerja adalah sejumlah image, opini, penilaian, dan keyakinan umum mengenai kerja.

Pengukuran Makna Kerja

Pemahaman dan penghayatan terhadap makna bekerja menjadi relatif terkait dengan situasi dan sudut pandang tertentu. Salah satunya ialah pendekatan yang digunakan oleh Kaplan dan Tausky (dalam Rasyid, 1987) pada Amanaty (1997) mengajukan konsep mengenai tipologi mengenai makna bekerja yang intinya dengan bekerja individu mampu mendapatkan sarana untuk: memenuhi status dan prestisenya, mendapatkan penghasilan, dapat mengisi waktunya secara lebih berarti, mendapatkan sarana untuk melakukan kontak sosial atau interpersonal, memberikan layanan atau pengabdian yang bersifat sosial, dan mengekspresikan diri atau memperoleh kepuasan secara intrinsik diantaranya memperoleh pengalaman, mempelajari sesuatu yang baru, aktualisasi diri, dan mengembangkan kemampuan diri.

Lebih jauh mengenai dimensi makna bekerja, Tim MOW (Meaning Of Working International Research Team, 1987) mengadakan penelitian mengenai makna bekerja pada sektor formal di sejumlah negara. Penelitian tersebut berlandaskan pada kerangka pemikiran yang melibatkan lima dimensi makna bekerja yaitu sentralitas kerja (work centrality), norma-norma sosial mengenai bekerja (societal norms about working), hasil-hasil bekerja yang bernilai (valued working outcomes), kepentingan tujuan bekerja (importance of work goals), dan identifikasi peran bekerja (working role identifications).

Di dalam model yang dikemukakan oleh Tim MOW (1987), ada seperangkat variabel yang berpengaruh di dalam proses pemberian makna terhadap bekerja pada seseorang, yaitu variabel yang tergolong pribadi dan situasi keluarga (personal and family situation),antara lain usia, jenis kelamin, pendidikan formal, agama; pekerjaan saat ini dan sejarah karir (present job and career history), seperti status pekerjaan dan masa kerja; lingkungan sosial ekonomi secara makro (macro socio-economic environment).

Hasil penelitian Amanaty (1997) yang dilakukan pada karyawati yang bekerja pada sektor industri dan manufaktur menemukan hal yang berbeda mengenai dimensi-dimensi makna bekerja. Ternyata hasil penelitiannya mengungkapkan terdapat delapan dimensi makna bekerja yang berbeda dengan hasil penelitian MOW. Delapan dimensi tersebut adalah sebagai berikut: penerapan pengetahuan, peningkatan ketrampilan dan jaringan sosial, kemandirian dan kesejajaran dengan pria, ibadah dan tanggungjawab sosial, peningkatan status sosial, pemenuhan kebutuhan hidup, jenjang karir, dan pencarian pasangan hidup.

Dari penjelasan di atas, terdapat variasi dimensi makna. Hal ini disebabkan siapa yang memberikan makna tersebut terkait dengan karakteristik individu yang mempengaruhi pemberian makna, tingkat pendidikan, dan sektor bekerja (formal/informal). Sedangkan lingkungan sosial, tugas dalam pekerjaan, dan tujuan hidup nampaknya berperan dalam pembentukan representasi sosial. Maka untuk representasi sosial tentang kerja pada anak jalanan mungkin saja mempunyai dimensi yang berbeda dengan dimensi di atas.

Karakteristik Anak Jalanan

Pengertian anak jalanan adalah anak-anak berusia dibawah 18 tahun, sebagian besar waktunya dihabiskan di tempa-tempat umum untuk mencari nafkah atau berkeliaran, penampilan mereka biasanya kumal, kotor serta tidak terawat dan memiliki hubungan yang kurang dekat dengan keluarga (Depsos, 2006 dan Garliah, 2004).

Anak jalanan memiliki karakteristik sosial seperti warna kulit yang kusam, penampilan yang tidak rapih serta kotor, jumlah anak jalanan lebih banyak laki-laki pada usia 16 sampai 18 tahun dan pada perempuan pada usia 13 sampai 15 tahun, berada ditempat-tempat keramaian dan banyak makanan, sangat rentan mengalami tindak kekerasan dari lingkungan bekerja, berasal dari keluarga yang kurang mampu dengan pendidikan kepala keluarga hanya sampai SD, memiliki hubungan yang kurang baik dengan keluarga, orang tua bukan merupakan orang terdekat bagi anak jalanan, dan penyebab terjadinya anak jalanan dapat dibedakan menjadi tiga tipe berdasarkan faktor ekonomi, keluarga, dan iseng (Sutinah, 2001; Garliah, 2004; Handoyo, 2004; Depsos, 2006 dan Suhartini, 2008).

Selain karakteristik sosial, anak jalanan juga memiliki krakteristik ekonomi yang dapat dilihat dari lokasi bekerja, aktivitas yang dilakukan, kondisi ekonomi keluarga, dan modal untuk melakukan pekerjaan. Lokasi bekerja anak jalanan biasanya berada di pasar, terminal bus, stasiun kereta api, taman-taman kota, daerah lokalisasi WTS, perempatan jalanan atau jalan raya terutama daerah lampu merah (traffic light), di kendaraan umum, dan tempat pembuangan sampah (Depsos, 2006 dan Sutinah, 2001). Aktivitas yang mereka lakukan biasanya hanya membutuhkan sedikit keterampilan dan tidak membutuhkan banyak tenaga seperti, menyemir sepatu, mengasong, menjual koran atau majalah, mencuci kendaraan, menjadi pemulung, mengamen, menjadi kuli angkut, menjadi penghubung atau penjual jasa, bersih-bersih makam, pekerja seks, pencari kerang (di pantai), dan ojek payung (Depsos, 2006 dan Sutinah, 2001).

Biasanya modal untuk melakukan pekerjaannya menggunakan modal sendiri, berkelompok, berasal dari majikan/patron atau pun dari bantuan/stimulan (Depsos, 2006). Modal untuk melakukan pekerjaan sebagai anak jalanan dapat diartikan sebagai alat yang digunakan untuk melakukan pekerjaan. Alat yang digunakan oleh anak jalanan tergantung pada jenis pekerjaan yang dilakukan. Penjelasan lebih lanjut mengenai alat yang digunakan dalam bekerja akan dibahas pada bab perilaku kerja.

2.2 Kerangka Pemikiran

Representasi sosial tentang kerja pada anak jalanan dipengaruhi oleh karakteristik individu dan faktor eksternal. Karakteristik individu meliputi usia, jenis kelamin, status pendidikan, alasan menjadi anak jalanan, status ekonomi keluarga dan status sosial keluarga. Faktor eksternal menyangkut tiga hal yaitu jenis kekerasan, kondisi pekerjaan dan kebijakan pemerintah yang menyangkut keberadaan anak jalanan. Jenis kekerasan menyangkut segala bentuk tindakan yang merugikan dan menyakiti anak jalanan. Kondisi kerja yaitu suatu keadaan dan sifat pekerjaan bagi anak jalanan. Sedangkan kebijakan pemerintah terkait dengan anak jalanan, menyangkut segala peraturan yang mengatur mengenai keberadaan anak jalanan, baik berupa larangan, ancaman, ataupun teguran-teguran yang disampaikan pada saat razia anak jalanan. Perilaku kerja anak jalanan dapat dilihat dari jam kerja, lama anak jalanan bekerja, lokasi anak jalanan bekerja, jenis pekerjaan, dan tipe kelompok kerja anak jalanan

Representasi sosial tentang kerja pada anak jalanan adalah sejumlah image, opini, penilaian, dan keyakinan umum mengenai kerja yang ada pada anak jalanan. Representasi sosial berarti pemahaman bersama tentang suatu hal di kelompok tertentu yang di dalamnya terdiri dari informasi, keyakinan, pendapat, dan sikap. Struktur representasi sosial berupa central core dan peripheral core. Central core ini berperan lebih memusat, berakar pada individu dan merupakan hasil dari sistem nilai yang dibagi bersama oleh anggota suatu kelompok sehingga relatif lebih sulit untuk diubah dibanding peripheral core.

Bentuk pengetahuan dalam representasi sosial pada anak jalanan dapat dibentuk dari komunikasi yang ada di antara anak jalanan. Anak jalanan dapat berkomunikasi satu sama lain tentang pekerjaan yang dilakukannya sekarang melalui informasi, keyakinan, pendapat, dan sikap mereka. Dari hasil komunikasi tersebut maka anak jalanan akan memiliki suatu pengetahuan sosial tentang kerja yang hampir sama di antara mereka. Namun meskipun perubahan pada kebudayaan terasa cukup kuat, namun hal itu tidak akan berarti banyak jika central core representasi seseorang tidak terpengaruh. Jika anak jalanan memiliki representasi sosial tertentu tentang kerja, maka meskipun kebudayaan cenderung berubah selama central core mereka tidak berubah, tetap saja representasi sosial anak jalanan tentang kerja cenderung tidak akan berubah. Perubahan ini mungkin saja hanya akan mengenai peripheral core dari representasi sosial tentang kerja pada anak jalanan.

Representasi sosial merupakan suatu pandangan fungsional yang membiarkan individu atau kelompok memberikan makna atau arti terhadap tindakan yang dilakukannya, untuk mengerti suatu realita kehidupan sesuai dengan referensi yang mereka miliki, dan untuk beradaptasi terhadap realitas tersebut. Dari pengertian ini dapat dikatakan bahwa representasi sosial individu mengenai suatu hal akan mempengaruhi perilaku individu terhadap hal tersebut. Jadi, representasi sosial tentang kerja pada anak jalanan akan mempengaruhi perilaku kerja anak jalanan. Perilaku kerja pada anak jalanan juga dipengaruhi oleh faktor eksternal seperti yang telah disebutkan di atas. Perilaku kerja anak jalanan dapat dilihat dari jam kerja, lama anak jalanan bekerja, lokasi anak jalanan bekerja, jenis pekerjaan, dan tipe kelompok kerja anak jalanan. Secara sederhana penjelasan di atas dapat digambarkan sebagai berikut:

untitled2

Gambar I. Kerangka Pemikiran Operasional

Hipotesa Penelitian

1.Diduga karakteristik sosial ekonomi anak jalanan akan mempengaruhi representasi sosial tentang kerja pada anak jalanan.

2.Diduga representasi sosial tentang kerja pada anak jalanan akan mempengaruhi perilaku kerja anak jalanan.

Definisi Operasional

1.Anak jalanan adalah seseorang yang menghabiskan sebagian besar waktunya di jalanan dan tempat umum lainnya.

2.Usia adalah lama hidup responden dari sejak lahir sampai ketika diwawancarai, kategori yang digunakan adalah:

1) antara 9 hingga 13 tahun 2) antara 14 hingga 18 tahun

3.Jenis kelamin adalah struktur biologis yang ada pada diri anak jalanan. Kategorinya adalah:

1) laki-laki 2) perempuan

4.Status pendidikan adalah pernah atau tidaknya masuk pendidikan formal/nonformal.

Kategorinya adalah:

1) tidak pernah sekolah 2) pernah sekolah

5.Tingkat pendidikan anak jalanan adalah pendidikan terakhir yang dilalaui oleh anak jalanan. Kategorinya adalah sebagai berikut:

1) Tidak sekolah 4) SLTA dan sederajat

2) SD dan sederajat 5) Lainnya

3) SLTP dan sederajat

6.Alasan menjadi anak jalanan dilihat dari motivasi menjadi anak jalanan dan motivator seorang anak menjadi anak jalanan.

7.Motivasi menjadi anak jalanan adalah suatu hal yang menyebabkan seorang anak memilih untuk turun ke jalan. Kategori yang digunakan adalah:

1) Tipe pertama : turun ke jalan karena alasan ekonomi/ mencari nafkah untuk keluarga

2) Tipe kedua : turun ke jalan karena kurang kasih sayang keluarga/ disharmoni keluarga

3) Tipe ketiga : turun ke jalan karena iseng/ menambah uang saku.

8.Motivator menjadi anak jalanan adalah seseorang yang mengajak atau menyuruh seorang anak untuk bekerja di jalanan. Kategoriny adalah sebagai berikut:

1) Orangtua

2) Teman

3) Anggota keluarga lainnya seperti kakak, adik, paman, bibi, dan sejenisnya

4) Lainnya

9.Status ekonomi keluarga dilihat dari tingkat pendapatan orang tua dan jenis pekerjaan orang tua.

10. Tingkat pendapatan orang tua adalah jumlah uang yang didapat oleh orang tua dalam satu bulan terakhir. Dikategorikan:

1) Tidak berpenghasilan

2) ≤ Rp 200.000,00

3) Rp 200.000,00 – Rp 500.000,00

4) Rp 500.000,00 – Rp 830.000,00

5) >Rp 830.000,00

6) Tidak tahu

11. Jenis pekerjaan orang tua adalah aktivitas yang dilakukan untuk mendapatkan uang dalam satu bukan terakhir. Dikategorikan:

1) Bidang jasa, seperti buruh pabrik atau buruh tani, tukang becak, kuli panggul, tukang ojek, pembantu rumah tangga, pemulung dan sejenisnya.

2) Berdagang, seperti pedagang koran, penjual rokok, penjual minuman, berjualan di pasar, dan sejenisnya.

3) Serabutan, tidak memiliki pekerjaan yang jelas waktu bekerja, kadang bekerja-kadang tidak bekerja.

4) Pengemis

5) Pengamen

6) Pemulung

7) Lainnya

8) Tidak bekerja

12. Status sosial keluarga dilihat dari status perkawinan orang tua, keberadaan orang tua, tingkat pendidikan serta tempat tinggal.

13. Status perkawinan orang tua adalah kondisi perkawinan orang tua yang legal baik secara hukum dan agama. Dikategorikan:

1) Menikah 4) Ditinggalkan

2) Cerai 5) Tidak tahu

3) Pisah rumah

14. Keberadaan orang tua adalah apakah orang tua anak jalanan masih hidup atau tidak. Dikategorikan:

1) Memiliki ayah dan ibu 4) Yatim-Piatu

2) Yatim 5) Tidak tahu

3) Piatu

15. Status perkawinan orang tua adalah kondisi perkawinan orang tua yang legal baik secara hukum dan agama. Dikategorikan:

1) Menikah

2) Cerai

3) Pisah rumah

4) Ditinggalkan

5) Tidak tahu

16. Tingkat pendidikan orangtua anak jalanan yaitu pendidikan terakhir yang dilalui oleh orangtua anak jalanan. Dikategorikan:

1) Tidak sekolah 4) SLTA dan sederajat

2) SD dan sederajat 5) Lainnya

3) SLTP dan sederajat

17. Tempat tinggal adalah dengan siapa mereka tinggal. Kategorinya adalah:

1) Bersama orang tua kandung 4) Bersama teman sekelompok

2) Bersama orang tua asuh (angkat) 5) Menggelandang di jalanan

3) Bersama saudara

18. Jenis kekerasan adalah suatu tindakan yang merugikan dan menyakiti anak jalanan seperti dipukul, ditendang, dipalak, diancam, dimarahin, dan pelecehan seksual. Pada variabel ini akan dilihat secara kualitatif.

19. Kondisi kerja adalah suatu keadaan dan sifat pekerjaan yang anak jalanan miliki sekarang. Kondisi kerja akan dilihat dengan menggunakan metode skala perbedaan semantik yang berisikan karakteristik bipolar (dua kutub) dari suatu pekerjaan. Kategorinya ialah sebagai berikut:

1) Menyedihkan – Menyenangkan

2) Keterpaksaan – Kemauan sendiri

3) Penuh resiko – Aman

4) Melelahkan – Ringan

5) Tidak mencukupi – Mencukupi kebutuhan

6) Pekerjaan rendah – Setara dengan pekerjaan lain

Selanjutnya, diantara dua kutub ini akan diberi skor nilai antara 1-5, dimana setiap responden harus memberikan penilaian dengan menggunakan rentangan skor tersebut. Jika skor yang diberikan semakin ke kiri mendekati angka 1 maka dapat disimpulkan bahwa kondisi kerja anak jalanan sangat negatif, dan sebaliknya jika skor yang diberikan semakin ke kanan atau mendekati angka 5 maka dapat disimpulkan bahwa kondisi kerja anak jalanan sangat posisif.

20. Kebijakan pemerintah adalah segala peraturan yang mengatur mengenai keberadaan anak jalanan. Variabel akan dilihat secara kualitatif.

21. Representasi sosial tentang kerja pada anak jalanan adalah sejumlah image, opini, penilaian, dan keyakinan umum mengenai kerja yang ada pada anak jalanan. Dalam representasi sosial terdapat empat elemen yaittu informasi, keyakinan, pendapat dan sikap yang dijelaskan sebagai berikut:

1) Informasi adalah segala pengetahuan yang miliki anak jalanan mengenai kerja

2) Keyakinan adalah suatu hal yang dipercaya mengenai kerja bagi anak jalanan

3) Pendapat adalah suatu hasil pemikiran mengenai kerja yang dikomunikasikan kepada anak jalanan lainnya

4) Sikap adalah kecenderungan respon suka atau tidak suka pada kerja yang hasil akhirnya bisa posistif atau negatif.

Penyusunan instrumen untuk melihat representasi sosial tentang kerja pada anak jalanan melalui beberapa tahap. Pada tahap pertama yaitu yahap pada pra-survei diperoleh 9 kelompok representasi sosial tentang kerja yang dijelaskan sebagai berikut:

1) Untuk kehidupan yaitu bekerja dimaknai sebagai alat untuk bisa bertahan hidup

2) Cari kebebasan yaitu bekerja dimaknai untuk memperoleh kemerdekaan terhadap tindakan apa yang akan diambil, dan bisa mandiri.

3) Cari pengalaman yaitu bekerja dimaknai untuk memperoleh wawasan, menambah pengetahuan tentang kehidupan, dan mengetahui informasi tentang kehidupan jalananan.

4) Cari hiburan yaitu bekerja dimaknai untuk menghilangkan sters, mencari hiburan dan cuci mata,tidak bosan, mencari ketenangan dan memperoleh kesenangan.

5) Cari teman yaitu bekerja dimaknai sebagai wadah untuk mencari sahabat, cari pergaulan, cari persahabatan, kenal banyak orang dan cari pacar.

6) Bantu orangtua yaitu bekerja dimaknai untuk memberi uang kepada orangtua, menambah penghasilan keluarga, dan untuk membantu membeli obat adik.

7) Cari uang yaitu bekerja dimaknai untuk memperoleh atau menghasilkan uang.

8) Untuk makan yaitu bekerja dimaknai untuk bisa membeli makanan untuk dimakan sendiri dan anggota keluarga lainnya.

9) Untuk sekolah yaitu bekerja dimaknai sebagai alat agar bisa melanjutkan pendidikan formal, bisa membeli buku sekolah dan peralatan tulis, bisa membayar sekolah dan bisa menyekolahkan adik.

Representasi sosial tentang kerja pada anak jalanan akan dicari dengan menggunakan kuesioner yang akan dijelaskan pada bab pendekatan lapangan.

22. Perilaku kerja adalah segala aktivitas yang dapat menghasilkan uang. Dalam perilaku kerja akan dilihat dari jam kerja, lama bekerja, lokasi kerja, jenis pekerjaan, dan tipe kelompok kerja.

23. Jam kerja adalah waktu dimana anak jalanan melakukan kegiatan mencari uang. Dikategorikan:

1) 07.00 – 09.00 WIB 5). 15.01 – 17.00 WIB

2) 09.01 – 11.00 WIB 6). 17.01 – 19.00 WIB

3) 11.01 – 13.00 WIB 7). Lainnya

4) 13.01 – 15.00 WIB

24. Lama bekerja adalah waktu yang digunakan oleh anak jalanan untuk bekerja (Tidak termasuk waktu bermain dan rekreasi). Dikategorikan:

1) ≤ 5 jam

2) > 5 jam

25. Lokasi kerja adalah tempat dimana anak jalanan bekerja. Pada penelitian lokasi penelitian dibatasi yaitu di Stasiun Kereta Api Bogor dan Terminal Baranang Siang. Kategorinya adalah:

1) Stasiun kereta api 4) Angkutan umum

2) Kereta api 5) Lampu merah (traffic light)

3) Terminal bus 6) Lainnya

26. Jenis pekerjaan anak jalanan adalah cara-cara yang dilakukan oleh anak jalanan untuk mendapatkan uang. Dikategorikan:

1) Bidang jasa seperti menyemir sepatu, membersihkan mobil, menyapu kereta, menyemir sepatu, dan sejenisnya.

2) Berdagang seperti pedagang koran atau majalah, pedagang asongan, ojek payung, dan sebagainya.

3) Pengamen

4) Pengemis

5) Pemulung

6) Lainnya

27. Tipe kelompok kerja adalah apakah anak jalanan bekerja berkelompok atau tidak. Kategorinya adalah:

1) Sendiri 2) Berdua 3) Lebih dari dua

III. PENDEKATAN LAPANGAN

3.1 Metode Penelitian

Penelitian ini menggunakan metode penelitian survai dengan bentuk penelitian eksploratif. Penelitian eksploratif adalah penelitian penjajagan yang sering dilakukan sebagai langkah pertama untuk penelitian yang lebih mendalam, baik itu penelitian penjelasan maupun penelitian penelitian deskriptif. Melalui penelitian eksploratif ini masalah penelitian dapat dirumuskan dengan jelas dan lebih terperinci dan hipotesa dapat dikembangkan dalam penelitian selanjutnya (Singarimbun dan effendi, 1989). Hal ini dikarenakan belum banyak penelitian mengenai topik seperti ini sebelumnya.

3.2 Lokasi dan Waktu Penelitian

Penelitian ini dilaksanakan di Terminal Baranangsiang dan Stasiun Kereta Api Bogor, Jawa Barat. Pemilihan tempat ini didasarkan wilayah yang strategis bagi anak jalanan untuk mencari uang karena merupakan salah satu tempat keramaian sehingga di daerah ini akan sangat banyak terdapat anak jalanan. Selain itu, pada daerah ini banyak terdapat variasi jenis pekerjaan yang dilakukan oleh anak jalanan mulai dari pengamen, pengemis, tukang sapu, pemulung, pedagang asongan, penjual koran, dan lainnya. Diharapkan dari perbedaan jenis pekerjaan akan terdapat perbedaan karakteristik anak jalanan. Perbedaan karakteristik nantinya akan menghasilkan makna kerja yang berbeda pula, sehingga sangat mendukung atas kebutuhan data yang dibutuhkan pada penggalian makna kerja pada anak jalanan.

Pengumpulan data dilakukan pada bulan April 2009. Pengolahan data dan hasil penulisan laporan selanjutnya dilakukan pada bulan bulan Mei 2009.

3.3 Teknik Pemilihan Responden

Populasi dari penelitian ini adalah anak jalanan yang berada di Terminal Baranangsiang, Stasiun Kerta Api Bogor, Kota Bogor, Jawa Barat. Jumlah responden yang diambil adalah 40 orang. Responden sejumlah 40 orang diambil dengan menggunakan teknik incidental sampling dengan pertimbangan bahwa pada waktu penelitian anak jalanan yang dijadikan responden adalah anak yang berada di daerah tersebut dan sedang melakukan kegiatan mencari uang di jalanan. Untuk memperoleh informasi yang lebih lengkap akan dipilih reponden untuk dijadikan informan. Informan dipilih dua anak jalanan yang memiliki makna kerja yang berbeda, yaitu yang memiliki makna kerja positif dan negatif.

3.4 Teknik Pengumpulan Data

Proses penyusunan instrumen penelitian mengenai makna kerja bagi anak jalanan melalui beberapa tahap. Untuk mengetahui mengenai karakteristik sosial ekonomi anak jalanan dicari dengan menggunakan kuesioner dengan menggunakan pertanyaan terbuka dan tertutup, untuk mengetahui makna kerja bagi anak jalanan menggunakan metode asosiasi bebas dan skala perbedaan semantik, dan untuk mengetahui perilaku kerja pada anak jalanan menggunakan kuesioner berupa pertanyaan terbuka dan tertutup dan panduan pertanyaan dengan melakukan wawancara mendalam, untuk faktor eksternal jenis kekerasan yang dialami anak jalanan dan kebijakan pemerintah yang mengatur mengenai keberadaan anak jalanan dicari dengan menggunakan panduan pertanyaan dengan melakukan wawancara mendalam.

Lebih lenjut mengenai instrumen untuk melihat representasi sosial tentang kerja pada anak jalanan didahului dengan tahap pra-survei. Dimana pada tahap ini mengumpulkan kata-kata mengenai makna bekerja bagi anak jalanan. Hal ini dilakukan untuk memperoleh item-item yang benar-benar hidup pada lingkungan anak jalanan dengan menggunakan metode asosiasi bebas. Metode ini ditempuh dengan cara memberikan sebuah pertanyaan terbuka mengenai representasi sosial tentang bekerja bagi anak jalanan. Jumlah responden yang dibutuhkan pada langkah asosiasi bebas tergantung variasi respon yang didapat. Jika dianggap penambahan responden tidak memunculkan respon baru (hanya berupa pengulangan-pengulangan dari respon yang telah diperoleh sebelumnya) maka penambahan respon dihentikan. Pada penelitian, langkah asosiasi bebas dihentikan setelah responden ke 55. Dari langkah asosiasi bebas diperoleh 100 pernyataan dan kata yang menggambarkan makna bekerja. Selanjutnya, dari 100 kata dikelompokkan menjadi 9 kelompok representasi sosial tentang kerja yaitu untuk kehidupan, cari kebebasan, cari pengalaman, cari hiburan, cari teman, bantu orangtua, cari uang, untuk makan, dan untuk sekolah. Penjelasan mengenai makna kerja ini telah terdapat pada definisi operasional.

Selanjutnya, representasi sosial tentang kerja tersebut disajikan dalam bentuk kuesioner dan dibantu dengan menggunakan kartu bergambar. Dimana kartu bergambar tersebut merupakan ilustrasi terhadap representasi sosial tentang kerja sehingga responden bisa memahami representasi sosial tentang kerja yang dimaksud. Penggunaan kartu bergambar ini dimaksudkan untuk mengurangi bias karena responden belum bisa baca dan kurang mengerti mengenai representasi sosial tentang kerja. Responden akan memilih 3 kata melalui gambar yang dianggap paling mewakili makna kerja akan diberi kode 3, 3 kata melalui gambar yang dianggap paling tidak mewakili akan diberi kode 1, dan 3 gambar lainnya akan diberi kode 2 dan dianggap netral.

Selanjutnya, untuk mengetahui kondisi kerja anak jalanan digunakan metode skala diferensial semantik atau skala perbedaan semantik. Iskandar (2000) seperti dikutip oleh Riduwan (2006) menyatakan bahwa skala perbedaan semantik berisikan serangkaian karakteristik bipolar (dua kutub) yang memiliki 3 dimensi dasar sikap seseorang terhadap obyek, yaitu: potensi (kekuatan/atraksi fisik suatu obyek), evaluasi (hal yang menguntungkan atau tidak menguntungkan dari suatu obyek), dan aktifitas (tingkatan gerakan suatu objek). Pada skala perbedaan semantik, responden diminta untuk menjawab atau memberikan penilaian terhadap suatu konsep atau objek tertentu yang memiliki rentangan skor 1-5 dengan cara memberi tanda (x) pada angka yang sesuai. Skala ini menunjukkan suatu keadaan yang saling bertentangan. Skala yang akan digunakan seperti menyenangkan-menyedihkan, kemauan sendiri-keterpaksaan, aman-penuh resiko, ringan-melelahkan, mencukupi kebutuhan-tidak mencukupi, dan setara dengan pekerjaan lain-pekerjaan rendah. Seperti digambarkan pada tabel berikut:

Menyenangkan

5

4

3

2

1

Menyedihkan

x

3.5 Teknik Pengolahan dan Analisis Data

Data primer yang diperoleh melalui kuesioner dianalisis dengan tabel frekuensi dan tabulasi silang. Tabel frekuensi digunakan untuk mendapatkan deskripsi tentang jumlah responden berdasarkan karakteristik individu yang dimiliki. Untuk faktor eksternal berupa kekerasan yang diterima anak jalanan, kondisi kerja dan kebijakan pemerintah mengenai anak jalanan akan dianalisis secara kualitatif. Pada perilaku kerja yang dicari dengan menggunakan panduan pertanyaan akan dianalisis secara kualitatif.

Data yang diperoleh mengenai representasi sosial tentang kerja akan diolah dengan dmenggunakan SPSS for Windows 7,5 untuk menghasilkan tipologi anak jalanan berdasarkan kesamaan representasi sosial dan karakteristik individu.

Data kuantitatif lainnya diuji dengan menggunakan uji statistik non-parametrik melalaui uji Chi-Square untuk melihat hubungan yang nyata antar variabel dengan data minimal berbentuk nominal. Sementara itu, untuk data berbentuk ordinal dan interval diolah menggunakan uji korelasi Spearman. Data kualitatif yang diperoleh dari wawancara digunakan untuk mendukung data-data dari pengisian kuesioner yang disajikan, diintegrasikan dengan hasil kuesioner lalu ditarik suatu kesimpulan

Daftar Pustaka

Abric, Jean-Claude. 1976. A structural Approach of the social representations: The theory of the the central core. 9th International Conference on Social Representation. Juli 2008. Bali.

Amanaty, Ati. 1997. Makna Bekerja Bagi Karyawati. Skripsi. Fakultas Psikologi Universitas Indonesia. Depok.

Anonim. 2009. www.radar-bogor.co.id . Diakses 13 Maret 2009.

Anonim. 2009. http://ahmadheryawan.com/lintas-kabupaten-kota/kotabogor. Diakses 13 Maret 2009.

Departemen Sosial. 2006. Modul Pelayanan Sosial Anak Jalanan. Jakarta.

Garliah, Lili. 2004. ”Program Intervensi Dalam Penanganan Masalah Anak Jalanan”. Jurnal. Program Studi Psikologi Fakultas Kedokteran. Universitas Sumatera Utara

Handoyo, Eko dkk. 2004. Profil Anak Jalanan Perempuan di Kota Semarang (Kebutuhan, Motivasi dan Aspirasinya). Fakultas Ilmu Sosial Universitas Negeri Semarang.

MOW International Research Team. 1987. The Meaning of Working. London:Academic Press, Inc.

Riduwan, dan Akdon. 2006. Rumus dan Data dalam Aplikasi Statistika untuk Penelitian (Administrasi Pendidikan-Bisnis-Pemerintah-Sosial-Kebijakan-Ekonomi-Hukum-Manajemen-Kesehatan). Ed. Bukhori Alma. Alfabeta. Bandung.

Singarimbun, Masri dan Sofian Effendi. 1989. Metode Penelitian Survai. Jakarta: LP3ES.

Suhartini, Tina. 2008. Strategi bertahan hidup anak jalanan. Skripsi. Fakultas Pertanian Institut Pertanian Bogor.

Sunarto, Kamanto. 2000. Pengantar Sosiologi. Fakultas Ekonomi Universitas Indonesia.

Sutinah. 2001. ”Anak Jalanan Perempuan: Studi Kualitatif Tentang Strategi Mempertahankan Hidup dan Tindak Kekerasan Seksual yang Dialami Anak Jalanan Perempuan di Kota Surabaya”. Jurnal Penelitian Dinamika Sosial volume 2 nomor 3 Desember. Fakultas Ilmu Sosial dan Politik.Universitas Airlangga

Tauran. 2000. Studi Profil Anak Jalanan Sebagai Upaya Perumusan Model Kebijakan. Jurnal Administrasi Negara volume 1 nomor 1.

Waluyo, Dwi Eko. 2000. Karakteristik Sosial Ekonomi dan Demografi Anak Jalanan di Kota Madya Malang. Laporan Penelitian Universitas Muhammadiyah Malang. Dept. Economic and Development Studies.

Lampiran 1. Kuesioner

KUESIONER

REPRESENTASI SOSIAL TENTANG KERJA PADA ANAK JALANAN

DI STASIUN KERETA API BOGOR DAN TERMINAL BARANANG SIANG

Peneliti bernama Galuh Adriana, merupakan mahasiswi Program Studi Komunikasi dan Pengembangan Masyarakat, Departemen Sosial Ekonomi, Fakultas Pertanian, Institut Pertanian Bogor. Saat ini peneliti sedang menyelesaikan skripsi sebagai salah satu syarat kelulusan studi.

Peneliti berharap adik mengisi kuesioner ini dengan lengkap dan jujur, identitas dan jawaban adik dijamin kerahasiaannya dan semata-mata hanya akan digunakan untuk kepentingan penulisan skripsi ini.

Terima kasih atas kesediaan adik mengisi kuesioner ini.

No. Responden :

Nama :

Usia :

Lokasi Wawancara :

Hari/Tanggal Wawancara :

Karakteristik Individu

1. Jenis Kelamin :

1. Laki-laki 2. Perempuan

2. Tempat tinggal sekarang :

1. Bersama orang tua kandung

2. Bersama orangtua asuh

3. Bersama saudara

4. Bersama teman sekelompok

5. Menggelandang di jalanan

3. Apakah sekarang adik masih bersekolah?

1. Ya 2. Tidak

4. Apa pendidikan terakhir adik?

1. tidak sekolah

2. SD dan sederajat

3. SLTP dan sederajat
4. SLTA dan sederajat

5. Lainnya……………………………………………………………..

5. Pada usia berapa kamu mulai menjadi anak jalanan?………………………..

6. Bagaimana status perkawinan orang tua kamu?

1.Menikah

2.Cerai

3.Pisah rumah

4.Ditinggalkan

5.Tidak tahu

7. Apakah kamu memiliki orangtua yang lengkap?

1. Memiliki bapak dan ibu

2. Yatim

3. Piatu

4. Yatim-Piatu

5. Tidak tahu

8. Siapa yang mengajak kamu untuk bekerja di jalanan?

1. Orangtua

3. Teman

3. Anggota keluarga lainnya (kakak, adik, paman, bibi, dan sejenisnya)

4. Lainnya……………………………………………………………………………………………….

9. Berapakah jumlah saudara kandung yang kamu miliki?

1. 0 – 2 orang

2. 3 – 5 orang

3. Lebih dari 5 orang

Keadaan Sosial Ekonomi Keluarga Anak Jalanan

10. Pendidikan terakhir bapak :

1. Tidak sekolah

2. SD dan sederajat

3. SLTP dan sederajat

4. SLTA dan sederajat

5. Tidak tahu

6. Lainnya…………………………………

11. Apakah jenis pekerjaan yang dilakukan oleh bapak sekarang?(boleh lebih dari satu)

1. Bidang jasa

2. Pedagang

3. Serabutan

4. Pengamen

5. Pengemis

6. Lainnya………………………………………………………………………

7. Tidak bekerja

12. Berapa penghasilan bapak per-bulan? …………………………………………

13. Pendidikan terakhir Ibu:

1. Tidak sekolah

2. SD dan sederajat

3. SLTP dan sederajat

4. SLTA dan sederajat

5. Tidak tahu

6. Lainnya…………………………………………………………………………………………

14. Apakah jenis pekerjaan yang dilakukan oleh ibu?

1. Bidang jasa

2. Pedagang

3. Serabutan

4. Pengemis

5. Pengamen

6. Lainnya………………………………………………………………………..

7. Tidak bekerja

15. Berapa penghasilan ibu per-bulan? ……………………………………………

Perilaku Kerja

16. Jam berapa saja biasanya kamu mulai kerja di jalanan?……………………………….

17. Berapa lama biasanya kamu bekerja? (tidak termasuk main-main dan nongkrong)……………………………………………………………………………………………..

18. Jam berapa biasanya kamu selesai bekerja?……………………………………………….

19. Apa saja jenis pekerjaan yang kamu lakukan sekarang?(jawaban boleh lebih dari satu)

1. Bidang jasa

2. Pedagang

3. Pengamen

4. Pengemis

5. Pemulung

6. Lainnya………………………………………………………………………………..

20. Dimana saja lokasi kamu bekerja?(jawaban boleh lebih dari satu)

1. Di terminal bus

2. Angkot

3. Lampu merah

4. Stasiun kereta api

5. Di dalam Kereta api

6. Lainnya……………………………………………………………………………………………….

21. Apakah adik bekerja sendiri atau berkelompok?

1 Tidak tentu

2. Selalu sendiri

3. Selalu berdua

4. Selalu berkelompok (lebih dari dua orang)

Panduan Pertanyaan Untuk Perilaku Kerja (untuk responden)

1. Apakah kamu bekerja setiap hari? Jam berapa saja biasanya kamu kerja di jalanan? Apakah kamu hanya satu kali bekerja dalam sehari/berkali-kali? Mengapa?

2. Jam berapa kamu selesai bekerja di jalanan setiap hari? Bebas atau diatur? Siapa yang mengatur? Mengapa?

3. Dimana saja lokasi kamu bekerja? Pernahkah kamu pindah lokasi? Kenapa?

4. Apa saja yang dikerjakan di jalanan? Apakah kamu bekerja terus-menerus/diselingi dengan istirahat atau bermain? Kira-kira berapa lama waktu yang dibutuhkan untuk beristirahat/bermain?

5. Apa saja jenis pekerjaan yang kamu lakukan? Manakah yang menjadi pekerjaan utama buat kamu?

6. Apakah kamu bekerja sendiri atau berkelompok? Dengan siapa kamu bekerja? Mengapa?

7. Apakah kamu memiliki pekerjaan lain selain bekerja di jalan? Apakah itu? Mengapa kamu masih bekerja selain di jalanan?

Panduan Pertanyaan Untuk Faktor Eksternal (untuk responden)

8. Apakah kamu pernah mendapatkan kekerasan? Seperti apa? Jenis kekerasan apa yang paling sering kamu terima? Kenapa? Siapa yang melakukan?

9. Saat mendapat tindak kekerasan, kamu melawan atau tidak? kenapa?

10. Adakah peraturan dari pemerintah yang membuat kamu tidak bisa bekerja di jalanan? Seperti apa? Apa akibatnya?

Representasi Sosial Tentang Kerja

Dari 9 kata ini, tolong pilih 3 kata menurut kamu yang paling mewakili makna kerja dan 3 kata yang paling tidak mewakili makna kerja.

(Tidak ada benar atau salah pada jawaban yang diberikan)

No.

Representasi Sosial Tentang Kerja

Kode

1

2

3

1.

Untuk Kehidupan

2.

Cari Kebebasan

3.

Cari hiburan

4.

Cari teman

5.

Cari pengalaman

6.

Untuk Sekolah

7.

Bantu orang tua

8.

Cari uang

9.

Untuk makan

Sikap

Berilah tanda (x) pada angka-angka yang sesuai dengan kondisi kerja kamu sekarang.

No.

Kondisi kerja

Skor

Kondisi Kerja

5

4

3

2

1

1.

Menyenangkan

Menyedihkan

2.

Kemauan sendiri

Keterpaksaan

3.

Aman

Penuh resiko

4.

Ringan

Melelahkan

5.

Mencukupi kebutuhan

Tidak mencukupi

6.

Setara dengan pekerjaan lain

Pekerjaan rendah

Informasi

1. Apakah kamu mengetahui tentang aturang seseorang diizinkan bekerja?

1. Ya 2. Tidak

2. Peraturannya seperti apa?

1. <15 Tahun

2. > 15 Tahun

3. Tidak tahu

3. Apakah kamu mengetahui tentang larangan bekerja di jalanan?

1. Ya 2. Tidak

4. Bagaimana bentuk larangannya?

1. Dilarang mengamen/mengemis/berdagang dan melakukan pekerjaan sejenisnya di jalanan karena dapat mengganggu ketertiban umum

2. Tidak tahu

5. Apakah kamu mengetahui, bahwa biasanya di jalanan ada razia anak jalanan?

1. Ya 2. Tidak

6. Kapan biasanya razia tersebut dilaksanakan?

1. 1 Bulan sekali

2. 1 Minggu sekali

3. Tidak tentu tergantung ‘event’

4.Lainnya…………………………………………………………………………….

5. Tidak tahu

Keyakinan

7 Apakah kerja di jalanan itu berbahaya?

1. Ya 2. Tidak

8 Seperti apakah bahanya kerja di jalanan?

1. Mudah terjadi kecelakaann seperti, tersrempet/tertabrak mobil

2. Dipalak oleh preman/orang yang lebih tua/teman

3. Dipukul, ditendang, ditampar dan sejenisnya oleh orang lain/teman

4. Mendapat peleceha seksual seperti dicolek pantatnya (bagi anak jalanan perempuan)

5. Lainnya………………………………………………………………………..

6. Tidak berbahaya

9 Apakah kerja di jalanan terus-menerus itu baik?

1. Baik 2. Tidak baik

10 Apakah yang akan terjadi jika terus-menerus kerja di jalanan?

1. Mengalami gangguan kesehatan

2. Memiliki masa depan yang kurang baik

3. Badan selalu kotor, kumal dan kumuh

4. Memiliki perilaku yang tidak baik seperti bahasa yang digunakan kurang sopan ‘sompral’, menjadi kasar, memakai narkoba bahkan sampai pergaulan bebas

5. Lainnya…………………………………………………………………………

6. Tidak akan terjadi apa-apa

Opini

11 Menurut kamu, apakah bekerja di jalanan itu baik untuk masa depan kamu?

1. Ya 2. Tidak

12 Apakah kamu akan selamanya kerja di jalanan?

1 Ya 2. Tidak

13 Menurut kamu, apakah bekerja di jalanan itu menyenangkan?

1. Ya 2. Tidak

14 Apakah sebenarnya kamu mau bekerja menjadi anak jalanan?

1. Ya 2. Tidak

15 Apakah yang akan kamu lakukan, jika tidak bekerja di jalanan?

1. Sekolah

2. Membantu pekerjaan orangtua di rumah

3. Lainnya………………………………………………………………………

4. Tidak tahu

Panduan Pertanyaan Untuk Informan

1. Apakah kamu bekerja agar bisa bertahan hidup? Kenapa adik lebih memilih kerja di jalanan?

2. Apakah tujuan kamu bekerja untuk mencari kebebasan? Bagaimana hubungan kamu dengan angota keluarga lainnya seperti kakak/adik? Apakah kalian sering berantem? Mengapa? Apakah di rumah ada orang yang menyakiti kamu? Siapa?

3. Apakah kamu bekerja untuk mencari pengalaman hidup atau menambah wawasan? Dalam hal hal apa? Apakah ada manfaatnya buat kamu?

4. Apakah kamu bekerja untuk mencari teman? Apakah kamu senang banyak teman? Apa gunanya teman buat kamu? Apakah kamu sering berantem atau bercanda dengan teman di jalanan? Lebih sering yang mana? Berantem/bercanda? Mengapa? Apakah kamu merasa dendam atau marah kalau kalah berantem?

5. Apakah pada saat bekerja kamu memperoleh kesenangan/hiburan? Seperti apa?

6. Apakah makna bekerja buat kamu adalah membantu orangtua? Mengapa? Apakah kamu suka memberi uang kepada orangtua? Apakah mereka menerimanya?

7. Apakah kamu senang mencari uang? Apakah makna kerja buat kamu mencari uang? Mengapa kamu mencari uang? Digunakan untuk apa uang yang diperoleh? Apakah ada yang ditabung?

8. Apakah makan bekerja buat kamu mencari makan? Apakah orangtua kamu tidak cukup memberi kamu makan?

9. Apakah kamu sekolah? Apakah tujuan kamu bekerja agar bisa bersekolah? Mengapa kamu ingin sekali bersekolah? Apakah kamu pernah ’diledekin’ oleh teman-teman disekolah karena pekerjaan yang kamu lakukan sekarang?

10.Bagaimanakah kondisi kerja tempat kamu mencari uang sekarang? Apakah menyenangkan atau tidak? Mengapa? Apakah aman atau penuh resiko? Mengapa? Apakah pekerjaan yang saat ini dilakukan ringan atau melelahkan? Mengapa? Apakah mencukupi kebutuhan kamu sehari-hari atau tidak mencukupi? Mengapa? Apakah menurut kamu pekerjaan yang dilakukan saat ini rendah atau memalukan dibandingkan pekerjaan yang lainnya? Mengapa?

11.Apakah dengan kondisi kerja kamu sekarang masih tetap ingin bekerja di jalanan? Kenapa?

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

 
%d blogger menyukai ini: