Kolokium Sains Komunikasi dan Pengembangan Masyarakat, Institut Pertanian Bogor

Tulisan terkirim dikaitan (tagged) ‘Kerja’

Hubungan Antara Motivasi Kerja dengan Prestasi Kerja Karyawan di Jurnal Bogor

Posted by kolokium kpm ipb pada 3 April 2009

MAKALAH KOLOKIUM

Nama Pemrasaran/NRP : Edu Dermantio IN/ I34050795

Departermen : Sains Komunikasi dan Pengembangan Masyarakat

Pembahas : Nur Ahmad Azizul Furqon/I34051448

Dosen Pebimbing/NIP : Dr. Ir. Pudji Muljono M.Si/131 841 726

Judul Rencana Penelitian : Hubungan Antara Motivasi Kerja dengan Prestasi Kerja Karyawan di Jurnal Bogor

Tanggal dan Waktu : Selasa 7 April 2009

I. PENDAHULUAN

1.1 Latar belakang

Pembangunan nasional yang dilakukan oleh bangsa Indonesia adalah pembangunan manusia seutuhnya yang bertujuan untuk mewujudkan suatu masyarakat yang adil dan makmur berdasarkan Pancasila dan Undang-Undang Dasar 1945. Sumberdaya manusia yang mampu, cakap, dan terampil serta memiliki keinginan untuk bekerja dengan giat dalam usaha mencapai hasil kerja yang optimal merupakan modal penting perusahaan di dalam suatu perusahaan.

Mengacu pada kondisi di atas, penting bagi pihak perusahaan untuk dapat mengelola sumberdaya manusianya melalui manajemen yang baik dengan memberikan kesempatan karyawan untuk maju sehingga karyawan akan mendapatkan kepuasan tersendiri dalam bekerja. Hal ini dapat dijadikan acuan dalam mengaktifkan motivasi kerja karyawan agar dapat bekerja dengan giat untuk meningkatkan prestasi kerja karyawan dalam rangka mencapai tujuan perusahaan serta menjaga eksistensi perusahaan.

Kemajuan perusahaan juga tidak terlepas dari manajemen perusahaan dalam menggunakan sumberdaya berupa material maupun finansial sebagai sarana pencapaian tujuan yaitu mensejahterakan anggotanya.

Jurnal Bogor merupakan perusahaan yang bergerak di bidang media cetak yaitu koran harian. Perusahaan ini memberikan beragam informasi kepada khalayak luas khususnya di wilayah Bogor. Dalam menjalankan aktivitas perusahaan, para karyawan menjalankan tugas dan kewajibannya secara tepat sesuai dengan ketentuan yang berlaku sehingga Jurnal Bogor dapat memenuhi kebutuhan pelanggan atau pembaca.

Masalah yang kemudian timbul ialah motivasi kerja menyebabkan pelaksanaan kerja dan pencapaian prestasi yang lebih baik atau sebaliknya. Sehubungan dengan hal itu maka penulis tertarik untuk mengadakan penelitian lebih jauh terhadap hubungan antara motivasi kerja dengan prestasi kerja karyawan Jurnal Bogor.

1.2 Perumusan Masalah

Perusahaan tidak saja mengharapkan sumberdaya manusia yang dimiliki itu terampil, tetapi juga dapat bekerja dengan giat dan dapat mencapai hasil yang telah ditentukan oleh perusahaan. Kemampuan dan kecakapan serta keterampilan tidak berarti jika sumberdaya manusia tersebut tidak mempunyai semangat kerja yang tinggi.

Suatu perusahaan perlu memperhatikan aspek manajemen sumberdaya manusia terutama aspek motivasi kerja. Manajer perusahaan harus menyadari pemberian motivasi merupakan faktor yang menentukan dalam usaha peningkatan kinerja dan produktivitas karyawan pada perusahaan, sehingga manajer merasa perlu memberikan dorongan motivasi yang tepat, guna memperbaiki manajemen mutu perusahaan dan segera mencari tahu tentang berbagai kebutuhan dan harapan yang dapat meningkatkan kepuasan kerja, serta dapat memotivasi mereka untuk bekerja maksimal mencapai tujuan perusahaan

Berdasarkan hal tersebut di atas, maka masalah yang dapat dirumuskan berkaitan dengan motivasi kerja karyawan dan prestasi kerja karyawan adalah sebagai berikut:

  1. Bagaimana tingkat motivasi kerja karyawan Jurnal Bogor selama ini?
  2. Bagaimana pencapaian prestasi kerja karyawan Jurnal Bogor selama ini?
  3. Bagaimana hubungan antara motivasi kerja karyawan dengan prestasi kerja karyawan tersebut?

1.3 Tujuan Penelitian

Tujuan penelitian ini adalah untuk:

1. Mengkaji tingkat motivasi kerja karyawan Jurnal Bogor selama ini.

2. Mengkaji prestasi kerja yang dicapai karyawan Jurnal Bogor selama ini.

3. Mengkaji hubungan antara motivasi kerja dengan prestasi kerja karyawan Jurnal Bogor.

1.4 Kegunaan Penelitian

Hasil penelitian ini diharapkan dapat berguna untuk memberikan bahan masukan dan pertimbangan bagi pihak manajemen dalam mengambil langkah­-langkah yang efektif dalam pemenuhan kepuasan kerja karyawan serta peningkatan motivasi kerja karyawan guna pencapaian tujuan perusahaan. Disamping itu melalui penulisan ini diharapkan dapat menambah wawasan penulis mengenai aspek-aspek sumberdaya manusia.

II. PENDEKATAN TEORITIS

2.1 Tinjauan Pustaka

2.1.1 Pengertian Manajemen Sumber Daya Manusia

Mangkuprawira (2003) mendefinisikan sumber daya manusia sebagai unsur produksi yang unik dibanding dengan unsur produksi lainnya. Dikatakan unik karena memiliki unsur kepribadian yang aktif, memiliki emosi, responsif, dan kritis terhadap setiap fenomena yang dihadapinya. Dengan demikian memanfaatkan manusia sebagai unsur produksi tidak dapat didekati dari pendekatan mekanis. Manusia tidak dapat dipandang sebagai makhluk yang pasrah dan akan menerima segala sesuatu tindakan yang dikenakan padanya.

Dessler (1997) menyatakan bahwa manajemen sumber daya manusia merupakan serangkaian kebijakan dan praktik yang dibutuhkan seseorang untuk menjalankan aspek “orang” atau sumber daya manusia dari posisi seorang manajemen, meliputi perekrutan, penyaringan, pelatihan, pengimbalan, dan penilaian. Sedangkan Stoner, J.A.F dan R.E. Freeman (1994) menyatakan bahwa manajemen sumber daya manusia mencakup tujuh kegiatan dasar yaitu perencanaan sumber daya manusia, rekrutmen, seleksi, sosialisasi, pelatihan serta pengembangan, penilaian prestasi, promosi, pemindahan, demosi, dan pemutusan hubungan kerja (PHK).

Manajemen sumber daya manusia merupakan suatu ilmu yang mengatur hubungan dan peranan tenaga kerja agar efektif dan membantu terwujudnya tujuan perusahaan, karyawan, dan masyarakat (Hasibuan, 2001). Flippo (1994) mendefinisikan manajemen sumber daya manusia adalah perencanaan, pengorganisasian, pengarahan serta pengendalian dari pengadaan, pengembangan, pemberian kompensasi, integrasi, dan pemeliharaan tenaga kerja untuk tujuan membantu atau menunjang tujuan orang, individu, dan sosial.

Berdasarkan beberapa pendapat ahli diatas pada prinsipnya memiliki perumusan yang sama terhadap pengertian manajemen sumber daya manusia. Manajemen sumber daya manusia adalah suatu penerapan fungsi-fungsi manajemen yaitu fungsi-fungsi perencanaan, pengorganisasian, penentuan staf serta kepemimpinan, dan pengendalian. Sedangkan rumusan yang menekankan bahwa manajemen sumber daya manusia merupakan suatu seni, disamping sebagai ilmu, mengandung arti bahwa dalam mencapai tujuan yang diinginkan (organisasi), seorang pimpinan atau manajer amat tergantung pada kemampuannya untuk mempengaruhi orang-orang yang ada dibawahnya oleh sebab itu, sering dikatakan bahwa manajemen adalah seni mempengaruhi orang lain (bawahan).

2.1.2 Prestasi Kerja Karyawan

Prestasi kerja adalah hasil pelaksanaan suatu pekerjaan, baik bersifat fisik/material maupun non fisik/non material yang dalam melaksanakan tugasnya berdasarkan deskripsi pekerjaan perlu dinilai hasilnya setelah tenggang waktu tertentu (Nawawi, 2005).

Menurut Hasibuan (2001) prestasi kerja adalah suatu hasil kerja yag dicapai seseorang dalam melaksanakan tugas-tugas yang dibedakan kepadanya yang didasarkan atas kecakapan, pengalaman, dan kesungguhan serta waktu.

Hasibuan juga menerangkan bahwa prestasi kerja merupakan gabungan dari tiga faktor penting, yaitu kemampuan dan minat seorang pekerja, kemampuan dan penerimaan atas penjelasan delegasi tugas, serta peran dan tingkat motivasi seorang pekerja. Semakin tinggi ketiga faktor tersebut, maka akan semakin besar prestasi kerja karyawan yang bersangkutan.

Bernardin dan Russel diacu dalam Ruky (2006) mendefinisikan prestasi sebagai suatu catatan tentang hasil-hasil yang diperoleh dari fungsi-fungsi pekerjaan tertentu selama kurun waktu tertentu.

Suprihanto (2006) mengatakan bahwa pada dasarnya prestasi kerja adalah hasil kerja seseorang dalam periode tertentu dibandingkan dengan berbagai kemungkinan misalnya standar, target/sasaran atau kriteria yang telah ditentukan terlebih dahulu dan telah disepakati bersama.

2.1.3 Penilaian Prestasi Kerja Karyawan

Pencapaian tujuan organisasi dilakukan oleh seluruh anggota dengan melaksanakan tugas yang sudah ditentukan sebelumnya berdasarkan beban dan volume kerja yang dikelola oleh suatu manajemen. Dalam melaksanakan tugasnya, setiap anggota yang berfungsi sebagai bawahan perlu dinilai hasilnya setelah tenggang waktu tertentu melalui suatu program (Istijanto, 2006). Program/rangkaian usaha ini dapat dikatakan sebagai penilaian terhadap prestasi kerja karyawan. Sementara Bernadin diacu dalam Ruky (2006) menyatakan bahwa penilaian prestasi merupakan catatan tentang hasil-hasil yang diperoleh dari fungsi-fungsi pekerjaan tertentu atau kegiatan tertentu selama kurun waktu tertentu.

Menurut Nawawi (2005), pada hakekatnya penilaian prestasi kerja karyawan yang merupakan kegiatan manajemen SDM adalah suatu proses pengamatan (observasi) terhadap pelaksanaan pekerjaan oleh seorang pekerja yang memiliki hak-hak asasi yang dilindungi. Menurut Hasibuan (2001) penilaian prestasi kerja adalah menilai rasio hasil kerja nyata dengan standar kualitas maupun kuantitas yang dihasilkan setiap karyawan, menetapkan kebijaksanaan mengenai promosi atau balas jasanya.

Istijanto (2006) menjabarkan bahwa indikator/tolak ukur/kriteria bawahan dalam melaksanakan pekerjaan terdiri atas beberapa aspek yaitu kualitas kerja, tanggung jawab terhadap pekerjaan, kerja sama dengan rekan kerja, orientasi terhadap pelanggan dan inisiatif karyawan.

Pada giliran berikutnya, hasil dari penilaian/pengukuran prestasi kerja karyawan dapat dijadikan informasi yang berharga bagi para manajer, misalnya dapat melihat apakah pekerja mengerjakan tugas yang sudah menjadi tanggung jawabnya, memberikan gambaran tentang kekurangan dan kelebihan pekerja dalam melaksanakan tugasnya, mengetahui keefektifan dan keefisienan kontribusi pekerja terhadap organisasi, dapat dikaitkan dengan pengambilan keputusan dan kebijakan manajer, dan dapat dipergunakan untuk berbagai tujuan organisasi/ perusahaan seperti pengembangan karir (promosi atau pemindahan), suksesi dan kaderisasi, penyusunan program pengembangan dan pelatihan karyawan, penetapan gaji/upah dan kompensasi tidak langsung, review strategi bisnis dan lain-lain (Nawawi, 2005).

Menurut Hasibuan (2001), penetapan penilai yang berkualitas harus berdasarkan syarat-syarat berikut:

1. Jujur, adil, objektif mengetahui pengetahuan yang mendalam tentang unsur-unsur yang akan dinilai agar penilaiannya sesuai dengan realitas/fakta yang ada.

2. Hendaknya mendasarkan penilaian atas dasar benar/salah, baik/buruk terhadap unsur-unsur yang dinilai sehingga hasil penilaiannya jujur, adil, dan objektif.

3. Harus mengetahui secara jelas uraian pekerjaan dari setiap karyawan yang akan dinilai agar hasil penilaiannya dapat dipertangunggjawabkan.

4. Harus mempunyai wewenang formal agar penilai dapat melaksanakan tugas dengan baik.

2.1.4 Teori Motivasi

Kata motivasi (motivation) kata dasarnya adalah motif (motive) yang berarti dorongan, sebab atau alasan seseorang melakukan sesuatu. Dengan demikian motivasi berarti suatu kondisi yang mendorong atau menjadi sebab seseorang melakukan suatu perbuatan/kegiatan, yang berlangsung secara sadar.

Sehubungan dengan uraian di atas, dapat dibedakan dua bentuk motivasi kerja. Kedua bentuk tersebut adalah sebagai berikut:

1) Motivasi Intrinsik adalah pendorong kerja yang bersumber dari dalam diri pekerja sebagai individu, berupa kesadaran mengenai pentingnya atau manfaat/makna pekerjaan yang dilaksankannya.

2) Motivasi Ekstrensik adalah pendorong kerja yang bersumber dari luar diri pekerja sebagai individu, berupa suatu kondisi yang mengharuskannya melaksanakan pekerjaan secara maksimal. Misalnya berdedikasi tinggi dalam bekerja karena upah/gaji yang tinggi, jabatan/posisi yang terhormat atau memiliki kekuasaan yang besar, pujian, hukuman dan lain-lain.

Lingkungan suatu organisasi/perusahaan terlihat kecenderungan penggunaan motivasi ekstrinsik lebih dominan daripada motivasi intrinsik. Kondisi itu terutama disebabkan tidak mudah untuk menumbuhkan kesadaran dari dalam diri pekerja, sementara kondisi kerja di sekitarnya lebih banyak menggiringnya pada mendapatkan kepuasan kerja yang hanya dapat dipenuhi dari luar dirinya.

Manusia merupakan makhluk yang keinginannya tidak terbatas atau tanpa henti, alat motivasinya adalah kepuasan yang belum terpenuhi serta kebutuhannya berjenjang, artinya jika kebutuhan yang pertama terpenuhi maka kebutuhan tingkat kedua akan menjadi yang pertama, dan berlaku seperti itu. Semakin tinggi kedudukan seseorang dalam masyarakat dan organisasi maka akan semakin tinggi faktor yang dirasakan menjadi kebutuhan orang tersebut.

2.1.4.1 Teori Maslow

Adapun hierarki kebutuhan menurut Maslow adalah sebagai berikut (Hasibuan, 2001):

edu

Gambar 1. Hierarki Kebutuhan Maslow

Sumber: Hasibuan, 2001

Kebutuhan-kebutuhan yang disebut pertama (fisiologis) dan kedua (keamanan) kadang-kadang diklasifikasikan dengan cara lain, misalnya dengan menggolongkannya sebagai kebutuhan primer, sedangkan yang lainnya dikenal pula dengan klasifikasi kebutuhan sekunder. Terlepas dari cara membuat klasifikasi kebutuhan manusia itu, yang jelas adalah bahwa sifat, jenis dan intensitas kebutuhan manusia berbeda satu orang dengan yang lainnya karena manusia merupakan individu yang unik. Kebutuhan manusia itu tidak hanya bersifat materi, akan tetapi bersifat pskologikal, mental, intelektual dan bahkan juga spiritual.

2.1.4.2 Teori Herzberg

Herzberg dikutip oleh Umar (1999) mengemukakan teori dua faktor atau sering disebut sebagai Herzberg two factor motivation theory. Menurutnya pekerja dalam melaksanakan pekerjaannya dipengaruhi dua faktor utama yang merupakan kebutuhan, yaitu:

1) Maintenance Factor (faktor pemeliharaan atau faktor higinis)

Menurut teori ini terdapat serangkaian kondisi ekstrinsik yaitu keadaan pekerjaan yang menyebabkan rasa tidak puas di antara karyawan. Kondisi ini adalah faktor yang membuat orang tidak puas, disebut juga higiene factor, karena faktor tersebut diperlukan untuk mempertahankan tingkat yang paling rendah, yaitu tingkat tidak ada kepastian. Faktor ini berhubungan dengan hakikat pekerja yang ingin memperoleh kebutuhan (ketentraman) badaniah. Kebutuhan ini akan berlangsung terus menerus, karena kebutuhan ini akan kembali pada titik nol setelah dipenuhi. Faktor pemeliharaan ini meliputi balas jasa (gaji dan upah), kondisi kerja, kebijakan serta administrasi perusahaan, kepastian pekerjaan, hubungan antar pribadi (atasan dan bawahan), kualitas supervisi, kestabilan kerja, dan kehidupan pribadi.

2) Motivation Factor (faktor motivasi)

Merupakan faktor motivasi yang menyangkut kebutuhan psikologis yang berhubungan dengan penghargaan terhadap pribadi yang secara langsung berkaitan dengan pekerjaan. Kebutuhan ini meliputi serangkaian kondisi intrinsik, kepuasan kerja yang diperoleh dalam pekerjaan akan mendorong motivasi yang kuat, yang dapat menghasilkan prestasi kerja yang baik. Faktor-faktor tersebut meliputi prestasi, pengakuan, pekerjaan itu sendiri, tanggung jawab, kemajuan, pengembangan potensi individu, ruangan yang nyaman, dan penempatan kerja yang sesuai.

2.1.5 Pengertian Motivasi Kerja

Menurut Winardi (2001) motivasi adalah suatu kekuatan potensial yang ada dalam diri seorang manusia, yang dapat dikembangkannya sendiri atau dikembangkan oleh sejumlah kekuatan luar yang ada, intinya berkisar sekitar imbalan materi dan imbalan non materi, yang dapat mempengaruhi hasil kinerjanya secara positif atau secara negatif, dimana tergantung pada situasi dan kondisi yang dihadapi orang yang bersangkutan. Suatu dorongan jiwa yang membuat seseorang tergerak untuk melakukan tindakan yang produktif, baik yang berorientasi kerja untuk menghasilkan uang maupun yang tidak disebut motivasi kerja motivasi kerja yang dimiliki seorang pekerja berbeda-beda tentunya, dan juga berubah-ubah.

Hasibuan (2001) mengungkapkan bahwa motivasi mempersoalkan bagaimana caranya mengarahkan daya dan potensi agar mau bekerjasama secara produktif untuk mencapai dan mewujudkan tujuan yang telah ditentukan, mau bekerja dan antusias mencapai hasil yang optimal. Sedangkan Manullang (2000) mendefinisikan motivasi sebagai pekerjaan yang dilakukan oleh seorang manajer memberikan inspirasi, semangat, dan dorongan kepada orang lain. Dalam hal ini karyawan untuk mengambil tindakan-tindakan. Pemberian dorongan ini bertujuan untuk menggiatkan karyawan agar mereka bersemangat dan dapat mencapai hasil sebagaimana dikehendaki oleh orang tersebut.

2.1.6 Faktor-Faktor yang Mempengaruhi Motivasi Kerja

Gellerman dikutip oleh Martharia (1999) menyatakan bahwa faktor-faktor motivasi kerja yang paling kuat adalah terpenuhinya kebutuhan dasar untuk mempertahankan hidup yaitu makan, minum, tempat tinggal, dan sejenisnya. Kemudian kebutuhannya meningkat yaitu keinginan mendapatkan keamanan hidup. Dalam taraf yang lebih maju, bila rasa aman telah terpenuhi mereka mendambakan barang mewah, status, dan kemudian prestasi.

Untuk meningkatkan kinerja pegawai, organisasi perlu melakukan perbaikan kinerja. Dalam hal ini, menurut Furtwengler (2003) terdapat sejumlah faktor yang perlu diperhatian oleh suatu organisasi di dalam melakukan perbaikan kinerja, yaitu faktor kecepatan, kualitas, layanan, dan nilai. Selain keempat faktor tersebut, juga terdapat faktor lainnya yang turut mempengaruhi kinerja pegawai, yaitu keterampilan interpersonal, mental untuk sukses, terbuka untuk berubah, kreativitas, terampil berkomunikasi, inisiatif, serta kemampuan dalam merencanakan dan mengorganisir kegiatan yang menjadi tugasnya. Faktor-faktor tersebut memang tidak langsung berhubungan dengan pekerjaan, namun memiliki bobot pengaruh yang sama.

Menurut teori situasi kerja Stoner, J.A.F dan R.E. Freeman (1994), situasi kerja yang dapat mempengaruhi motivasi kerja adalah:

a. Kebijakan perusahaan, seperti skala upah dan tunjangan pegawai (cuff, pensiun dan tunjangan-tunjangan), umumnya mempunyai dampak kecil terhadap prestasi individu. Namun kebijaksanaan ini benar-benar mempengaruhi keinginan karyawan untuk tetap bergabung dengan atau meninggalkan organisasi yang bersangkutan dan kemampuan organisasi untuk menarik karyawan baru.

b. Sistem balas jasa atau sistem imbalan, kenaikan gaji, bonus, dan promosi dapat menjadi motivator yang kuat bagi prestasi seseorang jika dikelola secara efektif. Upah harus dikaitkan dengan peningkatan prestasi sehingga jelas mengapa upah tersebut diberikan, dan upah harus dilihat sebagai sesuatu yang adil oleh orang-orang lain dalam kelompok kerja, sehingga mereka tidak akan merasa dengki dan membalas dendam dengan menurunkan prestasi kerja mereka.

c. Kultur organisasi, meliputi norma, nilai, dan keyakinan bersama anggotanya meningkatkan atau menurunkan prestasi individu. Kultur yang membantu pengembangan rasa hormat kepada karyawan, yang melibatkan mereka dalam proses pengambilan keputusan dan yang memberi mereka otonomi dalam merencanakan dan melaksanakan tugas mendorong prestasi yang lebih baik dari pada kultur yang dingin, acuh tak acuh, dan sangat ketat.

Berdasarkan uraian di atas, dapat terlihat bahwa secara garis besar faktor­-faktor yang mempengaruhi motivasi kerja sangat bervariasi. Namun secara umum faktor-faktor tersebut dapat dikelompokan menjadi faktor eksternal dan faktor internal. Faktor internal adalah faktor-faktor yang dapat mempengaruhi motivasi kerja, yang datangnya dari dalam diri seseorang. Sedangkan faktor eksternal adalah faktor-faktor yang dapat mempengaruhi motivasi kerja yang bersumber dari lingkungan kerja perusahaan.

2.1 KERANGKA PEMIKIRAN

2.2.1 Deskripsi dan Bagan

Sumberdaya manusia adalah sebagai faktor unik yang dicirikan oleh sifatnya yang aktif, responsif, emosi, dan kritis tehadap setiap fenomena yang dihadapi. Termasuk dalam batasan sumberdaya manusia antara lain tingkat pengetahuan, pendidikan, pengalaman, keterampilan, kesehatan, dan etos kerja (Mangkuprawira, 2003). Karena itu tidak menutup kemungkinan adanya perbedaan kepentingan tujuan karyawan dan kepentingan tujuan perusahaan

Dalam upaya mencapai tujuan yang telah ditetapkan oleh perusahaan diperlukan sumberdaya manusia yang berkualitas. Sumberdaya manusia yang berkualitas adalah manusia yang memiliki pengetahuan dan keterampilan yang sesuai dengan pekerjaannya sebagai pelaksana aktivitas perusahaan, memiliki energi, dan bakat serta profesionalitas yang tinggi. Oleh sebab itu sebuah perusahaan perlu mengetahui seberapa besar keinginan karyawan untuk bekerja dengan giat guna memenuhi kebutuhannya. Hal ini ditentukan oleh motivasi kerja yang dimiliki masing-masing karyawan dan lingkungan atau iklim perusahaan, sehingga perusahaan dapat mengambil keputusan yang bijaksana dalam memenuhi keinginan dan kebutuhan karyawan secara umum dan tidak merugikan perusahaan.

Melihat pada konteks di atas, maka penulisan ini akan melihat faktor-faktor apa saja yang dapat mempengaruhi motivasi kerja karyawan serta prestasi kerja karyawan. Pada Gambar. 2 disajikan bagan kerangka berpikir yang berkaitan dengan variabel-variabel.

i34050795

Gambar 2. Kerangka Pemikiran Konseptual

Motivasi dalam diri seorang karyawan timbul karena adanya faktor internal dan eksternal. Jenis kelamin, umur, tingkat pendidikan, masa kerja, jumlah tanggungan dalam keluarga termasuk ke dalam faktor internal seorang karyawan dalam perusahaan dalam melakukan pekerjaan, kemudian motivasi yang timbul dari faktor eksternal seorang karyawan diantaranya ialah hubungan atasan dan bawahan, hubungan sesama rekan kerja, peraturan dan kebijakan perusahaan, kondisi kerja, kompensasi, penunjang kesehatan. Motivasi kerja karyawan akan mempengaruhi prestasi kerja karyawan. Prestasi kerja karyawan ini dapat dinilai dari kualitas kerja, tanggung jawab terhadap pekerjaan, kerjasama dengan rekan kerja, orientasi terhadap konsumen, dan inisiatif karyawan.

III. METODOLOGI PENELITIAN

3.1 Metode Penelitian

Metode yang digunakan dalam penelitian ini adalah kasus/case di Jurnal Bogor dengan melakukan survei terhadap sumberdaya manusia sebagai karyawan di Jurnal Bogor. Objek yang diteliti adalah motivasi kerja dan prestasi kerja karyawan Jurnal Bogor. Penelitian ini dilaksanakan selama bulan April sampai bulan Mei 2009.

3.2 Jenis dan Sumber Data

Data yang digunakan dalam penelitian ini adalah data primer dan data sekunder. Data primer adalah data asli yang dikumpulkan sendiri oleh periset untuk menjawab masalah risetnya (Istijanto, 2006). Pengumpulan data primer diantaranya adalah dengan teknik wawancara dan kuesioner. Wawancara dilaksanakan berdasarkan panduan sebuah kuesioner yang didapat dari hasil pengisian kuesioner yang berisi pertanyaan seputar motivasi dan prestasi kerja karyawan Jurnal Bogor

Data sekunder adalah data yang diperoleh dari literatur-literatur yang terkait topik penelitian. Data sekunder pada penelitian ini berasal dari studi literatur berupa tulisan laporan, pedoman, peraturan, dan sumber-sumber lain yang menunjang laporan penelitian.

Instrumen pengumpulan data yang digunakan adalah berupa kuesioner, yang diberikan kepada karyawan Jurnal Bogor. Kuesioner yang digunakan berisi beberapa butir pertanyaan mengenai motivasi dan prestasi kerja karyawan Jurnal Bogor. Pertanyaan yang diajukan mengenai motivasi diantaranya hubungan atasan dan bawahan, hubungan sesama rekan kerja, peraturan dan kebijakan perusahaan, kondisi kerja, kompensasi, dan penunjang kesehatan. Pertanyaan yang diajukan mengenai prestasi kerja karyawan diantaranya kualitas kerja, tanggung jawab terhadap pekerjaan, kerjasama dengan rekan kerja, orientasi terhadap pembaca, dan inisiatif karyawan. Penelitian ini diprioritaskan untuk melihat hubungan antara motivasi kerja karyawan dengan prestasi kerja karyawan Jurnal Bogor.

3.3 Metode Pengambilan Sampel

Penelitian ini menggunakan metode purposive sampling dalam penentuan sumber informasi dengan pertimbangan adalah karyawan Jurnal Bogor yang mempunyai bawahan, yaitu kelompok pemimipin atas dan kelompok pemimpin menengah. Sedangkan penentuan sumber informasi pada kelompok staf/karyawan dilakukan secara acak (random sampling).

3.4 Metode Analisis Data

Data yang diperoleh akan dianalisis dengan menggunakan analisis deskriptif kuantitatif dan kualitatif untuk mengetahui gambaran secara umum kendala dan upaya-upaya yang mempengaruhi motivasi dan prestasi kerja karyawan Jurnal Bogor.

Analisis deskriptif adalah mengubah kumpulan data mentah menjadi bentuk yang mudah dipahami dalam bentuk informasi yang lebih ringkas (Istijanto, 2006). Dalam analisis deskriptif nilai yang menggambarkan seluruh anggota atau responden dapat diwakili oleh nilai rata-rata (mean) atau nilai maksimum dan nilai minimum. Analisis deskriptif pada penelitian ini dilakukan untuk mengetahui karakteristik responden berdasarkan umur, jenis kelamin, tingkat pendidikan, lama waktu bekerja, dan jumlah tanggungan dalam keluarga dengan cara mentabulasi hasil kuesioner secara manual.

Skala pengukuran yang digunakan adalah skala interval yang merupakan skala yang memiliki urutan/jarak yang sama antar kriteria atau titik-titik terdekatnya (Istijanto, 2006). Pada penelitian ini dilakukan pembobotan pada faktor-faktor motivasi maupun prestasi kerja karyawan dengan skala interval yang dapat dilihat pada Tabel 1.

Tabel 1. Skala Interval dan Bobot Nilai Jawaban Responden

Alternatif Jawaban

Bobot Nilai

Selalu

5

Sering

4

Kadang-kadang

3

Pernah

2

Tidak pernah

1

Jawaban yang telah diberikan bobot, kemudian dijumlahkan untuk setiap responden guna dijadikan skor penilaian terhadap variabel-variabel yang diteliti. Selain itu pada setiap variabel yang diuji selalu ditarik kesimpulan secara keseluruhan berdasarkan nilai tengah data setelah data-data tersebut diurutkan (median).

Data dianalisis secara kuantitatif dengan menggunakan program komputer SPSS 13.0 for Windows (Spread sheet for statistic) dengan model uji korelasi Rank Spearman. Analisa digunakan untuk mengetahui kuat tidaknya hubungan antar variabel pengaruh (variabel X) motivasi kerja karyawan. dengan variabel terpengaruh (variabel Y) yaitu prestasi kerja karyawan. Adapun rumus koefisien korelasi Rank Spearman adalah sebagai berikut:

ρ atau rs = 1 6 di2

n (n2 – 1)

Keterangan :

ρ atau rs = Koefisien korelasi spearman rank

di = determinan

n = Jumlah data/sampel

Hipotesis pengujian pengaruh motivasi kerja karyawan dengan prestasi kerja karyawan adalah sebagai berikut:

H0 = Motivasi kerja karyawan tidak berhubungan terhadap prestasi kerja karyawan Jurnal Bogor.

H1 = Motivasi kerja karyawan berhubungan terhadap prestasi kerja karyawan Jurnal Bogor.

Keputusan pengujian adalah sebagai berikut:

1. jika nilai r hitung < r tabel, maka terima H0, artinya motivasi kerja karyawan tidak berhubungan terhadap prestasi kerja karyawan.

2. jika nilai r hitung > r tabel, maka tolak H0 atau terima H1, artinya motivasi kerja karyawan berhubungan terhadap prestasi kerja karyawan.

Koefisien korelasi Rank Spearman (rxy) menunjukkan kuat tidaknya antara indikator x terhadap variabel X dengan indikator y terhadap variabel Y maupun variabel X terhadap variabel Y (Istijanto, 2006) sehingga digunakan batasan koefisien korelasi untuk mengkategorikan nilai r. Kriteria pengukuran dapat dilihat pada Tabel 2.

Tabel 2. Kriteria Pengukuran Koefisien Korelasi

Kisaran

Kriteria

0 – 0,199

menunjukkan tidak adanya hubungan atau lemah sekali

0,200 – 0,399

menunjukkan hubungan yang lemah atau rendah

0,400 – 0,699

menunjukkan hubungan yang cukup berarti.

0,700 – 0,899

menunjukkan hubungan yang kuat atau tinggi.

0,900 – 1

menunjukan hubungan yang sangat tinggi atau sangat kuat sekali dan dapat diandalkan.

Selain itu penelitian ini juga ingin mengetahui apakah terdapat perbedaan hubungan motivasi kerja dengan prestasi kerja karyawan Jurnal Bogor antar divisi. Berikut prosedur yang digunakan yaitu dengan analisis varian satu arah Kruskal-Wallis. Analisis ini berguna untuk menentukan apakah k sample independen berasal dari populasi yang berbeda (Siegel, 1994). Namun perhitungan terhadap data yang diperoleh pada penelitian dilakukan dengan menggunakan program SPSS 13.0 for Windows.

Keterangan :

H = Hipotesis (uji H kruskal wallis)

k = banyaknya sampel (independen)

nj = ukuran sampel ke-j dengan j = 1,2,3 ..k

N = Jumlah pengamatan seluruh kelompok sampel

Rj = Jumlah peringkat pada sampel ke-j dengan j = 1,2,3…k

Menentukan signifikansi suatu nilai sebesar nilai H ditaksir dengan menggunakan tabel C pada tabel statistik dengan db=k-1 dan tetapkan α=0,05. jika kemungkinan yang berkaitan dengan nilai observasi H adalah sama dengan atau kurang dari α, maka tolak H0 dan terima H1.

Hipotesis

H0 : tidak terdapat perbedaan hubungan motivasi kerja dengan prestasi kerja karyawan antar divisi di Jurnal Bogor.

H1 : terdapat perbedaan hubungan motivasi kerja dengan prestasi kerja karyawan antar divisi di Jurnal Bogor.

DAFTAR PUSTAKA

Dessler, G. 1997. Manajemen Sumber Daya Manusia. Jilid 1.Edisi 7. PT. Prenhallindo. Jakarta.

Flippo, E.B. 1994. Manajemen Personalia. Jilid 2. Edisi Keenam. Editor : Alfonso Sirait. Penerbit Erlangga. Jakarta

Furtwengler, D. 2003. Penuntun Sepuluh Menit Penilaian Kinerja. (Alih Bahasa : Fandy Tjiptono). Penerbit Andi. Yogyakarta.

Hasibuan, M.S.P. 2001. Manajemen Sumber Daya Manusia. Edisi Revisi. PT. Bumi Aksara. Jakarta.

Istijanto. 2006. Riset Sumber Daya Manusia Cara Praktis Mendeteksi Dimensi-dimensi Kerja Karyawan. Jakarta: PT. Gramedia Pustaka Utama.

Mangkuprawira, S. 2003. Manajemen Sumber Daya Manusia Strategik. Edisi 2. Ghalia Indonesia. Jakarta.

Manullang, M. 2000. Manajemen Personalia. Edisi 3. Gadjah Mada University Press. Yogyakarta.

Martharia. 1999. Faktor-Faktor yang Mempengaruhi Motivasi Kerja. Skripsi. Jurusan Ilmu-Ilmu Sosial Ekonomi. Fakultas Pertanian. Institut Pertanian Bogor. Bogor.

Nawawi, Hadari. 2005. Manajemen Sumber Daya Manusia untuk bisnis yang kompetitif. Yogyakarta: Gadjah Mada University Press.

Ruky, AS. 2006. Sistem Manajemen Kinerja. Jakarta: PT. Gramedia Pustaka Utama.

Safaria, Triantoro. 2004. Kepemimpinan Edisi Pertama. Graha Ilmu. Yogyakarta.

Siegel, S. 1994. Statistik Nonparametrik Untuk Ilmu-ilmu Sosial. Suyuti Z, penerjemah. Jakarta: PT. Gramedia Pustaka Utama. Terjemahan dari: Nonparametric Statistics for the Behavioral Sciences.

Stoner, J.A.F dan R.E. Freeman. 1994. Manajemen. Jilid 1. Edisi Kelima. Intermedia. Jakarta.

Suprihanto. 2006. Prestasi Kerja. www.google.com. [12 Januari 2009].

Umar, H. 1999. Riset Sumber Daya Manusia Dalam Organisasi. Edisi kedua. PT. Gramedia Pustaka Utama. Jakarta.

Wahjosumidjo. 1994. Kepemimpinan dan Motivasi. Ghalia Grafindo. Jakarta.

Winardi, J. 2001. Motivasi dan Pemotivasian dalam Manajemen. PT. Raja Grafindo Persada. Jakarta.

Lampiran 1. Rencana Jadwal Penelitian

No.

Kegiatan

Maret

April

Mei

Juni

Juli

1

2

3

4

1

2

3

4

1

2

3

4

1

2

3

4

1

2

3

4

I.

Proposal dan Kolokium

1. Penyusunan Draft dan Revisi

2. Konsultasi Proposal

3. Kolokium

II.

Studi Lapangan

1. Pengumpulan Data

2. Analisis Data

III.

Penulisan Laporan

1. Analisis Lanjutan

2. Penyusunan Draft dan Revisi

3. Konsultasi Laporan

IV.

Ujian Skripsi

1. Ujian

2. Perbaikan Skripsi

Lampiran 2. Kuesioner

KUESIONER

Motivasi Kerja Karyawan Jurnal Bogor

Bapak,/Ibu dan saudara/i yang saya hormati,

Saya Edu Dermantio IN mahasiswa Departemen Sains Komunikasi dan Pengembangan Masyarakat, Institut Pertanian Bogor, sedang melakukan penelitian tentang Motivasi Kerja di perusahaan tempat Bapak, Ibu dan saudara/i bekerja, dalam rangka penyusunan skripsi.

Saya sangat mengharapkan bantuan saudara untuk mengisi kuesioner ini dengan sejujur-jujurnya dan sesuai dengan keadaan yang ada. Kejujuran jawaban akan memberikan manfaat yang sangat berarti bagi penelitian ini, dan semoga hasilnya juga dapat berguna untuk memberikan bahan masukan dan pertimbangan bagi pihak manajemen. Jawaban-jawaban yang saudara berikan tidak akan mempengarerhi penilaian perusahaan terhadap diri anda dan tidak akan berpengaruh dalam penilaian prestasi kerja.

Atas perhatian dan kerjasamanya saya ucapkan terimakasih.

Selamat Bekerja dan Semoga Sukses.

Identitas Responden

Nama : _____________________________________

Jenis Kelamin : L / P

Umur : _______tahun

Pendidikan terakhir : ____________

Lama Bekerja : ____tahun ____bulan

Jumlah tanggungan keluarga _______ orang

Status Pernikahan : menikah / belum menikah

Golongan/Jabatan : ___________


Petunjuk Pengisian Kuesioner :

Berilah tanda silang (X) pada jawaban yang anda rasa paling tepat

No

Pernyataan

Jawaban

5

4

3

2

1

1.

Hubungan anda dengan atasan dalam pekerjaan tergolong erat

X

2.

Hubungan anda dengan atasan diluar pekerjaan tergolong. erat.

X

Keterangan:

5 : Selalu 2 : Pernah

4 : Sering 1 : Tidak Pernah

3 : Kadang-kadang

A. Hubungan antara Atasan dan Bawahan

No

Pernyataan

Jawaban

1/

5

4

3

2

1

1.

Saya termotivasi apabila atasan saya memberikan bimbingan/pengarahan kepada saya dalam hal pekerjaan.

2.

Perhatian dan tanggapan terhadap ide, usul, maupun saran yang saya ajukan memberikan dampak terhadap pekerjaan saya

3.

Pujian yang diberikan atasan saya meningkatkan semangat bekerja

4.

Saran dan kritik dari atasan saya apabila saya membuat kesalahan membuat saya nyaman dalam bekerja

5.

Apabila saya mendapat teguran saya akan segera memperbaiki pekerjaan saya

6.

Hubungan yang dekat dengan atasan membuat saya lebih semangat dalam bekerja

B. Hubungan antara Sesama Rekan Kerja

No

Pernyataan

Jawaban

5

4

3

2

1

1.

Apabila rekan kerja memberikan saran dan dukungan saya akan lebih termotivasi dalam melakukan pekerjaan

2.

Saya akan lebih bersemangat apabila rekan kerja saya memberikan bantuan dan kerjasama dalam hal pekerjaan

3.

Adanya kesempatan saya bersosialisasi dengan sesama rekan kerja di luar pekerjaan (saat istirahat, sepulang kerja, dll) membuat saya lebih nyaman dalam bekerja

4.

Saran dan kritik dari rekan kerja saya membuat saya nyaman dalam bekerja

5.

Pujian yang diberikan oleh rekan kerja meningkatkan semangat bekerja

6.

Persaingan dengan rekan kerja membuat saya meningkatkan motivasi dalam bekerja

C. Kebijakan Perusahaan

No

Pernyataan

Jawaban

5

4

3

2

1

1.

Jam dan hari kerja yang diberlakukan perusahaan mempengaruhi cara saya dalam bekerja

2.

Sanksi yang diberlakukan perusahaan apabila karyawan melanggar aturan mempengaruhi disiplin saya dalam bekerja

3.

Bonus diberikan oleh perusahaan pada tiap karyawan yang bekerja sesuai atau melebihi target membuat saya lebih semangat dalam bekerja

4.

Upah/gaji yang diberikan perusahaan sesuai waktu yang telah ditentukan membuat saya lebih semangat dalam bekerja

5.

Kebijakan-kebijakan yang ditetapkan oleh perusahaan membuat saya nyaman dalam bekerja

D. Kondisi Kerja

No

Pernyataan

Jawaban

5

4

3

2

1

1.

Terjaminnya keselamatan saya dalam bekerja membuat saya lebih tenang dalam bekerja

2.

Fasilitas yang disediakan perusahaan mendukung saya dalam bekerja

3.

Lingkungan perusahaan yang aman mendukung pekerjaan saya

4.

Lingkungan pekerjaan yang kondusif membuat saya nyaman dalam bekerja

5.

Kenyamanan dan kebersihan lingkungan pekerjaan saya membuat saya nyaman dalam bekerja

6.

Kompetisi di lingkungan perusahaan menambah semangat saya dalam bekerja

E. Kompensasi

No

Pernyataan

Jawaban

5

4

3

2

1

1.

Upah yang saya terima membuat saya meningkatkan produktivitas saya dalam bekerja

2.

Upah yang saya peroleh mencukupi kebutuhan saya

sehari-hari

3.

Tunjangan-tunjangan yang diberikan oleh perusahaan terhadap karyawan mempengaruhi kinerja saya

4.

Bonus diberikan kepada karyawan pada waktu tertentu meningkatkan motivasi saya dalam menyelesaiakan pekerjaan

5.

Penghargaan atas prestasi pekerjaan yang saya lakukan dari perusahaan mempengaruhi saya dalam bekerja

6.

Penghitungan upah lembur yang ditetapkan perusahaan meningkatkan motivasi saya dalam bekerja

7.

Penghargaan berpengaruh terhadap motivasi saya dalam bekerja

F. Kesehatan

No.

Pernyataan

Jawaban

5

4

3

2

1

1.

Tunjangan kesehatan yang diberikan perusahaan mendukung saya dalam bekerja

2.

Asuransi kesehatan yang diberikan perusahaan membuat saya tenang dalam bekerja

3.

Fasilitas kesehatan yang ada di perusahaan membuat saya nyaman dalam bekerja

4.

Perhatian yang diberikan terhadap kondisi kesehatan saya mendukung pekerjaan saya

5.

Kesehatan saya berpengaruh terhadap motivasi saya dalam bekerja

6.

Kesediaan perusahaan dalam mengganti biaya kesehatan karyawan membuat saya tenang dalam bekerja

Silakan berikan pendapat tambahan berkaitan dengan upaya memotivasi karyawan guna meningkatkan kinerja karyawan Jurnal Bogor dengan menambahkan tulisan di bawah/di belakang kertas ini. Terimakasih.

KUESIONER

Penilaian Prestasi Kerja Karyawan

diberikan kepada level manajemen tengah dan atau atas untuk menilai bawahannya

Bapak/Ibu yang saya hormati,

Saya Edu Dermantio IN mahasiswa Departemen Sains Komunikasi dan Pengembangan Masyarakat, Institut Pertanian Bogor, sedang melakukan penelitian tentang Motivasi Kerja di perusahaan tempat Bapak,/Ibu bekerja dalam rangka penyusunan skripsi.

Saya sangat mengharapkan bantuan Bapak/Ibu untuk mengisi kuesioner ini dengan sejujur-jujurnya dan sesuai dengan keadaan yang ada. Kejujuran jawaban akan memberikan manfaat yang sangat berarti bagi penelitian ini, dan semoga hasilnya juga dapat berguna untuk memberikan bahan masukan dan pertimbangan bagi pihak manajemen. Jawaban-jawaban yang Bapak/Ibu berikan tidak akan mempengarerhi penilaian perusahaan terhadap diri anda dan tidak akan berpengaruh dalam penilaian prestasi kerja.

Atas perhatian dan kerjasama Bapak/Ibu saya ucapkan terimakasih.

Selamat Bekerja dan Semoga Sukses.

Identitas Penilai

Nama : _____________________________________

Jenis Kelamin : L / P

Umur : _______tahun

Pendidikan terakhir : ____________

Lama Bekerja : ____tahun ____bulan

Jumlah tanggungan keluarga _______ orang

Status Pernikahan : menikah / belum menikah

Golongan/Jabatan : ___________

Identitas Karyawan

Nama : _____________________________________

Jenis Kelamin : L / P

Golongan/Jabatan : ___________

Petunjuk Pengisian Kuesioner :

Berilah tanda silang (X) pada jawaban yang anda rasa paling tepat

No

Pernyataan

Jawaban

5

4

3

2

1

1.

Hubungan anda dengan atasan dalam pekerjaan tergolong erat

X

2.

Hubungan anda dengan atasan diluar pekerjaan tergolong. erat.

X

Keterangan:

5 : Selalu 2 : Pernah

4 : Sering 1 : Tidak Pernah

3 : Kadang-kadang

A. Kualitas Kerja

No

No

Pernyataan

Jawaban

5

4

3

2

1

1.

Teliti dalam bekerja

2.

Loyal terhadap perusahaan

3.

Memenuhi standar kerja yang ditentukan

4.

Menyelesaikan tugas di atas standar

5.

Bekerja dengan cekatan dan cepat

6.

Jumlah hasil kerja memenuhi tuntutan yang diharapkan

7.

Menjaga nama baik perusahaan

8.

Cepat tanggap terhadap tugas baru yang diberikan

B. Tanggung Jawab terhadap Pekerjaan

1.

Menunjukkan rasa tidak enak (sungkan) apabila pekerjaan belum selesai

2.

Berusaha dengan serius menyelesaikan pekerjaan sampai tuntas

3

Tidak melakukan kegiatan lain saat menyelesaikan pekerjaan

4.

Menyelesaikan tugas sesuai dengan waktu yang telah ditentukan

5.

Bersedia bekerja melewati batas waktu normal jika pekerjaan belum selesai

6.

Melapor kepada atasan jika ada masalah pekerjaan

7.

Menyelesaikan pekerjaan lain apabila pekerjaan awal telah selesai

8.

Masuk kerja tepat waktu

9.

Menyelesaikan tugas tepat waktu

C. Kerjasama dengan Rekan Kerja

1.

Bersedia membantu rekan kerja satu divisi

2.

Tidak kesulitan bekerja bersama-sama rekan lain divisi

3.

Bersedia membantu rekan kerja divisi lain

4.

Tidak kesulitan bekerja bersama-sama rekan lain divisi

5.

Memberikan kontribusi kepada tim melalui saran

6.

Memberikan kritik yang membangun sesama rekan kerja

7.

Menerima kritik dari rekan kerja

8.

Menjadi motivator dalam bekerja

D. Orientasi terhadap Pelanggan

1.

Berusaha memberikan kepuasan kepada pelanggan

2.

Memberikan pelayanan lebih dari sekadar yang diminta pelanggan

3.

Melakukan inovasi untuk kepuasan pelanggan

4.

Menjaga hubungan baik dengan pelanggan

5.

Memenuhi permintaan pelanggan

E. Inisiatif Karyawan

1.

Menunjukan kesediaan melakukan pekerjaan tanpa diperintah atau diminta atasan

2.

Dalam situasi mendesak bersedia melakukan pekerjaan yang bukan tugasnya demi kelancaran operasional perusahaan

3.

Bersedia memperbaiki kesalahan dengan sukarela tanpa diperintah atasan

4.

Memodifikasi pekerjaan yang diminta atasan tanpa keluar dari ketentuan yang berlaku

5.

Mampu memberikan ide kreatif untuk kemajuan perusahaan

6.

Memanfaatkan umpan balik yang kongkrit dalam setiap kegiatan yang dilakukan

Silakan berikan pendapat tambahan berkaitan dengan upaya memotivasi karyawan guna meningkatkan kinerja karyawan Jurnal Bogor dengan menambahkan tulisan di bawah/di belakang kertas ini. Terimakasih.

Ditulis dalam Bogor, Jawa Barat, Kerja, motivasi, prestasi | Dengan kaitkata: , , , , | 1 Comment »

Representasi Sosial tentang Kerja pada Anak Jalanan di Stasiun Kereta Api Bogor dan Terminal Baranang Siang, Kota Bogor, Jawa Barat

Posted by kolokium kpm ipb pada 25 Maret 2009

Nama Pemrasaran/NRP : Galuh Adriana/A14204013

Departemen : Sains Komunikasi dan Pengembangan Masyarakat

Pembahas : Desie Yuniar/ A14204029

Dosen Pembahas : Dr. Sarwititi.

Dosen Pembimbing : Dr. Nurmala K. Pandjaitan, MS.DEA

Judul Rencana Penelitian : Representasi Sosial tentang Kerja pada Anak Jalanan di Stasiun Kereta Api Bogor dan Terminal Baranang Siang, Kota Bogor, Jawa Barat

Tanggal dan Waktu : Selasa, 24 Maret 2009 pukul 09.00 – 10.00 WIB

I. PENDAHULUAN

1.1 Latar Belakang

Pembangunan ekonomi yang telah dilakukan selama ini oleh pemerintah Indonesia telah menghasilkan kemajuan dibeberapa sektor ekonomi. Namun, tidak bisa dipungkiri bahwa pembangunan yang telah dilaksanakan tersebut menghasilkan beberapa dampak negatif, salah satunya adalah terciptanya kesenjangan sosial-ekonomi dalam masyarakat Indonesia. Kesenjangan sosial ekonomi tersebut menghasilkan permasalahan-permasalahan sosial ekonomi, baik itu di perdesaan ataupun di perkotaan. Permasalahan yang muncul diperkotaan salah satunya ialah munculnya fenomena anak jalanan. Fenomena anak jalanan ini terdapat di kota-kota besar seperti di Jakarta, Surabaya, Yogyakarta, Medan, dan bahkan sampai di kota Malang (Waluyo, 2000).

Menurut data Pusat Kajian Pengembangan Masyarakat (PKPM) Unika Atma Jaya (2001) yang bekerja sama dengan organisasi asing nonpemerintah dalam programnya Save the Children, terdapat 10.000 anak jalanan di Jakarta yang tersebar di 312 ‘kantong’. Diantaranya ialah terminal luar kota Pulo Gadung, lampu merah Pramuka, stasion Beos, prapatan Cawang, dan Pasar Minggu. Dengan rata-rata terhitung 100 lebih anak mangkal per harinya. Anak-anak jalanan ini umumnya mengamen, mengasong, mencuci mobil, menyemir sepatu, parkir mobil, kernet dan menjadi joki, dan ojek payung.1 Sedangkan untuk di Bogor, Pemerintah Kota Bogor mencatat terdapat 640 anak jalanan yang tersebar di wilayah kota Bogor pada tahun 2009.2 Biasanya anak jalanan di Bogor dapat ditemukan di setiap perempatan jalan, lampu merah, kolong jembatan, di bawah pohon, pusat perbelanjaan, dan paling banyak terdapat di jalan Pajajaran (di dekat hotel Pangrango).

Laporan Yayasan Kesejahteraan Anak Indonesia (1994) memberitakan bahwa fenomena anak jalanan semakin meningkat dari segi kualitas maupun kuantitas. Penelitian mengungkapkan bahwa sebagian besar anak jalanan berasal dari keluarga tidak mampu, sehingga mereka harus bekerja mencari uang untuk membantu memenuhi kebutuhan keluarga.

Hidup sebagai anak jalanan dan mengembara di jalan membuat mereka memiliki berbagai masalah sosial diantaranya ialah korban eksploitasi pekerjaan, rawan kecelakaan lalu lintas, ditangkap petugas, terlibat kriminal, konflik dengan anak lain, perlakuan yang salah dalam seks terhadap anak, diperjual belikan, dan lain-lain. Kondisi inilah yang menyebabkan anak jalanan mengalami masalah umum dalam bentuk kekerasan yang berakibat fisik ataupun gangguan emosional dan pelaksanaan peran sosial lainnya (Depsos, 2006).

Berdasarkan latar belakang di atas, menarik untuk dikaji lebih dalam mengenai mengapa seorang anak harus menjadi anak jalanan meskipun terdapat banyak permaslahan yang dihadapi dengan melihat karakteristik sosial ekonomi anak jalanan. Apakah sebenarnya representasi sosial tentang kerja bagi anak jalanan sehingga mau untuk bekerja di jalanan. Apakah ada hubungan antara representasi sosial tentang kerja yang dimiliki anak jalanan terhadap perilaku kerja. Pengkajian terhadap representasi sosial tentang kerja ini terkait dengan teori tentang representasi sosial yaitu representasi sosial dapat merubah perlaku seserang, atau dengan kata lain representasi sosial dapat mempengaruhi perilaku seseorang. Representasi sosial tentang kerja yang berbeda akan menghasilkan perilaku kerja yang berbeda pula. Hal ini disebabkan setiap individu memiliki representasi yang berbeda mengenai suatu obyek

1.2 Perumusan Masalah

Berdasarkan latar belakang permasalahan di atas, tujuan penulisan ini adalah sebagai berikut:

1. Bagaimanakah karakteristik sosial ekonomi anak jalanan?

2. Bagaimanakah reprentasi sosial tentang kerja pada anak jalanan?

3. Bagaimanakah perilaku kerja yang terbentuk pada anak jalanan?

4. Bagaimanakah hubungan antara reprentasi sosial tentang kerja dengan perilaku kerja anak jalanan?

1.3Tujuan Penelitian

Berdasarkan latar belakang permasalahan di atas, tujuan penulisan ini adalah sebagai berikut:

1. Mengidentifikasi karakteristik sosial ekonomi anak jalanan.

2. Mengidentifiksi reprentasi sosial tentang kerja bagi anak jalanan.

3. Mengidentifikasi perilaku kerja yang terbentuk pada anak jalanan.

4. Mengetahui hubungan antara reprentasi sosial tentang kerja dengan perilaku kerja anak jalanan.

1.4 Kegunaan Penelitian

Penelitian ini diharapkan dapat memberikan manfaat bagi pembaca untuk menambah wawasan dan informasi mengenai anak jalanan. Bagi pihak-pihak yang berkaitan dengan anak jalanan diharapkan dapat menjadi bahan pertimbangan untuk membuat suatu solusi dalam melakukan upaya pemberdayaan untuk mengatasi bertambahnya jumlah anak jalanan.

II. PENDEKATAN TEORITIS

2.1 Tinjauan Pustaka

Pengertian Makna

Blumer seperti dikutip oleh Sunarto (2000) menyatakan tiga premis yang menyatakan tentang makna. Pertama, manusia bertindak terhadap sesuatu atas dasar makna sesuatu tersebut bagi mereka. Kedua, makna merupakan suatu produksi sosial yang muncul dalam proses interaksi antar manusia. Ketiga, penggunaan makna oleh para pelaku berlangsung melalui suatu proses penafsiran.

Definisi pemaknaan yang telah diungkapkan di atas merupakan suatu makna yang berada pada diri individu. Namun dalam perkembangan teori ini ternyata makan itu tidak hanya berada pada level individu saja, tetapi terdapat makna yang berada pada level masyarakat yang dinamakan makan sosial atau representasi sosial.

Representasi sosial sebagai suatu pandangan fungsional yang membiarkan individu atau kelompok memberikan makna atau arti terhadap tindakan yang dilakukannya, untuk mengerti suatu realita kehidupan sesuai dengan referensi yang mereka miliki, dan untuk beradaptasi terhadap realitas tersebut (Abric, 1976).

Representasi sosial terdiri dari elemen informasi, keyakinan, pendapat, dan sikap tentang suatu obyek. Bagian-bagian ini terorganisasi dan terstruktur sehingga kemudian menjadi sistem sosial-kognitif seseorang. Struktur representasi sosial terdiri dari central core peripheral core. Karakteristik (central core) unsur utama yaitu bersifat lebih stabil dan tidak mudah untuk berubah. Karakteristik (periphery) yaitu sebagai pelengkap dari unsur utama, paling mudah berubah. Jika kita ingin merubah representasi sosial maka harus merubah central core.

Jadi representasi sosial sebenarnya memperkenalkan adanya sintesis yang baru antara individu dengan lingkup sosialnya. Posisi individu dalam teori ini dinilai tidak menghasilkan pola pikir dalam situasi yang terisolasi, namun dari basis saling mempengaruhi satu sama lain. Dan itu menjadi dasar bagi munculnya pemaknaan bersama tentang suatu obyek dan mempengaruhi perilaku individu berdasarkan makna bersama tersebut.

Representasi Sosial Tentang Kerja

Penelitian mengenai representasi sosial tentang kerja masih belum banyak diteliti. Maka dari itu digunakanlah hasil penelitian makna kerja untuk memberikan informasi mengenai makan kerja yang melekat pada diri individu. Bisa saja makna kerja yang berada pada level individu berada pula pada level masyarakat atau disebut sebagai representasi sosial.

Pada masyarakat modern makna bekerja menjadi bersifat ekonomis, dimana bekerja lebih sering diartikan sebagai aktivitas seseorang yang bertujuan untuk memperoleh imbalan uang atau barang nyata lainnya. Hal ini senada dengan pernyataan Tim MOW (Meaning of Workin Team, 1987) bahwa makna bekerja adalah suatu aktivitas yang menghasilkan sesuatu yang bernilai bagi orang lain. Ada pula yang menganggap bahwa bekerja bukan hanya untuk mencukupi kebutuhan pokoknya, ada pula yang beranggapan bahwa dengan bekerja kebutuhan-kebutuhan sosial seperti memperoleh kepuasan, mengembangkan kemampuan, dapat terpenuhi (Amanaty, 1997).

Jadi secara konseptual, representasi sosial tentang kerja adalah sejumlah image, opini, penilaian, dan keyakinan umum mengenai kerja.

Pengukuran Makna Kerja

Pemahaman dan penghayatan terhadap makna bekerja menjadi relatif terkait dengan situasi dan sudut pandang tertentu. Salah satunya ialah pendekatan yang digunakan oleh Kaplan dan Tausky (dalam Rasyid, 1987) pada Amanaty (1997) mengajukan konsep mengenai tipologi mengenai makna bekerja yang intinya dengan bekerja individu mampu mendapatkan sarana untuk: memenuhi status dan prestisenya, mendapatkan penghasilan, dapat mengisi waktunya secara lebih berarti, mendapatkan sarana untuk melakukan kontak sosial atau interpersonal, memberikan layanan atau pengabdian yang bersifat sosial, dan mengekspresikan diri atau memperoleh kepuasan secara intrinsik diantaranya memperoleh pengalaman, mempelajari sesuatu yang baru, aktualisasi diri, dan mengembangkan kemampuan diri.

Lebih jauh mengenai dimensi makna bekerja, Tim MOW (Meaning Of Working International Research Team, 1987) mengadakan penelitian mengenai makna bekerja pada sektor formal di sejumlah negara. Penelitian tersebut berlandaskan pada kerangka pemikiran yang melibatkan lima dimensi makna bekerja yaitu sentralitas kerja (work centrality), norma-norma sosial mengenai bekerja (societal norms about working), hasil-hasil bekerja yang bernilai (valued working outcomes), kepentingan tujuan bekerja (importance of work goals), dan identifikasi peran bekerja (working role identifications).

Di dalam model yang dikemukakan oleh Tim MOW (1987), ada seperangkat variabel yang berpengaruh di dalam proses pemberian makna terhadap bekerja pada seseorang, yaitu variabel yang tergolong pribadi dan situasi keluarga (personal and family situation),antara lain usia, jenis kelamin, pendidikan formal, agama; pekerjaan saat ini dan sejarah karir (present job and career history), seperti status pekerjaan dan masa kerja; lingkungan sosial ekonomi secara makro (macro socio-economic environment).

Hasil penelitian Amanaty (1997) yang dilakukan pada karyawati yang bekerja pada sektor industri dan manufaktur menemukan hal yang berbeda mengenai dimensi-dimensi makna bekerja. Ternyata hasil penelitiannya mengungkapkan terdapat delapan dimensi makna bekerja yang berbeda dengan hasil penelitian MOW. Delapan dimensi tersebut adalah sebagai berikut: penerapan pengetahuan, peningkatan ketrampilan dan jaringan sosial, kemandirian dan kesejajaran dengan pria, ibadah dan tanggungjawab sosial, peningkatan status sosial, pemenuhan kebutuhan hidup, jenjang karir, dan pencarian pasangan hidup.

Dari penjelasan di atas, terdapat variasi dimensi makna. Hal ini disebabkan siapa yang memberikan makna tersebut terkait dengan karakteristik individu yang mempengaruhi pemberian makna, tingkat pendidikan, dan sektor bekerja (formal/informal). Sedangkan lingkungan sosial, tugas dalam pekerjaan, dan tujuan hidup nampaknya berperan dalam pembentukan representasi sosial. Maka untuk representasi sosial tentang kerja pada anak jalanan mungkin saja mempunyai dimensi yang berbeda dengan dimensi di atas.

Karakteristik Anak Jalanan

Pengertian anak jalanan adalah anak-anak berusia dibawah 18 tahun, sebagian besar waktunya dihabiskan di tempa-tempat umum untuk mencari nafkah atau berkeliaran, penampilan mereka biasanya kumal, kotor serta tidak terawat dan memiliki hubungan yang kurang dekat dengan keluarga (Depsos, 2006 dan Garliah, 2004).

Anak jalanan memiliki karakteristik sosial seperti warna kulit yang kusam, penampilan yang tidak rapih serta kotor, jumlah anak jalanan lebih banyak laki-laki pada usia 16 sampai 18 tahun dan pada perempuan pada usia 13 sampai 15 tahun, berada ditempat-tempat keramaian dan banyak makanan, sangat rentan mengalami tindak kekerasan dari lingkungan bekerja, berasal dari keluarga yang kurang mampu dengan pendidikan kepala keluarga hanya sampai SD, memiliki hubungan yang kurang baik dengan keluarga, orang tua bukan merupakan orang terdekat bagi anak jalanan, dan penyebab terjadinya anak jalanan dapat dibedakan menjadi tiga tipe berdasarkan faktor ekonomi, keluarga, dan iseng (Sutinah, 2001; Garliah, 2004; Handoyo, 2004; Depsos, 2006 dan Suhartini, 2008).

Selain karakteristik sosial, anak jalanan juga memiliki krakteristik ekonomi yang dapat dilihat dari lokasi bekerja, aktivitas yang dilakukan, kondisi ekonomi keluarga, dan modal untuk melakukan pekerjaan. Lokasi bekerja anak jalanan biasanya berada di pasar, terminal bus, stasiun kereta api, taman-taman kota, daerah lokalisasi WTS, perempatan jalanan atau jalan raya terutama daerah lampu merah (traffic light), di kendaraan umum, dan tempat pembuangan sampah (Depsos, 2006 dan Sutinah, 2001). Aktivitas yang mereka lakukan biasanya hanya membutuhkan sedikit keterampilan dan tidak membutuhkan banyak tenaga seperti, menyemir sepatu, mengasong, menjual koran atau majalah, mencuci kendaraan, menjadi pemulung, mengamen, menjadi kuli angkut, menjadi penghubung atau penjual jasa, bersih-bersih makam, pekerja seks, pencari kerang (di pantai), dan ojek payung (Depsos, 2006 dan Sutinah, 2001).

Biasanya modal untuk melakukan pekerjaannya menggunakan modal sendiri, berkelompok, berasal dari majikan/patron atau pun dari bantuan/stimulan (Depsos, 2006). Modal untuk melakukan pekerjaan sebagai anak jalanan dapat diartikan sebagai alat yang digunakan untuk melakukan pekerjaan. Alat yang digunakan oleh anak jalanan tergantung pada jenis pekerjaan yang dilakukan. Penjelasan lebih lanjut mengenai alat yang digunakan dalam bekerja akan dibahas pada bab perilaku kerja.

2.2 Kerangka Pemikiran

Representasi sosial tentang kerja pada anak jalanan dipengaruhi oleh karakteristik individu dan faktor eksternal. Karakteristik individu meliputi usia, jenis kelamin, status pendidikan, alasan menjadi anak jalanan, status ekonomi keluarga dan status sosial keluarga. Faktor eksternal menyangkut tiga hal yaitu jenis kekerasan, kondisi pekerjaan dan kebijakan pemerintah yang menyangkut keberadaan anak jalanan. Jenis kekerasan menyangkut segala bentuk tindakan yang merugikan dan menyakiti anak jalanan. Kondisi kerja yaitu suatu keadaan dan sifat pekerjaan bagi anak jalanan. Sedangkan kebijakan pemerintah terkait dengan anak jalanan, menyangkut segala peraturan yang mengatur mengenai keberadaan anak jalanan, baik berupa larangan, ancaman, ataupun teguran-teguran yang disampaikan pada saat razia anak jalanan. Perilaku kerja anak jalanan dapat dilihat dari jam kerja, lama anak jalanan bekerja, lokasi anak jalanan bekerja, jenis pekerjaan, dan tipe kelompok kerja anak jalanan

Representasi sosial tentang kerja pada anak jalanan adalah sejumlah image, opini, penilaian, dan keyakinan umum mengenai kerja yang ada pada anak jalanan. Representasi sosial berarti pemahaman bersama tentang suatu hal di kelompok tertentu yang di dalamnya terdiri dari informasi, keyakinan, pendapat, dan sikap. Struktur representasi sosial berupa central core dan peripheral core. Central core ini berperan lebih memusat, berakar pada individu dan merupakan hasil dari sistem nilai yang dibagi bersama oleh anggota suatu kelompok sehingga relatif lebih sulit untuk diubah dibanding peripheral core.

Bentuk pengetahuan dalam representasi sosial pada anak jalanan dapat dibentuk dari komunikasi yang ada di antara anak jalanan. Anak jalanan dapat berkomunikasi satu sama lain tentang pekerjaan yang dilakukannya sekarang melalui informasi, keyakinan, pendapat, dan sikap mereka. Dari hasil komunikasi tersebut maka anak jalanan akan memiliki suatu pengetahuan sosial tentang kerja yang hampir sama di antara mereka. Namun meskipun perubahan pada kebudayaan terasa cukup kuat, namun hal itu tidak akan berarti banyak jika central core representasi seseorang tidak terpengaruh. Jika anak jalanan memiliki representasi sosial tertentu tentang kerja, maka meskipun kebudayaan cenderung berubah selama central core mereka tidak berubah, tetap saja representasi sosial anak jalanan tentang kerja cenderung tidak akan berubah. Perubahan ini mungkin saja hanya akan mengenai peripheral core dari representasi sosial tentang kerja pada anak jalanan.

Representasi sosial merupakan suatu pandangan fungsional yang membiarkan individu atau kelompok memberikan makna atau arti terhadap tindakan yang dilakukannya, untuk mengerti suatu realita kehidupan sesuai dengan referensi yang mereka miliki, dan untuk beradaptasi terhadap realitas tersebut. Dari pengertian ini dapat dikatakan bahwa representasi sosial individu mengenai suatu hal akan mempengaruhi perilaku individu terhadap hal tersebut. Jadi, representasi sosial tentang kerja pada anak jalanan akan mempengaruhi perilaku kerja anak jalanan. Perilaku kerja pada anak jalanan juga dipengaruhi oleh faktor eksternal seperti yang telah disebutkan di atas. Perilaku kerja anak jalanan dapat dilihat dari jam kerja, lama anak jalanan bekerja, lokasi anak jalanan bekerja, jenis pekerjaan, dan tipe kelompok kerja anak jalanan. Secara sederhana penjelasan di atas dapat digambarkan sebagai berikut:

untitled2

Gambar I. Kerangka Pemikiran Operasional

Hipotesa Penelitian

1.Diduga karakteristik sosial ekonomi anak jalanan akan mempengaruhi representasi sosial tentang kerja pada anak jalanan.

2.Diduga representasi sosial tentang kerja pada anak jalanan akan mempengaruhi perilaku kerja anak jalanan.

Definisi Operasional

1.Anak jalanan adalah seseorang yang menghabiskan sebagian besar waktunya di jalanan dan tempat umum lainnya.

2.Usia adalah lama hidup responden dari sejak lahir sampai ketika diwawancarai, kategori yang digunakan adalah:

1) antara 9 hingga 13 tahun 2) antara 14 hingga 18 tahun

3.Jenis kelamin adalah struktur biologis yang ada pada diri anak jalanan. Kategorinya adalah:

1) laki-laki 2) perempuan

4.Status pendidikan adalah pernah atau tidaknya masuk pendidikan formal/nonformal.

Kategorinya adalah:

1) tidak pernah sekolah 2) pernah sekolah

5.Tingkat pendidikan anak jalanan adalah pendidikan terakhir yang dilalaui oleh anak jalanan. Kategorinya adalah sebagai berikut:

1) Tidak sekolah 4) SLTA dan sederajat

2) SD dan sederajat 5) Lainnya

3) SLTP dan sederajat

6.Alasan menjadi anak jalanan dilihat dari motivasi menjadi anak jalanan dan motivator seorang anak menjadi anak jalanan.

7.Motivasi menjadi anak jalanan adalah suatu hal yang menyebabkan seorang anak memilih untuk turun ke jalan. Kategori yang digunakan adalah:

1) Tipe pertama : turun ke jalan karena alasan ekonomi/ mencari nafkah untuk keluarga

2) Tipe kedua : turun ke jalan karena kurang kasih sayang keluarga/ disharmoni keluarga

3) Tipe ketiga : turun ke jalan karena iseng/ menambah uang saku.

8.Motivator menjadi anak jalanan adalah seseorang yang mengajak atau menyuruh seorang anak untuk bekerja di jalanan. Kategoriny adalah sebagai berikut:

1) Orangtua

2) Teman

3) Anggota keluarga lainnya seperti kakak, adik, paman, bibi, dan sejenisnya

4) Lainnya

9.Status ekonomi keluarga dilihat dari tingkat pendapatan orang tua dan jenis pekerjaan orang tua.

10. Tingkat pendapatan orang tua adalah jumlah uang yang didapat oleh orang tua dalam satu bulan terakhir. Dikategorikan:

1) Tidak berpenghasilan

2) ≤ Rp 200.000,00

3) Rp 200.000,00 – Rp 500.000,00

4) Rp 500.000,00 – Rp 830.000,00

5) >Rp 830.000,00

6) Tidak tahu

11. Jenis pekerjaan orang tua adalah aktivitas yang dilakukan untuk mendapatkan uang dalam satu bukan terakhir. Dikategorikan:

1) Bidang jasa, seperti buruh pabrik atau buruh tani, tukang becak, kuli panggul, tukang ojek, pembantu rumah tangga, pemulung dan sejenisnya.

2) Berdagang, seperti pedagang koran, penjual rokok, penjual minuman, berjualan di pasar, dan sejenisnya.

3) Serabutan, tidak memiliki pekerjaan yang jelas waktu bekerja, kadang bekerja-kadang tidak bekerja.

4) Pengemis

5) Pengamen

6) Pemulung

7) Lainnya

8) Tidak bekerja

12. Status sosial keluarga dilihat dari status perkawinan orang tua, keberadaan orang tua, tingkat pendidikan serta tempat tinggal.

13. Status perkawinan orang tua adalah kondisi perkawinan orang tua yang legal baik secara hukum dan agama. Dikategorikan:

1) Menikah 4) Ditinggalkan

2) Cerai 5) Tidak tahu

3) Pisah rumah

14. Keberadaan orang tua adalah apakah orang tua anak jalanan masih hidup atau tidak. Dikategorikan:

1) Memiliki ayah dan ibu 4) Yatim-Piatu

2) Yatim 5) Tidak tahu

3) Piatu

15. Status perkawinan orang tua adalah kondisi perkawinan orang tua yang legal baik secara hukum dan agama. Dikategorikan:

1) Menikah

2) Cerai

3) Pisah rumah

4) Ditinggalkan

5) Tidak tahu

16. Tingkat pendidikan orangtua anak jalanan yaitu pendidikan terakhir yang dilalui oleh orangtua anak jalanan. Dikategorikan:

1) Tidak sekolah 4) SLTA dan sederajat

2) SD dan sederajat 5) Lainnya

3) SLTP dan sederajat

17. Tempat tinggal adalah dengan siapa mereka tinggal. Kategorinya adalah:

1) Bersama orang tua kandung 4) Bersama teman sekelompok

2) Bersama orang tua asuh (angkat) 5) Menggelandang di jalanan

3) Bersama saudara

18. Jenis kekerasan adalah suatu tindakan yang merugikan dan menyakiti anak jalanan seperti dipukul, ditendang, dipalak, diancam, dimarahin, dan pelecehan seksual. Pada variabel ini akan dilihat secara kualitatif.

19. Kondisi kerja adalah suatu keadaan dan sifat pekerjaan yang anak jalanan miliki sekarang. Kondisi kerja akan dilihat dengan menggunakan metode skala perbedaan semantik yang berisikan karakteristik bipolar (dua kutub) dari suatu pekerjaan. Kategorinya ialah sebagai berikut:

1) Menyedihkan – Menyenangkan

2) Keterpaksaan – Kemauan sendiri

3) Penuh resiko – Aman

4) Melelahkan – Ringan

5) Tidak mencukupi – Mencukupi kebutuhan

6) Pekerjaan rendah – Setara dengan pekerjaan lain

Selanjutnya, diantara dua kutub ini akan diberi skor nilai antara 1-5, dimana setiap responden harus memberikan penilaian dengan menggunakan rentangan skor tersebut. Jika skor yang diberikan semakin ke kiri mendekati angka 1 maka dapat disimpulkan bahwa kondisi kerja anak jalanan sangat negatif, dan sebaliknya jika skor yang diberikan semakin ke kanan atau mendekati angka 5 maka dapat disimpulkan bahwa kondisi kerja anak jalanan sangat posisif.

20. Kebijakan pemerintah adalah segala peraturan yang mengatur mengenai keberadaan anak jalanan. Variabel akan dilihat secara kualitatif.

21. Representasi sosial tentang kerja pada anak jalanan adalah sejumlah image, opini, penilaian, dan keyakinan umum mengenai kerja yang ada pada anak jalanan. Dalam representasi sosial terdapat empat elemen yaittu informasi, keyakinan, pendapat dan sikap yang dijelaskan sebagai berikut:

1) Informasi adalah segala pengetahuan yang miliki anak jalanan mengenai kerja

2) Keyakinan adalah suatu hal yang dipercaya mengenai kerja bagi anak jalanan

3) Pendapat adalah suatu hasil pemikiran mengenai kerja yang dikomunikasikan kepada anak jalanan lainnya

4) Sikap adalah kecenderungan respon suka atau tidak suka pada kerja yang hasil akhirnya bisa posistif atau negatif.

Penyusunan instrumen untuk melihat representasi sosial tentang kerja pada anak jalanan melalui beberapa tahap. Pada tahap pertama yaitu yahap pada pra-survei diperoleh 9 kelompok representasi sosial tentang kerja yang dijelaskan sebagai berikut:

1) Untuk kehidupan yaitu bekerja dimaknai sebagai alat untuk bisa bertahan hidup

2) Cari kebebasan yaitu bekerja dimaknai untuk memperoleh kemerdekaan terhadap tindakan apa yang akan diambil, dan bisa mandiri.

3) Cari pengalaman yaitu bekerja dimaknai untuk memperoleh wawasan, menambah pengetahuan tentang kehidupan, dan mengetahui informasi tentang kehidupan jalananan.

4) Cari hiburan yaitu bekerja dimaknai untuk menghilangkan sters, mencari hiburan dan cuci mata,tidak bosan, mencari ketenangan dan memperoleh kesenangan.

5) Cari teman yaitu bekerja dimaknai sebagai wadah untuk mencari sahabat, cari pergaulan, cari persahabatan, kenal banyak orang dan cari pacar.

6) Bantu orangtua yaitu bekerja dimaknai untuk memberi uang kepada orangtua, menambah penghasilan keluarga, dan untuk membantu membeli obat adik.

7) Cari uang yaitu bekerja dimaknai untuk memperoleh atau menghasilkan uang.

8) Untuk makan yaitu bekerja dimaknai untuk bisa membeli makanan untuk dimakan sendiri dan anggota keluarga lainnya.

9) Untuk sekolah yaitu bekerja dimaknai sebagai alat agar bisa melanjutkan pendidikan formal, bisa membeli buku sekolah dan peralatan tulis, bisa membayar sekolah dan bisa menyekolahkan adik.

Representasi sosial tentang kerja pada anak jalanan akan dicari dengan menggunakan kuesioner yang akan dijelaskan pada bab pendekatan lapangan.

22. Perilaku kerja adalah segala aktivitas yang dapat menghasilkan uang. Dalam perilaku kerja akan dilihat dari jam kerja, lama bekerja, lokasi kerja, jenis pekerjaan, dan tipe kelompok kerja.

23. Jam kerja adalah waktu dimana anak jalanan melakukan kegiatan mencari uang. Dikategorikan:

1) 07.00 – 09.00 WIB 5). 15.01 – 17.00 WIB

2) 09.01 – 11.00 WIB 6). 17.01 – 19.00 WIB

3) 11.01 – 13.00 WIB 7). Lainnya

4) 13.01 – 15.00 WIB

24. Lama bekerja adalah waktu yang digunakan oleh anak jalanan untuk bekerja (Tidak termasuk waktu bermain dan rekreasi). Dikategorikan:

1) ≤ 5 jam

2) > 5 jam

25. Lokasi kerja adalah tempat dimana anak jalanan bekerja. Pada penelitian lokasi penelitian dibatasi yaitu di Stasiun Kereta Api Bogor dan Terminal Baranang Siang. Kategorinya adalah:

1) Stasiun kereta api 4) Angkutan umum

2) Kereta api 5) Lampu merah (traffic light)

3) Terminal bus 6) Lainnya

26. Jenis pekerjaan anak jalanan adalah cara-cara yang dilakukan oleh anak jalanan untuk mendapatkan uang. Dikategorikan:

1) Bidang jasa seperti menyemir sepatu, membersihkan mobil, menyapu kereta, menyemir sepatu, dan sejenisnya.

2) Berdagang seperti pedagang koran atau majalah, pedagang asongan, ojek payung, dan sebagainya.

3) Pengamen

4) Pengemis

5) Pemulung

6) Lainnya

27. Tipe kelompok kerja adalah apakah anak jalanan bekerja berkelompok atau tidak. Kategorinya adalah:

1) Sendiri 2) Berdua 3) Lebih dari dua

III. PENDEKATAN LAPANGAN

3.1 Metode Penelitian

Penelitian ini menggunakan metode penelitian survai dengan bentuk penelitian eksploratif. Penelitian eksploratif adalah penelitian penjajagan yang sering dilakukan sebagai langkah pertama untuk penelitian yang lebih mendalam, baik itu penelitian penjelasan maupun penelitian penelitian deskriptif. Melalui penelitian eksploratif ini masalah penelitian dapat dirumuskan dengan jelas dan lebih terperinci dan hipotesa dapat dikembangkan dalam penelitian selanjutnya (Singarimbun dan effendi, 1989). Hal ini dikarenakan belum banyak penelitian mengenai topik seperti ini sebelumnya.

3.2 Lokasi dan Waktu Penelitian

Penelitian ini dilaksanakan di Terminal Baranangsiang dan Stasiun Kereta Api Bogor, Jawa Barat. Pemilihan tempat ini didasarkan wilayah yang strategis bagi anak jalanan untuk mencari uang karena merupakan salah satu tempat keramaian sehingga di daerah ini akan sangat banyak terdapat anak jalanan. Selain itu, pada daerah ini banyak terdapat variasi jenis pekerjaan yang dilakukan oleh anak jalanan mulai dari pengamen, pengemis, tukang sapu, pemulung, pedagang asongan, penjual koran, dan lainnya. Diharapkan dari perbedaan jenis pekerjaan akan terdapat perbedaan karakteristik anak jalanan. Perbedaan karakteristik nantinya akan menghasilkan makna kerja yang berbeda pula, sehingga sangat mendukung atas kebutuhan data yang dibutuhkan pada penggalian makna kerja pada anak jalanan.

Pengumpulan data dilakukan pada bulan April 2009. Pengolahan data dan hasil penulisan laporan selanjutnya dilakukan pada bulan bulan Mei 2009.

3.3 Teknik Pemilihan Responden

Populasi dari penelitian ini adalah anak jalanan yang berada di Terminal Baranangsiang, Stasiun Kerta Api Bogor, Kota Bogor, Jawa Barat. Jumlah responden yang diambil adalah 40 orang. Responden sejumlah 40 orang diambil dengan menggunakan teknik incidental sampling dengan pertimbangan bahwa pada waktu penelitian anak jalanan yang dijadikan responden adalah anak yang berada di daerah tersebut dan sedang melakukan kegiatan mencari uang di jalanan. Untuk memperoleh informasi yang lebih lengkap akan dipilih reponden untuk dijadikan informan. Informan dipilih dua anak jalanan yang memiliki makna kerja yang berbeda, yaitu yang memiliki makna kerja positif dan negatif.

3.4 Teknik Pengumpulan Data

Proses penyusunan instrumen penelitian mengenai makna kerja bagi anak jalanan melalui beberapa tahap. Untuk mengetahui mengenai karakteristik sosial ekonomi anak jalanan dicari dengan menggunakan kuesioner dengan menggunakan pertanyaan terbuka dan tertutup, untuk mengetahui makna kerja bagi anak jalanan menggunakan metode asosiasi bebas dan skala perbedaan semantik, dan untuk mengetahui perilaku kerja pada anak jalanan menggunakan kuesioner berupa pertanyaan terbuka dan tertutup dan panduan pertanyaan dengan melakukan wawancara mendalam, untuk faktor eksternal jenis kekerasan yang dialami anak jalanan dan kebijakan pemerintah yang mengatur mengenai keberadaan anak jalanan dicari dengan menggunakan panduan pertanyaan dengan melakukan wawancara mendalam.

Lebih lenjut mengenai instrumen untuk melihat representasi sosial tentang kerja pada anak jalanan didahului dengan tahap pra-survei. Dimana pada tahap ini mengumpulkan kata-kata mengenai makna bekerja bagi anak jalanan. Hal ini dilakukan untuk memperoleh item-item yang benar-benar hidup pada lingkungan anak jalanan dengan menggunakan metode asosiasi bebas. Metode ini ditempuh dengan cara memberikan sebuah pertanyaan terbuka mengenai representasi sosial tentang bekerja bagi anak jalanan. Jumlah responden yang dibutuhkan pada langkah asosiasi bebas tergantung variasi respon yang didapat. Jika dianggap penambahan responden tidak memunculkan respon baru (hanya berupa pengulangan-pengulangan dari respon yang telah diperoleh sebelumnya) maka penambahan respon dihentikan. Pada penelitian, langkah asosiasi bebas dihentikan setelah responden ke 55. Dari langkah asosiasi bebas diperoleh 100 pernyataan dan kata yang menggambarkan makna bekerja. Selanjutnya, dari 100 kata dikelompokkan menjadi 9 kelompok representasi sosial tentang kerja yaitu untuk kehidupan, cari kebebasan, cari pengalaman, cari hiburan, cari teman, bantu orangtua, cari uang, untuk makan, dan untuk sekolah. Penjelasan mengenai makna kerja ini telah terdapat pada definisi operasional.

Selanjutnya, representasi sosial tentang kerja tersebut disajikan dalam bentuk kuesioner dan dibantu dengan menggunakan kartu bergambar. Dimana kartu bergambar tersebut merupakan ilustrasi terhadap representasi sosial tentang kerja sehingga responden bisa memahami representasi sosial tentang kerja yang dimaksud. Penggunaan kartu bergambar ini dimaksudkan untuk mengurangi bias karena responden belum bisa baca dan kurang mengerti mengenai representasi sosial tentang kerja. Responden akan memilih 3 kata melalui gambar yang dianggap paling mewakili makna kerja akan diberi kode 3, 3 kata melalui gambar yang dianggap paling tidak mewakili akan diberi kode 1, dan 3 gambar lainnya akan diberi kode 2 dan dianggap netral.

Selanjutnya, untuk mengetahui kondisi kerja anak jalanan digunakan metode skala diferensial semantik atau skala perbedaan semantik. Iskandar (2000) seperti dikutip oleh Riduwan (2006) menyatakan bahwa skala perbedaan semantik berisikan serangkaian karakteristik bipolar (dua kutub) yang memiliki 3 dimensi dasar sikap seseorang terhadap obyek, yaitu: potensi (kekuatan/atraksi fisik suatu obyek), evaluasi (hal yang menguntungkan atau tidak menguntungkan dari suatu obyek), dan aktifitas (tingkatan gerakan suatu objek). Pada skala perbedaan semantik, responden diminta untuk menjawab atau memberikan penilaian terhadap suatu konsep atau objek tertentu yang memiliki rentangan skor 1-5 dengan cara memberi tanda (x) pada angka yang sesuai. Skala ini menunjukkan suatu keadaan yang saling bertentangan. Skala yang akan digunakan seperti menyenangkan-menyedihkan, kemauan sendiri-keterpaksaan, aman-penuh resiko, ringan-melelahkan, mencukupi kebutuhan-tidak mencukupi, dan setara dengan pekerjaan lain-pekerjaan rendah. Seperti digambarkan pada tabel berikut:

Menyenangkan

5

4

3

2

1

Menyedihkan

x

3.5 Teknik Pengolahan dan Analisis Data

Data primer yang diperoleh melalui kuesioner dianalisis dengan tabel frekuensi dan tabulasi silang. Tabel frekuensi digunakan untuk mendapatkan deskripsi tentang jumlah responden berdasarkan karakteristik individu yang dimiliki. Untuk faktor eksternal berupa kekerasan yang diterima anak jalanan, kondisi kerja dan kebijakan pemerintah mengenai anak jalanan akan dianalisis secara kualitatif. Pada perilaku kerja yang dicari dengan menggunakan panduan pertanyaan akan dianalisis secara kualitatif.

Data yang diperoleh mengenai representasi sosial tentang kerja akan diolah dengan dmenggunakan SPSS for Windows 7,5 untuk menghasilkan tipologi anak jalanan berdasarkan kesamaan representasi sosial dan karakteristik individu.

Data kuantitatif lainnya diuji dengan menggunakan uji statistik non-parametrik melalaui uji Chi-Square untuk melihat hubungan yang nyata antar variabel dengan data minimal berbentuk nominal. Sementara itu, untuk data berbentuk ordinal dan interval diolah menggunakan uji korelasi Spearman. Data kualitatif yang diperoleh dari wawancara digunakan untuk mendukung data-data dari pengisian kuesioner yang disajikan, diintegrasikan dengan hasil kuesioner lalu ditarik suatu kesimpulan

Daftar Pustaka

Abric, Jean-Claude. 1976. A structural Approach of the social representations: The theory of the the central core. 9th International Conference on Social Representation. Juli 2008. Bali.

Amanaty, Ati. 1997. Makna Bekerja Bagi Karyawati. Skripsi. Fakultas Psikologi Universitas Indonesia. Depok.

Anonim. 2009. www.radar-bogor.co.id . Diakses 13 Maret 2009.

Anonim. 2009. http://ahmadheryawan.com/lintas-kabupaten-kota/kotabogor. Diakses 13 Maret 2009.

Departemen Sosial. 2006. Modul Pelayanan Sosial Anak Jalanan. Jakarta.

Garliah, Lili. 2004. ”Program Intervensi Dalam Penanganan Masalah Anak Jalanan”. Jurnal. Program Studi Psikologi Fakultas Kedokteran. Universitas Sumatera Utara

Handoyo, Eko dkk. 2004. Profil Anak Jalanan Perempuan di Kota Semarang (Kebutuhan, Motivasi dan Aspirasinya). Fakultas Ilmu Sosial Universitas Negeri Semarang.

MOW International Research Team. 1987. The Meaning of Working. London:Academic Press, Inc.

Riduwan, dan Akdon. 2006. Rumus dan Data dalam Aplikasi Statistika untuk Penelitian (Administrasi Pendidikan-Bisnis-Pemerintah-Sosial-Kebijakan-Ekonomi-Hukum-Manajemen-Kesehatan). Ed. Bukhori Alma. Alfabeta. Bandung.

Singarimbun, Masri dan Sofian Effendi. 1989. Metode Penelitian Survai. Jakarta: LP3ES.

Suhartini, Tina. 2008. Strategi bertahan hidup anak jalanan. Skripsi. Fakultas Pertanian Institut Pertanian Bogor.

Sunarto, Kamanto. 2000. Pengantar Sosiologi. Fakultas Ekonomi Universitas Indonesia.

Sutinah. 2001. ”Anak Jalanan Perempuan: Studi Kualitatif Tentang Strategi Mempertahankan Hidup dan Tindak Kekerasan Seksual yang Dialami Anak Jalanan Perempuan di Kota Surabaya”. Jurnal Penelitian Dinamika Sosial volume 2 nomor 3 Desember. Fakultas Ilmu Sosial dan Politik.Universitas Airlangga

Tauran. 2000. Studi Profil Anak Jalanan Sebagai Upaya Perumusan Model Kebijakan. Jurnal Administrasi Negara volume 1 nomor 1.

Waluyo, Dwi Eko. 2000. Karakteristik Sosial Ekonomi dan Demografi Anak Jalanan di Kota Madya Malang. Laporan Penelitian Universitas Muhammadiyah Malang. Dept. Economic and Development Studies.

Lampiran 1. Kuesioner

KUESIONER

REPRESENTASI SOSIAL TENTANG KERJA PADA ANAK JALANAN

DI STASIUN KERETA API BOGOR DAN TERMINAL BARANANG SIANG

Peneliti bernama Galuh Adriana, merupakan mahasiswi Program Studi Komunikasi dan Pengembangan Masyarakat, Departemen Sosial Ekonomi, Fakultas Pertanian, Institut Pertanian Bogor. Saat ini peneliti sedang menyelesaikan skripsi sebagai salah satu syarat kelulusan studi.

Peneliti berharap adik mengisi kuesioner ini dengan lengkap dan jujur, identitas dan jawaban adik dijamin kerahasiaannya dan semata-mata hanya akan digunakan untuk kepentingan penulisan skripsi ini.

Terima kasih atas kesediaan adik mengisi kuesioner ini.

No. Responden :

Nama :

Usia :

Lokasi Wawancara :

Hari/Tanggal Wawancara :

Karakteristik Individu

1. Jenis Kelamin :

1. Laki-laki 2. Perempuan

2. Tempat tinggal sekarang :

1. Bersama orang tua kandung

2. Bersama orangtua asuh

3. Bersama saudara

4. Bersama teman sekelompok

5. Menggelandang di jalanan

3. Apakah sekarang adik masih bersekolah?

1. Ya 2. Tidak

4. Apa pendidikan terakhir adik?

1. tidak sekolah

2. SD dan sederajat

3. SLTP dan sederajat
4. SLTA dan sederajat

5. Lainnya……………………………………………………………..

5. Pada usia berapa kamu mulai menjadi anak jalanan?………………………..

6. Bagaimana status perkawinan orang tua kamu?

1.Menikah

2.Cerai

3.Pisah rumah

4.Ditinggalkan

5.Tidak tahu

7. Apakah kamu memiliki orangtua yang lengkap?

1. Memiliki bapak dan ibu

2. Yatim

3. Piatu

4. Yatim-Piatu

5. Tidak tahu

8. Siapa yang mengajak kamu untuk bekerja di jalanan?

1. Orangtua

3. Teman

3. Anggota keluarga lainnya (kakak, adik, paman, bibi, dan sejenisnya)

4. Lainnya……………………………………………………………………………………………….

9. Berapakah jumlah saudara kandung yang kamu miliki?

1. 0 – 2 orang

2. 3 – 5 orang

3. Lebih dari 5 orang

Keadaan Sosial Ekonomi Keluarga Anak Jalanan

10. Pendidikan terakhir bapak :

1. Tidak sekolah

2. SD dan sederajat

3. SLTP dan sederajat

4. SLTA dan sederajat

5. Tidak tahu

6. Lainnya…………………………………

11. Apakah jenis pekerjaan yang dilakukan oleh bapak sekarang?(boleh lebih dari satu)

1. Bidang jasa

2. Pedagang

3. Serabutan

4. Pengamen

5. Pengemis

6. Lainnya………………………………………………………………………

7. Tidak bekerja

12. Berapa penghasilan bapak per-bulan? …………………………………………

13. Pendidikan terakhir Ibu:

1. Tidak sekolah

2. SD dan sederajat

3. SLTP dan sederajat

4. SLTA dan sederajat

5. Tidak tahu

6. Lainnya…………………………………………………………………………………………

14. Apakah jenis pekerjaan yang dilakukan oleh ibu?

1. Bidang jasa

2. Pedagang

3. Serabutan

4. Pengemis

5. Pengamen

6. Lainnya………………………………………………………………………..

7. Tidak bekerja

15. Berapa penghasilan ibu per-bulan? ……………………………………………

Perilaku Kerja

16. Jam berapa saja biasanya kamu mulai kerja di jalanan?……………………………….

17. Berapa lama biasanya kamu bekerja? (tidak termasuk main-main dan nongkrong)……………………………………………………………………………………………..

18. Jam berapa biasanya kamu selesai bekerja?……………………………………………….

19. Apa saja jenis pekerjaan yang kamu lakukan sekarang?(jawaban boleh lebih dari satu)

1. Bidang jasa

2. Pedagang

3. Pengamen

4. Pengemis

5. Pemulung

6. Lainnya………………………………………………………………………………..

20. Dimana saja lokasi kamu bekerja?(jawaban boleh lebih dari satu)

1. Di terminal bus

2. Angkot

3. Lampu merah

4. Stasiun kereta api

5. Di dalam Kereta api

6. Lainnya……………………………………………………………………………………………….

21. Apakah adik bekerja sendiri atau berkelompok?

1 Tidak tentu

2. Selalu sendiri

3. Selalu berdua

4. Selalu berkelompok (lebih dari dua orang)

Panduan Pertanyaan Untuk Perilaku Kerja (untuk responden)

1. Apakah kamu bekerja setiap hari? Jam berapa saja biasanya kamu kerja di jalanan? Apakah kamu hanya satu kali bekerja dalam sehari/berkali-kali? Mengapa?

2. Jam berapa kamu selesai bekerja di jalanan setiap hari? Bebas atau diatur? Siapa yang mengatur? Mengapa?

3. Dimana saja lokasi kamu bekerja? Pernahkah kamu pindah lokasi? Kenapa?

4. Apa saja yang dikerjakan di jalanan? Apakah kamu bekerja terus-menerus/diselingi dengan istirahat atau bermain? Kira-kira berapa lama waktu yang dibutuhkan untuk beristirahat/bermain?

5. Apa saja jenis pekerjaan yang kamu lakukan? Manakah yang menjadi pekerjaan utama buat kamu?

6. Apakah kamu bekerja sendiri atau berkelompok? Dengan siapa kamu bekerja? Mengapa?

7. Apakah kamu memiliki pekerjaan lain selain bekerja di jalan? Apakah itu? Mengapa kamu masih bekerja selain di jalanan?

Panduan Pertanyaan Untuk Faktor Eksternal (untuk responden)

8. Apakah kamu pernah mendapatkan kekerasan? Seperti apa? Jenis kekerasan apa yang paling sering kamu terima? Kenapa? Siapa yang melakukan?

9. Saat mendapat tindak kekerasan, kamu melawan atau tidak? kenapa?

10. Adakah peraturan dari pemerintah yang membuat kamu tidak bisa bekerja di jalanan? Seperti apa? Apa akibatnya?

Representasi Sosial Tentang Kerja

Dari 9 kata ini, tolong pilih 3 kata menurut kamu yang paling mewakili makna kerja dan 3 kata yang paling tidak mewakili makna kerja.

(Tidak ada benar atau salah pada jawaban yang diberikan)

No.

Representasi Sosial Tentang Kerja

Kode

1

2

3

1.

Untuk Kehidupan

2.

Cari Kebebasan

3.

Cari hiburan

4.

Cari teman

5.

Cari pengalaman

6.

Untuk Sekolah

7.

Bantu orang tua

8.

Cari uang

9.

Untuk makan

Sikap

Berilah tanda (x) pada angka-angka yang sesuai dengan kondisi kerja kamu sekarang.

No.

Kondisi kerja

Skor

Kondisi Kerja

5

4

3

2

1

1.

Menyenangkan

Menyedihkan

2.

Kemauan sendiri

Keterpaksaan

3.

Aman

Penuh resiko

4.

Ringan

Melelahkan

5.

Mencukupi kebutuhan

Tidak mencukupi

6.

Setara dengan pekerjaan lain

Pekerjaan rendah

Informasi

1. Apakah kamu mengetahui tentang aturang seseorang diizinkan bekerja?

1. Ya 2. Tidak

2. Peraturannya seperti apa?

1. <15 Tahun

2. > 15 Tahun

3. Tidak tahu

3. Apakah kamu mengetahui tentang larangan bekerja di jalanan?

1. Ya 2. Tidak

4. Bagaimana bentuk larangannya?

1. Dilarang mengamen/mengemis/berdagang dan melakukan pekerjaan sejenisnya di jalanan karena dapat mengganggu ketertiban umum

2. Tidak tahu

5. Apakah kamu mengetahui, bahwa biasanya di jalanan ada razia anak jalanan?

1. Ya 2. Tidak

6. Kapan biasanya razia tersebut dilaksanakan?

1. 1 Bulan sekali

2. 1 Minggu sekali

3. Tidak tentu tergantung ‘event’

4.Lainnya…………………………………………………………………………….

5. Tidak tahu

Keyakinan

7 Apakah kerja di jalanan itu berbahaya?

1. Ya 2. Tidak

8 Seperti apakah bahanya kerja di jalanan?

1. Mudah terjadi kecelakaann seperti, tersrempet/tertabrak mobil

2. Dipalak oleh preman/orang yang lebih tua/teman

3. Dipukul, ditendang, ditampar dan sejenisnya oleh orang lain/teman

4. Mendapat peleceha seksual seperti dicolek pantatnya (bagi anak jalanan perempuan)

5. Lainnya………………………………………………………………………..

6. Tidak berbahaya

9 Apakah kerja di jalanan terus-menerus itu baik?

1. Baik 2. Tidak baik

10 Apakah yang akan terjadi jika terus-menerus kerja di jalanan?

1. Mengalami gangguan kesehatan

2. Memiliki masa depan yang kurang baik

3. Badan selalu kotor, kumal dan kumuh

4. Memiliki perilaku yang tidak baik seperti bahasa yang digunakan kurang sopan ‘sompral’, menjadi kasar, memakai narkoba bahkan sampai pergaulan bebas

5. Lainnya…………………………………………………………………………

6. Tidak akan terjadi apa-apa

Opini

11 Menurut kamu, apakah bekerja di jalanan itu baik untuk masa depan kamu?

1. Ya 2. Tidak

12 Apakah kamu akan selamanya kerja di jalanan?

1 Ya 2. Tidak

13 Menurut kamu, apakah bekerja di jalanan itu menyenangkan?

1. Ya 2. Tidak

14 Apakah sebenarnya kamu mau bekerja menjadi anak jalanan?

1. Ya 2. Tidak

15 Apakah yang akan kamu lakukan, jika tidak bekerja di jalanan?

1. Sekolah

2. Membantu pekerjaan orangtua di rumah

3. Lainnya………………………………………………………………………

4. Tidak tahu

Panduan Pertanyaan Untuk Informan

1. Apakah kamu bekerja agar bisa bertahan hidup? Kenapa adik lebih memilih kerja di jalanan?

2. Apakah tujuan kamu bekerja untuk mencari kebebasan? Bagaimana hubungan kamu dengan angota keluarga lainnya seperti kakak/adik? Apakah kalian sering berantem? Mengapa? Apakah di rumah ada orang yang menyakiti kamu? Siapa?

3. Apakah kamu bekerja untuk mencari pengalaman hidup atau menambah wawasan? Dalam hal hal apa? Apakah ada manfaatnya buat kamu?

4. Apakah kamu bekerja untuk mencari teman? Apakah kamu senang banyak teman? Apa gunanya teman buat kamu? Apakah kamu sering berantem atau bercanda dengan teman di jalanan? Lebih sering yang mana? Berantem/bercanda? Mengapa? Apakah kamu merasa dendam atau marah kalau kalah berantem?

5. Apakah pada saat bekerja kamu memperoleh kesenangan/hiburan? Seperti apa?

6. Apakah makna bekerja buat kamu adalah membantu orangtua? Mengapa? Apakah kamu suka memberi uang kepada orangtua? Apakah mereka menerimanya?

7. Apakah kamu senang mencari uang? Apakah makna kerja buat kamu mencari uang? Mengapa kamu mencari uang? Digunakan untuk apa uang yang diperoleh? Apakah ada yang ditabung?

8. Apakah makan bekerja buat kamu mencari makan? Apakah orangtua kamu tidak cukup memberi kamu makan?

9. Apakah kamu sekolah? Apakah tujuan kamu bekerja agar bisa bersekolah? Mengapa kamu ingin sekali bersekolah? Apakah kamu pernah ’diledekin’ oleh teman-teman disekolah karena pekerjaan yang kamu lakukan sekarang?

10.Bagaimanakah kondisi kerja tempat kamu mencari uang sekarang? Apakah menyenangkan atau tidak? Mengapa? Apakah aman atau penuh resiko? Mengapa? Apakah pekerjaan yang saat ini dilakukan ringan atau melelahkan? Mengapa? Apakah mencukupi kebutuhan kamu sehari-hari atau tidak mencukupi? Mengapa? Apakah menurut kamu pekerjaan yang dilakukan saat ini rendah atau memalukan dibandingkan pekerjaan yang lainnya? Mengapa?

11.Apakah dengan kondisi kerja kamu sekarang masih tetap ingin bekerja di jalanan? Kenapa?

Ditulis dalam Anak, Bogor, Jawa Barat, Kerja, Representasi sosial, Stasiun, terminal | Dengan kaitkata: , , , , , , | Leave a Comment »

 
Ikuti

Get every new post delivered to your Inbox.