Kolokium Sains Komunikasi dan Pengembangan Masyarakat, Institut Pertanian Bogor

Implikasi Perluasan Areal Konservasi Terhadap Pengelolaan Hutan dan Luas Lahan

Posted by kolokium kpm ipb pada 11 April 2009

MAKALAH KOLOKIUM

Nama Pemrasaran/NRP : Agustina Nurhaeni/I34051365

Departemen : Sains Komunikasi dan Pengembangan Masyarakat

Pembahas : Whennie Sasfira Adly/I34050420

Dosen Pembimbing/NIP : Martua Sihaloho, SP, MSi/132321421

Judul Rencana Penelitian : Implikasi Perluasan Areal Konservasi Terhadap Pengelolaan Hutan dan Luas Lahan

Tanggal dan Waktu : 14 April 2009/09.00-09.50 WIB

I. PENDAHULUAN

I.1 Latar Belakang

Luas daratan Indonesia adalah sekitar 192 juta hektar dan dari luasan tersebut yang berupa kawasan hutan 147 hektar. Selanjutnya berdasarkan Tata Guna Hutan Kesepakatan (TGHK) dilaporkan bahwa kawasan hutan Indonesia adalah 143 juta hektar yang terdiri atas hutan produksi seluas 64 Juta hektar yang terbagi atas hutan produksi tetap (HP) 33 juta hektar dan hutan produksi terbatas (HPT) 31 juta hektar, hutan lindung 29,5 juta hektar, hutan konservasi 30,5 juta hektar, hutan swaka alam dan wisata 19 juta hektar (Soetarto, 2000).

Penggunaan hutan paling besar adalah untuk hutan produksi dimana hutan dieksploitasi untuk memenuhi kebutuhan hidup manusia. Pengeksploitasian ini diantaranya untuk dijadikan ladang berpindah, persawahan, pemukiman, lahan perindustrian maupun lahan perkebunan. Perebutan lahan hutan yang awalnya merupakan open access itu, kini menjadi persengketaan, dan tidak jarang berujung pada konflik mendalam. Hal ini bukan saja diakibatkan oleh perebutan sumber-sumber daya alam di dalamnya tetapi juga proses klaim dan tata guna lahan yang sampai saat ini masih banyak terjadi penyimpangan.

Kawasan hutan Halimun yang sekarang ditunjuk menjadi Taman Nasional Gunung Halimun Salak merupakan salah satu kawasan sarat konflik. Keberadaan kurang lebih 100.000 jiwa penduduk dalam kawasan baik masyarakat asli (adat kasepuhan) maupun masyarakat lokal dan pendatang menjadi persoalan tersendiri selain keberadaan perusahaan perkebunan dan pertambangan. Kepentingan investasi pertambangan untuk eksploitasi sumberdaya alam Halimun pun tidak kunjung reda sejak jaman Pemerintah Kolonial Belanda, hal yang secara prinsip bertentangan dengan kepentingan konservasi kawasan. Pada sisi lain, hak-hak masyarakat (adat dan lokal) tidak diperhatikan dalam perebutan sumberdaya alam tersebut. Pengakuan masyarakat adat kasepuhan misalnya tidak mendapat perhatian dari Pemerintah Daerah maupun Pemerintah Pusat (Priatna, 2008).

Tahun 1992 muncul kebijakan tentang pengalih fungsian kawasan dari hutan produksi menjadi hutan konservasi, pengelolaannya-pun diserahkan kepada pihak PPA dalam bahasa masyarakat setempat (sekarang taman nasional). Alih fungsi ini bersamaan dengan pemancangan tata batas kawasan secara sepihak, dimana masyarakat tidak mengetahuinya. Wilayah desa Cirompang merupakan wilayah yang masuk ke dalam kawasan konservasi tahun 1992 (Menjadi Taman Nasional Gunung Halimun) dengan luas 40.000 Ha atau pasca perluasan (tahun 2003) menjadi 113.357 Ha disebut dengan Kawasan Taman Nasional Gunung Halimun-Salak. Pada tataran masyarakat dan lapangan hampir tidak terjadi benturan, akan tetapi kecemasan masih tetap ada. Alasannya adalah perbedaan kepentingan antara masyarakat yang menginginkan ada kombinasi produksi dan konservasi disatu pihak, sedangkan dipihak lain taman nasional yang masih cenderung mempertahankan aspek konservasi (Priatna, 2008).

Perbedaan sudut pandang antara pihak-pihak yang berkepentingan tersebut akan berpengaruh ke semua aspek kehidupan masyarakat. Apabila klaim tata guna hutan konservasi tersebut sudah disahkan dan masyarakat tidak bertindak sesegera mungkin, maka mereka akan kehilangan lahan garapan yang merupakan sumber penghidupan sehari-hari. Hilangnya hak kepemilikan lahan tersebut bukan hanya berdampak pada para penggarap saja tetapi juga pada masyarakat secara tidak langsung. Harga kebutuhan pokok akan meningkat, mengingat hampir semua kebutuhan pangan dipenuhi dari hasil alam desa mereka sendiri. Oleh karena itu, perlu adanya pemahaman dan analisis masalah secara partisipatif untuk mendapatkan resolusi yang tepat, sehingga masyarakat dapat mengatasi masalahnya dengan didasari oleh pengetahuan yang mereka miliki digabung dengan adanya pengetahuan perkembangan undang-undang yang ada serta teknologi modern yang telah tersedia.

I.2 Perumusan Masalah

Berdasarkan latar belakang permasalahan di atas, terdapat beberapa pertanyaan yang akan dijawab pada penelitian ini, yaitu:

a. Bagaimana hubungan antara aksesibilitas masyarakat terhadap pengelolaan hutan sebelum dan setelah adanya perluasan areal Taman Nasional Gunung Halimun-Salak di Desa Cirompang?

b. Bagaimana luas lahan, baik milik, pengusahaan, maupun garapan masyarakat Desa Cirompang saat ini dan apabila tata guna lahan hutan konservasi Taman Nasional Gunung Halimun Salak telah disahkan dan kaitannya dengan pendapatan petani?

c. Bagaimanakah dinamika penyelesaian masalah dan konflik yang telah dilakukan oleh masyarakat di Desa Cirompang?

I.3 Tujuan Penelitian

Tujuan penelitian ini adalah sebagai berikut:

a. Mengidentifikasi hubungan antara aksesibilitas masyarakat terhadap pengelolaan hutan sebelum dan setelah adanya perluasan areal Taman Nasional Gunung Halimun-Salak di Desa Cirompang.

b. Mengidentifikasi luas lahan, baik milik, pengusahaan, maupun garapan masyarakat Desa Cirompang saat ini dan apabila tata guna lahan hutan konservasi Taman Nasional Gunung Halimun Salak telah disahkan dan pengaruhnya terhadap pendapatan petani.

c. Mengetahui dinamika penyelesaian masalah dan konflik yang telah dilakukan oleh masyarakat di Desa Cirompang.

I.4 Kegunaan Penelitian

Penelitian ini diharapkan dapat memberikan manfaat bagi pembaca untuk menambah wawasan mengenai masalah-masalah sosial yang terjadi di desa-desa berkonflik seperti Desa Cirompang. Bagi akademisi diharapkan laporan ini dapat memberikan sumbangan bagi khasanah ilmu pengetahuan dan bagi pihak-pihak yang terkait, semoga dapat dimanfaatkan sebagai referensi dalam mengambil keputusan khususnya untuk permasalahan yang terjadi di Desa Cirompang.

II. PENDEKATAN TEORITIS

II.1 Tinjauan Pustaka

II.1.1 Taman Nasional Gunung Halimun-Salak

Surat Keputusan Menteri Kehutanan Nomor 175/Kpts-II/2003 tanggal 10 Juni 2003 menerangkan tentang penunjukan kawasan Taman Nasional Gunung Halimun (TNGH) dan perubahan fungsi kawasan hutan lindung, hutan produksi tetap, dan hutan produksi terbatas pada Kelompok Hutan Gunung Halimun dan Kelompok Hutan Gunung Salak yang dikelola oleh Perum Perhutani, maka (TNGH) yang luasnya 40.000 hektar berubah menjadi Taman Nasional Gunung Halimun-Salak (TNGHS) dengan luas kawasan 113.357 hektar. Pengelolaan TNGHS berada di bawah Balai Taman Nasional Gunung Halimun-Salak (BTNGHS) (Balai Taman Nasional Gunung Halimun-Salak, 2007).

II.1.2 Konflik Sumberdaya

Terdapat empat faktor yang biasanya menjadi pemicu konflik (Fermata, 2006), yaitu: sejarah lokal, dimana masyarakat merasa tanah itu miliknya karena mereka yang lebih dahulu tinggal; intervensi asing berupa campur tangan pihak luar terhadap permasalahan yang ada; kebijakan pemerintah yang tidak memperhatikan hak ulayat dan masyarakat, dan; dinamika internal, dimana tanah yang tersisa dan alternatif strategi bertahan hidup lainnya tidak lagi dapat mencukupi kebutuhan mereka.

Sumber konflik pertanahan yang terjadi antara lain disebabkan oleh (Suhendar, 2002):

a. Pemilikan atau penguasaan tanah yang tidak seimbang dan merata;

b. Ketidakserasian penggunaan tanah pertanian dan non-pertanian;

c. Kurangnya keberpihakan kepada masyarakat golongan ekonomi lemah (red);

d. Kurangnya pengakuan terhadap hak-hak masyarakat hukum adat atas tanah (hak ulayat);

e. Lemahnya posisi tawar masyarakat pemgang hak atas tanah dalam pembebasan tanah.

II.1.3 Aksesibilitas Masyarakat

Aksesibilitas seperti yang diterangkan oleh Adiwibowo (2008) memiliki beberapa tingkatan, secara umum terbagi atas hanya memiliki Akses dan kontrol, di tingkatan selanjutnya, masyarakat memiliki kewenangan menjaga sumberdaya, mengelola smberdaya dan yang teratas adalah dapat memanfaatkan sumberdaya tersebut serta mengolahnya dengan cara mereka.

II.1.4 Lahan Pertanian

Lahan pertanian bisa berupa lahan milik sendiri atau lahan milik orang lain yang digarap petani, yang disebut sebagai lahan garapan. Emakin besar persentase luas lahan milik dari luas lahan pengusahaan, maka usaha tani akan semakin efisien dan relatif besar keuntungannya daripada berusaha tani pada lahan milik orang lain karena berusaha tani pada lahan milik orang lain resikonya akan lebih besar daripada berusaha tani pada lahan milik sendiri. Dengan menggarap lahan milik orang lain, paling tidak si peggarap harus membayar sewa, bagi hasil, dan bentuk lainnya. Selain itu, kontinuitas usaha pada lahan milik orang lain kurang terjamin. Suatu waktu apabila lahan tersebut dijual pemiliknya, atau diganti penggarapnya, maka petani tersebut akan kehilangan lahannya (Ruswandi 2005).

II.1.5 Pendapatan Pertanian

Pendapatan pertanian menggambarkan tingkat produktivitas lahan tersebut yang digunakan untuk usaha tani. Dalam ekonomi lahan, pendapatan usaha tani disebut land rent (keuntungan bersih atas penggunaan lahan). Usaha tani merupakan sumber pendapatan utama bagi keluarga tani (Ruswandi, 2005).

II.1.6 Pengelolaan Hutan Berbasis Masyarakat

Menurut Nur et. al. (2004), Pengelolaan Sumberdaya Alam Berbasis Masyarakat (PSDABM) atau Community Based for Natural Resources Management (CBNRM) merupakan salah satu pendekatan pengelolaan sumberdaya alam yang meletakkan pengetahuan dan kesadaran masyarakat lokal sebagai dasar pengelolaan. Selain itu, masyarakat lokal memiliki akar budaya yang kuat dan biasanya tergabung dalam kepercayaan (religion). Dengan kemampuan transfer antar generasi yang baik, maka PSDABM dalam prakteknya tercakup dalam sebuah sistem tradisional. Penerapannya akan sangat berbeda dengan pendekatan pengelolaan lain di luar daerah.

Prinsip dasar dalam pengelolaan sumberdaya alam berbasis masyarakat menurut Herryadi (2003) sebagaimana dikutip Nur et. al. (2004), yaitu:

a. Aktor utama pengelola adalah rakyat (masyarakat lokal, masyarakat adat)

b. Lembaga pengelola dibentuk, dilaksanakan dan dikontrol langsung oleh rakyat yang bersangkutan

c. Batas antara kawasan unit pengelolaan komunitas setempat terdelineasi secara jelas dan diperoleh melalui persetujuan antar pihak yang terkait di dalamnya

d. Terjaminnya akses dan kontrol penuh oleh masyarakat secara lintas generasi terhadap kawasan pengelolaan

e. Terjaminnya akses pemanfaatan hasil sumberdaya alam sesuai dengan prinsip-prinsip kelestarian (sustainability) oleh komunitas secara lintas generasi di dalam kawasan konsesi

f. Digunakan tata cara atau mekanisme penyelesaian sengketa yang tepat terhadap pertentangan klaim atas wilayah yang sama

g. Adanya pengakuan dan kompensasi formal (legal) terhadap penggunaan pengetahuan tradisional (indigenous knowledge) masyarakat di dalam sistem pengelolaan yang diterapkan

II.1.7 Proses Menyeimbangkan Kekuasaan

i34051365-a

Gambar1. Proses Menyeimbangkan Kekuasaan (Fisher, 2001)

Gambar 1 menerangkan bahwa salah satu langkah dalam menyelesaikan konflik sumberdaya, dalam hal ini sumberdaya hutan perlu adanya komunikasi untuk menyeimbangkan kekuasaan. Adanya kesadaran masing-masing pihak dibutuhkan agar muncul mobilisasi dan pemberdayaan yang sebenarnya sangat riskan terhadap konfrontasi dan konflik dan apabila itu terjadi, maka perlu dimunculkan kembali kesadaran semua pihak. Kesadaran tersebut dapat dimunculkan baik melalui negoisasi, mediasi maupun diskusi formal dan informal lainnya. Siklus ini akan terus berputar sampai terbentuk hubungan yang disetujui oleh stakeholders atas sumberdaya hutan tersebut.

II.2 Kerangka Pemikiran

Adanya perluasan areal konservasi yang batasnya masuk ke Desa Cirompang menyebabkan dampak yang besar bagi masyarakat. Batas yang ditetapkan oleh Taman Nasional Gunung Halimun-Salak memakan sebagian besar hutan milik desa dan lahan masyarakat. imbasnya atas klaim hutan adalah berkurangnya aksesibilitas masyarakat terhadap hutan yang akan berpengaruh pada pengelolaan hutan secara lestari. Sedangkan lahan masyarakat yang terkena klaim kemungkinan juga akan mempengaruhi pendapatan masyarakat di bidang pertanian.

Fenomena ini kemudian menimbulkan konflik sumberdaya dan untuk memperbaiki keadaan perlua adanya proses menyeimbangkan kekuasaan dengan menimbulkan rasa saling percaya diantara para stakeholder sehingga mereka dapat sejajar dalam mengelola hutan. Luasnya areal hutan yang tidak memungkinkan dapat diawasi oleh pemerintah secara keseluruhan, akan dibantu oleh masyarakat menggunakan asas simbiosis mutualisme, dimana masyarakat juga dapat mengelola hutan dengan cara dan hukum yang mereka miliki.

i34051365-b

II.2.1 Hipotesis Pengarah

Bagan alur pemikiran di atas menghasilkan beberapa pola yang akan dikaji dalam penelitian ini, yaitu:

a. Semakin tinggi aksesibilitas masyarakat terhadap hutan, semakin baik pula tingkat pengelolaan hutan.

b. Diduga terjadi penurunan kepemilikan lahan setelah adanya klaim lahan dari Taman Nasional dan akan mempengaruhi pendapatan petani.

c. Bentuk penyelesaian konflik menuju ke arah pengelolaan sumberdaya alam berbasis masyarakat dengan berdasar pada prinsip-prinsip dasar dalam pengelolaan sumberdaya alam berbasis masyarakat.

II.2.2 Definisi Operasional

a. Pengelolaan hutan

Kegiatan memelihara, menjaga dan memanfaatkan hasil hutan untuk memenuhi kebutuhan hidup, dengan indicator kelestarian sebagai berikut

Pengelolaan hutan menjaga atau meningkatkan akses antar generasi terhadap sumberdaya dan berbagai manfaat ekonomi secara adil

Stakeholder yang relevan memiliki hak dan kemampuan yang diakui untuk mengelola hutan secara bersama dan adil

Kesehatan hutan, para pengelola hutan, dan budayanya dapat diterima oleh para stakeholder

b. Stakeholder

Pihak-pihak yang berkepentingan atas sumberdaya yang tersedia. Secara garis besar, stakeholder meliputi masyarakat, pemerintah, dan swasta

c. Taman Nasional

Areal konservasi bagi daerah hutan yang ditetapkan oleh pemerintah dengan peraturan perundang-undangan

d. Lahan dan areal

Sebidang tanah yang digunakan dan/atau oleh suatu pihak untuk tujuan tertentu. Pada penelitian kali ini, lahan yang dimiliki masyarakat dibedakan atas:

Luas lahan milik yaitu lahan yang dimilki sendiri oleh masyarakat

Luas lahan pengusahaan yaitu lahan yang digunakan untuk kegiatan, baik bertani, beternak, memelihara ikan, dan sebagainya.

Luas lahan garapan yaitu luas lahan yang digunakan untuk kegiatan pertanian

e. Konflik sumberdaya

Adanya benturan kepentingan antara pihak-pihak pengelola hutan

f. Pemahaman dan analisis konflik

Cara seseorang atau sekelompok masyarakat untuk mencoba melihat dan mencari pemecahan atas adanya sebuah perbedaan kepentingan

g. Aksesibilitas masyarakat lokal terhadap hutan dapat diketahui dengan melakukan perbandingan pada setiap masa kekuasaan. Variabel yang dibandingkan adalah sebagai berikut:

Mengatur akses terhadap hutan

Menjaga dan memelihara hutan

Mengelola hasil hutan

Memungut/memanfaatkan hasil hutan

h. Pendapatan petani

Materi yang didapatkan oleh petani baik itu pemilik, penggarap, maupun pemilik penggarap.

III. PENDEKATAN LAPANGAN

III.1 Metode Penelitian

Penelitian ini menggunakan Pendekatan kuantitatif. Peneliti menggunakan metode kuantitatif sebagai metode utama untuk menganalisis tingkat kesejahteraan masyarakat Desa Cirompang dengan menggunakan metode penelitian survey dengan menggunakan pertanyaan terstruktur/sistematis yang sama kepada banyak orang untuk kemudian seluruh jawaban yang diperoleh peneliti dicatat, diolah, dan dianalisis. yang ditunjang dengan metode kualitatif untuk dapat melihat bagaimana masyarakat menyelesaikan konflik yang ada.

Penelitian ini bersifat deskriptif, dimana penelitian dilakukan untuk memberikan gambaran yang lebih detail mengenai suatu gejala atau fenomena. Hasil akhir dari penelitian ini berupa tipologi atau pola-pola mengenai fenomena yang sedang dibahas. Tujuan dari penelitian deskriptif adalah menggambarkan mekanisme sebuah proses dan menciptakan seperangkat kategori (Prasetyo, 2006).

III.2 Lokasi dan Waktu

Penelitian ini dilaksanakan di Desa Cirompang, Kecamatan Sobang, Kabupaten Lebak, Jawa Barat dan akan berlangsung dari tanggal 20 April-10 Mei 2009. Pemilihan lokasi penelitian dilakukan secara purposive (sengaja) dengan didasarkan pada pencarian wilayah dimana hampir seluruh kebutuhan akan bahan pangan dipenuhi sendiri dari dalam desa. Selain itu, lokasi penelitian mengalami konflik laten yang belum berkepanjangan sehingga masih lebih mudah diangkat ke permukaan untuk diselesaikan tanpa menggunakan kekerasan dan melalui peradilan. Data ini akan mendukung data yang sudah ditemukan oleh peneliti sebelumnya untuk mendapatkan izin atas lahan garapan yang saat ini sudah diklaim sebagai bagian dari kawasan TNGHS namun belum disahkan sehingga masih memungkinkan bagi masyarakat untuk memperjuangkan hak mereka atas lahan tersebut.

III.3 Teknik Pengumpulan Data

Data yang akan dikumpulkan berupa data primer dan sekunder. Data primer diambil dari kuesioner yang telah diisi oleh para responden dan wawancara mendalam dengan beberapa informan. Data sekunder diperoleh dari analisis dokumen dan literatur-literatur lain yang relevan sebagai tambahan juga bahan pembanding untuk data yang sudah yang sudah ditemukan di lapangan. Untuk menjawab pertanyaan perumusan masalah tentang keadaan hutan saat ini dan tingkat kesejahteraan masyarakat, akan digunakan kuesioner yang akan diisi oleh responden. Dalam memilih responden digunakan salah satu teknik penarikan sampel probabilita, yaitu cluster random sampling, dimana peneliti mengambil sampel petani yang merupakan suatu kelompok pekerjaan dalam masyarakat. Penelitian kali ini akan menggunakan sampel petani, baik pemilik maupun penggarap (buruh tani) baik di lahan sawah maupun kebun karena responden dalam penelitian ini dianggap orang yang memang memahami dan merasakan dampak langsung dari perluasan areal konservasi Taman Nasional Gunung Halimun-Salak. Untuk pengambilan sampel penelitian, digunakan rumus Slovin,yaitu:

i34051365-c

Bentuk penyelesaian konflik yang ada di Desa Cirompang dianalisis menggunakan data kualitatif yang akan diambil dari para informan dengan metode wawancara mendalam. Untuk mendapatkan informan yang berkompeten, akan digunakan teknik penarikan sampel bola salju (snowball sampling) dengan mengetahui satu nama informan, kemudian dari informan inilah peneliti akan memperoleh nama-nama lainnya dan begitu seterusnya. Selain menggunakan teknik wawancara mendalam, peneliti juga melakukan pengamatan berperan serta dimana peneliti ikut juga melakukan kegiatan-kegiatan yang dilakukan baik responden maupun informan dalam usaha memperoleh pengakuan atas lahan mereka.

III.4 Teknik Analisis Data

Data pengelolaan hutan saat ini dianalisis dengan menggunakan Skala Likert yang terdiri dari lima point yang bergerak dari ekstrim negatif sampai dengan ekstrim positif. Untuk penilaian skala, ditentukan ekstrim negatif diberi nilai +1 dan ekstrim positif diberi nilai +5. Sedangkan pada aksesibilitas akan digunakan skala ordinal mulai dari memungut/memanfaatkan hasil hutan dengan nilai +1 sampai mengatur akses terhadap hutan dengan nilai +4. Setelah data pengelolaan hutan dijumlahkan, dilakukan uji dengan menggunakan koefisien korelasi tata jenjang Spearman. Statistik ini digunakan untuk mengukur asosiasi antara dua variabel yang keduanya setidak-tidaknya mempunyai ukuran skala ordinal yang memungkinkan agar individu obyek yang diteliti itu dapat diberi jenjang. Uji ini akan dilakukan dua kali untuk mendapatkan pola kesesuaian antara keadaan sebelum dan sesudah perluasan Taman Nasional Gunung Halimun-Salak.

Pengolahan data luas lahan dan pendapatan petani akan dilakukan dengan uji Chi Square untuk melihat hubungan nyata antar keduanya. Sebelum dilakukan pengujian hubungan, terlebih dahulu data-data berbentuk nominal tersebut dikelompokkan ke dalam kategori-kategori yang telah ditentukan untuk memudahkan pengolahan.

Data kualitatif diolah sejak awal pengumpulan data. Analisis data kualitatif, baik primer maupun sekunder diolah dengan melakukan tiga tahapan kegiatan dan dilakukan secara bersamaan, yaitu reduksi data, penyajian data, dan penarikan kesimpulan melalui verifikasi (Sitorus, 1998). Reduksi data dilakukan dengan tujuan untuk menajamkan, menggolongkan, mengarahkan, mengeliminasi data-data yang tidak diperlukan juga diorganisir sehingga dapat langsung menjawab perumusan masalah yang ada. Kemudian data akan disajikan dalam bentuk teks naratif maupun matriks yang menggambarkan dinamika konflik serta bentuk penyelesaiannya. Tahap terakhir yaitu menarik kesimpulan bersama dengan informan sebelum peneliti menarik kesimpulan sesuai dengan rumusan masalah dan tujuan penelitian.

DAFTAR PUSTAKA

Adiwibowo, Soeryo. 2008. Kasus Pengelokaan Kolaboratif Hutan: SGP PTF. Slide Kuliah. Bogor: Institut Pertanian Bogor

Fermata, Wydia. 2006. Reklaiming Lahan Sebagai Bentuk Resistensi Masyarakat Desa Hutan (Kasus Perlawanan Masyarakat Desa Margaharja, Kecamatan Sukadana, Kabupaten Ciamis, Propinsi Jawa Barat terhadap Perum Perhutani). Skripsi. Bogor: Institut Pertanian Bogor.

Nur, Nustam, et. al. 2004. Pengelolaan Sumberdaya Alam Berbasis Masyarakat. Samarinda: PT. Hatfindo Prima.

Prasetyo, Bambang, Lina M. J. 2006. Metode Penelitian Kuantitatif. Jakarta: PT. Raja Grafindo Persada.

Priyatna, Bagus. 2008. Rapid Land Tenure Assesment. Bogor: RMI

Ruswandi, Agus. 2005. Dampak Konversi Lahan Pertanian Terhadap Perubahan Kesejahteraan Petani dan Perkembangan Wilayah. Thesis. Bogor: Institut Pertanian Bogor.

Salak, Balai Taman Nasional Gunung Halimun. 2007. Rencana Pengelolaan Lima Tahunan (Jangka Menengah). Sukabumi: Balai Taman Nasional Gunung Halimun-Salak.

Sitorus, M.T. Felix. 1998. Penelitian Kualitatif: Suatu Perkenalan. Bogor: Kelompok Dokumentasi Ilmu-Ilmu Sosial.

Sudaryanto. 1986. Studi Tentang Tingkat Kesejahteraan Blandong Pada Perusahaan Hutan Jati Perum Perhutani. Laporan Penelitian. Bogor: Institut Pertanian Bogor.

Suhendar, Endang, et. al. 2002. Menuju Keadilan Agraria: 70 Tahun Gunawan Wiradi. Bandung: Yayasan AKATIGA.

Soetarto, Endriatmo, et. al. 2000. Penguasaan Lahan dan Pola Usaha serta Pemberdayaan BPN dan Pemda Dalam Rangka Partisipasi Rakyat di Sektor Perkebunan. Prosiding Lokakarya. Bogor: Pustaka Wirausahawan Muda.

LAMPIRAN I

PANDUAN PERTANYAAN

1. Menurut anda, siapa saja yang saat ini berkepentingan atas hutan di Desa Cirompang?

2. Apa saja kegiatan yang mereka lakukan?

3. Apakah pernah terjadi masalah antar pihak-pihak yang berkepentingan tersebut?

4. Apa yang menjadi penyebab keributan atau keresahan tersebut?

5. Bagaimana cara para pihak menyelesaikan masalah tersebut?

6. Bagaimana cara masyarakat untuk menjaga hutan yang ada di Desa Cirompang?

7. Apakah hal tersebut masih dilakukan pasca klaim dari Taman Nasional Gunung Halimun-Salak?

8. Bagaimana masyarakat menyikapi adanya klaim lahan dari Taman Nasional Gunung Halimun-Salak?

9. Bagaimana posisi masyarakat dalam menghadapi pihak-pihak tersebut?

10. Apa tindakan masyarakat atas klaim yang lahan tersebut?

11. Adakah negoisasi atau mediasi yang terjadi?

12. Adakah kekerasan yang terjadi akibat klaim tersebut sebagai usaha penyelesaian konflik?

13. Apakah tuntutan dari masyarakat kepada pihak Balai Taman Nasional Gunung Halimun-Salak?

14. Bagaimana pihak Balai menanggapi tuntutan tersebut?

15. Bagaimana tahapan-tahapan yang dilakukan masyarakat untuk mengatasi keresahan akibat klaim tersebut?

16. Sudah sampai manakah langkah yang dilakukan masyarakat?

17. Apa peran kepala desa dalam penyelesaian konflik tersebut?

18. Apa pula peran ketua adat/Olot dalam penyelesaian konflik tersebut?

19. Apa harapan masyarakat ke depannya?

20. Bagaimana cara mewujudkan harapan tersebut?

LAMPIRAN II

KUESIONER

IMPLIKASI PERLUASAN AREAL KONSERVASI TERHADAP TINGKAT KESEJAHTERAAN MASYARAKAT

Peneliti bernama Agustina Nurhaeni, merupakan mahasiswi Departemen Sains Komunikasi dan Pengembangan Masyarakat, Fakultas Ekologi Manusia, Institut Pertanian Bogor. Saat ini sedang menyelesaikan skripsi sebagai salah satu syarat kelulusan studi.

Peneliti berharap Bapak/Ibu mengisi kuesioner ini dengan lengkap dan jujur, identitas dan jawaban Bapak/Ibu dijamin kerahasiaannya dan semata-mata hanya akan digunakan untuk kepentingan penulisan skripsi ini.

Terimakasih atas kesediaan Bapak/Ibu mengisi kuesioner ini.

No. Responden

Lokasi Wawancara

Hari/Tanggal Wawancara

I. KARAKTERISTIK INDIVIDU

Nama

Umur

………..tahun

Jenis kelamin

1) Laki-laki

2) Perempuan

Alamat

……………………………………

Kampung: ……………………………..

Pendidikan terakhir

1) Tidak bersekolah

2) SD

3) SLTP

4) SLTA

5) D1-D2-D3

6) S1

7) S2 ke atas

Lama tinggal di lokasi

1) Kurang dari satu tahun

2) Antara 1-4,99 tahun

3) Antara 5-10 tahun

4) Lebih dari 10 tahun

Status kependudukan

1) Asli

2) Pendatang, dari…………

Status perkawinan

1) Belum kawin

2) Kawin

3) Cerai hidup

4) Cerai mati

Jumlah tanggungan

Laki-laki : …………..orang

Perempuan : …………orang

Apakah anda memiliki pekerjaan?

1) Ya

2) Tidak

Pekerjaan utama

1) Petani/Buruh Tani

2) Pegawai Negeri Sipil (PNS)

3) Pegawai swasta

4) Wiraswasta/usahawan

5) Pelajar

6) Lainnya:………………..

II. PENGELOLAAN HUTAN SAAT INI

Keterangan: beri tanda (x) pada salah satu kotak dari setiap baris.

(1) = Setuju, (3)=Ragu-ragu, (2) = Tidak setuju

Pernyataan

Sebelum Perluasan

Setelah Perluasan

1

2

3

1

2

3

Pengelolaan hutan menjaga atau meningkatkan akses antar generasi terhadap sumberdaya dan berbagai manfaat ekonomi secara adil

Kepemilikan dan hak pemanfaatan sumberdaya jelas

Berbagai aturan dan norma dalam penggunaan sumberdaya dipantau dan ditegakkan pelaksanaannya

Cara-cara untuk mengatasi konflik berjalan baik

Akses terhadap sumberdaya dianggap adil oleh masyarakat lokal

Masyarakat lokal merasakan keamanan aksesnya terhadap sumberdaya

Mekanisme distribusi manfaat dianggap adil oleh masyarakat lokal

Adanya kesempatan bagi masyarakat lokal dan masyarakat yang menggantungkan hidupnya pada hutan untuk memperoleh pekerjaan dari perusahaan-perusahaan kehutanan

Ganti rugi terhadap kerusakan diberikan secara adil

Berbagai hasil hutan digunakan secara optimal dan adil

Masyarakat menanamkan modal di lingkungannya (misalnya waktu, tenaga, uang)

Tingkat migrasi keluar rendah

Masyarakat menyadari pentingnya keseimbangan antara jumlah penduduk dengan pemanfaatan sumberdaya alam

Anak-anak mendapatkan pendidikan (formal dan informal) tentang pengelolaan sumberdaya alam

Perusakan sumberdaya alam oleh masyarakat lokal jarang terjadi

Masyarakat memelihara hubungan batin dengan lahan hutan

Stakeholder yang relevan memiliki hak dan kemampuan yang diakui untuk mengelola hutan secara bersama dan adil

> 50% dari pegawaiDepartemen Kehutanan dan Perkebunan dan karyawan HPH dapat berbicara dalam satu atau beberapa bahasa lokal, atau > 50% wanita lokal dapat menggunakan bahasa yang digunakan oleh HPH dalam berinteraksi

Pihak yang berkepentingan bertemu dengan frekuensi yang cukup

Kontribusi masing-masing pihak saling dihormati dan dihargai secara wajar

Adanya rencana/peta-peta yang menunjukkan pengintegrasian berbagai penggunaan hutan oleh berbagai pihak yang berbeda

Rencana yang diperbarui, studi-studi dasar dan peta dapat diperoleh dengan mudah, yang menunjukkan rincian kawasan seperti penebangan hutan dan pembangunan jalan, disertai kerangka waktu

Stusi-studi dasar tentang sistem masyarakat lokal juga tersedia dan diacu

Pegawai pengelola hutan mengakui adanya berbagai kepentingan dan hak pihak lainnya

Pengelolaan hutan mencerminkan kepentingan dan hak-hak masyarakat

Tingkat konflik yang ada dapat diterima oleh semua pihak

Kesehatan hutan, para pengelola hutan, dan budayanya dapat diterima oleh para stakeholder

Berbagai kondisi lingkungan yang dipengaruhi oleh kegiatan manusia tetap dalam keadaan stabil atau membaik

Migrasi masuk dan/atau pertambahan penduduk secara alami selaras dengan pemeliharaan hutan

Pihak pengelola hutan bekerjasama dengan petugas kesehatan masyarakat dalam mengatasi berbagai penyakit yang berkaitan dengan pengelolaan hutan

Status gizi masyarakat lokal cukup baik

Para pegawai yang bekerja di bidang kehutanan memperhatikan persyaratan dan keamanan kerja

Para pengelola hutan dapat menjelaskan keterkaitan antara budaya masyarakat dengan hutan lokal

Rencana-rencana pengelolaan hutan mencerminkan perhatian terhadap isu-isu yang terkait dengan kebudayaan

Tidak ada tanda-tanda tentang adanya perpecahan budaya

III. AKSESIBILITAS MASYARAKAT

Tingkatan

Periode

Sebelum Perluasan

Setelah Perluasan

Mengatur akses terhadap hutan

Menjaga dan memelihara hutan

Mengelola hasil hutan

Memungut/memanfaatkan hasil hutan

IV. KEPEMILIKAN DAN LUAS LAHAN

Apakah anda memiliki lahan pengusahaan?

1) Ya

2) Tidak

Apakah status lahan yang anda miliki?

1) Milik sendiri

2) Gadai

3) Sewa

4) Lainnya……………….

Berupa apa lahan pengusahaan tersebut?

1) Sawah/Ladang

2) Huma

3) Kolam Ikan

4) Lainnya…………………

Apakah anda mengelola sendiri lahan tersebut?

1) Ya

2) Tidak

Apakah dari lahan tersebut ada yang terkena klaim TNGHS?

1) Ya

2) Tidak

Luas lahan milik

…………………….hektar

Luas lahan milik yang terkena klaim

…………………….hektar

Persentase lahan milik yang terkena klaim

…………………….%

Luas lahan pengusahaan

…………………….hektar

Luas lahan pengusahaan yang terkena klaim

…………………….hektar

Persentase luas lahan pengusahaan yang terkena klaim

…………………….%

Persentase luas lahan pengusahaan dari luas lahan milik

…………………….%

Luas lahan garapan

…………………….hektar

Luas lahan garapan yang terkena klaim

…………………….hektar

Persentase luas lahan garapan yang terkena klaim

…………………….%

V. PENDAPATAN PETANI

Pendapatan dari hasil pertanian

Rp………………………/th

Pendapatan dari hasil pertanian apabila terjadi klaim

Rp………………………/th

Persentase perubahan pendapatan

……………………..%

Pendapatan dari hasil non-pertanian

Rp………………………/th

Persentase pendapatan non-pertanian dari keseluruhan pendapatan

……………………..%

Akses pekerjaan ke non-pertanian

Ada / Tidak

Jenis komoditi yang diusahakan

1.

2.

3.

Status petani

pemilik penggarap / penggarap / pemilik




LAMPIRAN III

RENCANA KEGIATAN PENELITIAN

Kegiatan

Maret 2009

April 2009

Mei 2009

Juni 2009

I

II

III

IV

I

II

III

IV

I

II

III

IV

I

II

III

IV

I. Proposal dan Kolokium

Penyusunan draft dan revisi

Konsultasi proposal

Kolokium dan perbaikan

II. Penelitian Lapang

Pengumpulan data

Pengolahan dan analisis data

III. Penulisan Laporan

Penyusunan draft dan revisi

Konsultasi laporan

IV. Ujian Skripsi

Ujian

Perbaikan laporan




Satu Tanggapan to “Implikasi Perluasan Areal Konservasi Terhadap Pengelolaan Hutan dan Luas Lahan”

  1. kolokium kpm ipb said

    Form – K3: LEMBAR PEMBAHASAN
    Nama Pembahas : Whennie Sasfira Adly
    NRP : I34050420
    Nama Pemrasaran : Agustina Nurhaeni
    NRP : I34051365
    Judul Rencana Penelitian : Implikasi Perluasan Areal Konservasi Terhadap Pengelolaan Hutan dan Luas Lahan
    Pembahasan:
    Saran dan Pertanyaan dari Pembahas
    1. Hindari salah ketik!
    2. Strukturisasi penulisan masih banyak yang berantakan, teknik penulisan EYD tolong lebih diperhatikan!
    3. Pada halaman 3, aksesbilitas masyarakat sebaiknya diberi point, agar lebih jelas!
    4. Lengkapi definisi operasional!
    5. Sebaiknya ditambah dengan point teknik pemilihan responden!
    6. Ukuran kesejahteraan yang anda gunakan apa? Apakah dengan hanya mengetahui pendapatan masyarakat dapat diketahui tingkat kesejahteraannya?
    7. Coba jelaskan teknik analisis data anda! Menurut saya apa yang anda paparkan di teknik analisis tersebut tidak sesuai dengan kuesioner, seperti skala Likert contohnya, point skala Likert yang anda paparkan ada 5, tetapi pada kuesioner hanya 3, jadi bagaimana analisisnya?
    8. Terkait dengan waktu penelitian yang hanya satu bulan, apakah cukup untuk menganalisis konflik? Sedangkan pada teknik pengumpulan data anda kemukakan akan menggunakan pengamatan berperan serta, seperti apakah itu? Apakah anda ikut dalam penyelesaian konflik? Cukupkah waktunya?

    Jawaban dari Pemrasaran
    1. Untuk saran no 1 akan diperiksa dan diperbaiki, hal tersebut tidak luput dari kesalahan penulis sebagai manusia.
    2. Untuk saran no 1 akan diperiksa dan diperbaiki, hal tersebut tidak luput dari kesalahan penulis sebagai manusia.
    3. Pada tabel aksesbilitas di kuesioner sudah diberi tingkatan, pada tinjauan pustaka, gambar didapatkan dari literatur. Pada kuesioner tidak ada proses menyeimbangkan kekuasaan karena akan dianalisis menggunakan metode kualitatif.
    4. Saran no 4 diterima menjadi masukan dan akan coba diperbaiki.
    5. Teknik pemilihan responden dimasukkan dalam teknik pengumpulan data dan sudah dipisahkan antara cara pemilihan responden dan informan.
    6. Awalnya memang ingin meneliti kesejahteraan masyarakat, karena hamper seluruh kebutuhan pangan dipenuhi dari dalam desa, maka adanya perluasan areal konservasi yang memakan lahan hutan dan lahan milik masyarakat akan sangat berpengaruh pada kesejahteraan, namun pada penelitian kali ini lebih difokuskan pada pengelolaan hutan dan luas lahan.
    7. Kesalahan dari pemrasaran, seharusnya +1 sampai +3, analisis dilakukan dengan menjumlahkan nilai pada pengelolaan hutan kemudian dibandingkan dengan aksesbilitas dan akan diuji dengan uji korelasi Spearman yang dilakukan dua kali untuk menghasilkan kesesuaian pola.
    8. Di Cirompang saat ini sudah pada tahap penyelesaian konflik, saat ini sedang ada pemetaan partisipatif dimana pada saat peneliti melakukan pre survey, peneliti ikut terjun dalam pelatihan tersebut. Data-data mengenai konflik sudah banyak didapat dari LSM terkait.

    Pertanyaan dan Saran dari Peserta Kolokium
    1. D.S. Handri Suwanda
    Definisi operasional anda kurang dapat dimengerti/kurang jelas. Dimana ada definisi operasional yang tidak ada di kerangka pemikiran, seperti “stakeholders”! begitu juga sebaliknya, yang ada pada kerangka pemikiran tidak disebutkan dalam definisi operasional sehingga terkesan seperti penelitian kualitatif.
    2. Fairuza
    Pada perumusan masalah anda menyebutkan mengenai dinamika konflik dan penyelesaiannya. Tetapi kenapa tidak ada penelaahan konflik terlebih dahulu? Sebaiknya anda lihat terlebih dahulu apa konflik yang terjadi di desa tersebut, bagaimana bentuk dan jalannya konflik, dan lain-lain!
    3. M. Reza Maulana
    Tidak berbeda jauh dengan pertanyaan Fairuza, sebaiknya ditelaah lebih dahulu dan lebih dalam mengenai konflik di desa tersebut karena belum tentu literatur konflik yang and abaca sesuai yang terjadi di lapangan!
    4. Alwin Taher
    Menganalisis mengenai pengelolaan hutan dan aksesibilitas, dimana anda akan melihat keadaan sebelum dan sesudah perluasan. Maka saya sarankan anda lebih baik menggunakan uji T berpasangan sehingga dapat dilihat perbedaannya dan tidak perlu dilakukan dua kali uji.
    5. Abdul Djamiun Nurzain
    Judul lebih diperhatikan/diganti jika dimungkinkan karena tidak sesuai dengan isinya. Pada judul tidak disinggung konflik, tetapi di isi makalah menyinggung mengenai konflik.

    Jawaban dari Pemrasaran
    1. Definisi operasional yang ada dalm makalah tidak dicantumkan semua karena pengukuran sudah dilakukan secara menyeluruh dengan pengukuran 1 sampai 3 sedangkan pernyataan-pernyataan yang ada sudah cukup jelas tanpa harus didefinisikan kembali.
    2. Konflik yang terjadi sudah dianalisis oleh peneliti terdahulu, sedangkan pada saat ini di Cirompang sedang dilakukan proses penyelesaian konflik sehingga diharapkan penelitian ini dapat menjadi penelitian lanjutan dan bermuara pada resolusi konflik tersebut. Sangat tidak efisien meneliti dua kali, maka konflik yang terjadi hanya diteliti dengan penelusuran dan analisis dokumen.
    3. Saran dari Reza da Fairuza akan coba diperdalam menggunakan metode kualitatif.
    4. Saran dari Alwin akan coba dipelajari apakah sesuai dan dapat diaplikasikan pada penelitian kali ini.
    5. Penelitian utamanya adalah mengenai pengelolaan hutan dan luas lahan dengan menggunakan metode kuantitatif sedangkan konflik dan bentuk penyelesaiannya akan digunakan sebagai data penunjang yang bermuara pada resolusi konflik.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

 
%d blogger menyukai ini: